Home » Posts tagged 'pluralisme'

Tag Archives: pluralisme

Toleransi Palsu, Buah Dari Racun Pluralisme

Bismillah …

Toleransi antar umat beragama merupakan slogan yang indah karena memuat pesan-pesan berharga yang diinginkan umat manusia yaitu saling memahami, saling menghargai dan menghormati, serta tidak memaksakan kehendak.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang toleran. Karena itu, Islam tidak memaksakan urusan memilih agama kepada umat manusia, sesuai dengan firman-Nya: “Tiada paksaan untuk masuk ke dalam agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” [QS. Al-Baqarah: 256]

Anehnya, ada kelompok yang mengaku muslim moderat dan terpelajar mempropagandakan konsep toleransi yang jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka kemas konsep tersebut dalam satu paket proyek pluralisme di Indonesia.

Prinsip toleransi yang ditawarkan Islam dan yang ditawarkan pengasong pluralisme sungguh sangat jauh berbeda. Mari cermati perbedaannya di bawah ini.
(more…)

Bedah Film Kontroversi “?” karya Hanung Bramantyo

Pembuka jurnal ini saya copas dari media: Suara Islam, yang mereview wawancaranya Hanung dengan Republika dan media JIL.

Sejauh mana Proses Pencarian atau Pencucian pada diri Hanung Bramantyo hingga ia telah mengaku murtad dan keluar dari Islam dan kemudian membawa pesan “Islam yang menggugat”?

Selamat menyimak.
***********************

Hanung Bramantyo, Sosok Sineas Liberal

“Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi ‘murtad’.”

Entah salah kutip atau salah ketik, dalam wawancara dengan Harian Republika, Rabu (6/4/2011) lalu, sutradara Hanung Bramantyo, menyebut bahwa film terbarunya berjudul “?” (Tanda Tanya), berangkat dari pemahaman Surat Al Mumtahanah ayat 7. Dia mengutip lengkap terjemahan ayat itu. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Terjemahannya benar, tetapi kutipan nomor ayatnya salah. Yang benar ayat itu adalah ayat ke delapan surat al Mumtahanah. Ayat ini digunakan Hanung sebagai titik berangkat pembuatan filmnya yang sarat muatan liberalisme, pluralisme dan mendukung pemurtadan. Uniknya, ayat ini pula yang dijadikan sebagai dasar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menetapkan bahwa Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme bertentangan dengan Islam dan karena itu haram pula hukumnya. Mungkinkah Hanung lebih pintar memahami ayat tersebut dibandingkan para ulama di Komisi Fatwa MUI?. Tentu tidak.

Hanung sendiri dalam wawancara yang sama mengaku tidak mengerti apa itu pluralisme. “Saya tak tahu pluralisme itu apa karena sekarang saya sangat hati-hati dengan istilah seperti itu. Makanya, saya kasih judul film itu hanya tanda tanya” ujarnya. Nyatanya, film garapannya justru sarat muatan pluralisme yang telah difatwa haram oleh MUI.

Bukan kali ini saja Hanung membuat ‘marah’ umat Islam. Sebelumnya pada tahun 2006 dia membuat film bernuansa komunis, Lentera Merah. Bahkan, filmnya berjudul Perempuan Berkalung Surban (2009), malah dinilai sastrawan terkemuka, Taufik Ismail, sebagai film yang memburukkan pesantren dan kiyai. Ketua Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) KH Mahrus Amin mengatakan film tersebut tidak layak ditonton umat Islam. “Film ini mengusung liberalisasi, sosialis, memfitnah pesantren, dan meledek alim ulama,” ujar Kyai Mahrus Amin.

Siapa Sebenarnya Hanung?

