Home » Posts tagged 'penyesatan opini