Setiawan Hanung Bramantyo adalah pria kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975 silam. Setidaknya dua kali ia terpilih menjadi sutradara terbaik melalui film karyanya. Dalam situs Wikipedia ditulis Hanung pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta namun tidak diselesaikannya. Setelah itu ia pindah ke Jakarta dan masuk di Jurusan Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Menurut pengakuannya, Hanung mengenal dunia teater saat kelas empat Sekolah Dasar, melalui kelompok teater masjid di Yogyakarta. Ia sendiri mengaku berasal dari keluarga Islam yang taat dan dekat dengan kalangan ulama. Ayahnya seorang Ketua Majelis Ekonomi Muhammadiyah di Yogyakarta. Sedang ibunya adalah seorang mualaf, keturunan Cina. Hanung sendiri mengenyam pendidikan dari TK hingga SMA di lingkungan pendidikan Muhammadiyah Yogyakarta. Setiap kali Ramadhan, ia mengaku tidak pernah absen menjadi panitia Ramadhan di masjid di kampungnya. Ia juga sempat beberapa bulan nyantri di Pesantren NU.

Titik balik dari Islam taat menjadi liberal, diakui Hanung terjadi saat sekolah di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. “Tiba-tiba saya menjadi sekuler, sempat menjadi sekuler, pada saat saya duduk di bangku SMA Muhammadiyah”, kata Hanung. Hal itu diakuinya dalam wawancara yang disiarkan langsung oleh KBR68H kerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL), Rabu, 27 Oktober 2010 silam. Transkrip wawancara itu kini masih bisa dibaca di situs JIL [Islamlib.com: Hanung Bramantyo – Agama hanyalah medium].

Saat akan mementaskan sebuah teater di sekolah, Hanung mengaku harus berhadapan dengan sang kepala sekolah. Kepala sekolahnya menganggap teater adalah kegiatan yang tidak syar’i. Apalagi saat itu Hanung akan mementaskan sebuah naskah tentang komunitas para pelacur di bawah jembatan Kali Code. Adegan-adegan yang direncanakan Hanung tidak disetujui oleh Kepala Sekolah, karena dipandang bertentangan dengan Islam. Tetapi Hanung bersikeras. Setelah berdebat dengan sang kepala sekolah, Hanung pun kalah. Ia kecewa.

“Akhirnya ya sudahlah. Kalau memang tidak ada teater, ya sudah. Yang penting saya sudah merasa pernah berbuat sesuatu. Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi ‘murtad’,” akunya.

Contoh ‘kenakalan’ itu diakui sendiri oleh Hanung saat menggarap film Ayat-Ayat Cinta (AAC). Saat itu Hanung justru berada jauh dari Islam. Ia mengaku tidak shalat apapun dan bahkan tidak berpuasa Ramadhan.

“Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan shalat apa pun. Saya tidak shalat. Itu pada saat bulan Ramadhan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya. Jadi saya menisbikan sesuatu yang berada di luar otak. Sementara yang religius itu tidak. Saya tidak percaya itu semua.”, kata Hanung.

Agama menurut Hanung hanyalah sebuah medium (alat). “Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya.”, katanya.

“Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium. Substansinya saya bisa berdialog dengan Tuhan dan menghayati makna dari kata-kata Tuhan itu,” lanjutnya.

Itulah selintas sosok Hanung Bramantyo. Sineas liberal yang telah menghasilkan karya yang banyak bertentangan dengan pemahaman Islam mainstream. Boleh jadi semua itu dilakukan karena ketidaktahuannya tentang Islam atau ia memang membawa misi khusus untuk menyerang Islam melalui film dengan menyusupkan ajaran-ajaran sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Jika tidak tahu dia harus belajar kepada yang lebih tahu, bila berniat jahat ia harus segera bertaubat. Mumpung belum terlambat. (shodiq ramadhan)

************
Saya mengutip pendapat DR Adian Husaini dalam novel KEMI yang mengatakan bahwa “Dosa Pemikiran itu tidak ringan, karena menyebarkan pemikiran yang salah juga berat dosanya, apalagi jika kemudian diikuti oleh banyak orang.”

Jadi, silakan melakukan proses pencarian tapi tetaplah menggunakan prinsip kehati-hatian, karena hati-hati itu adalah hakekat taqwa kepada Allah SWT.

.
Lanjut ke halaman 2:
Tanggapan atas Penyesatan Opini Hanung Bramantyo melalui Dapur Film Community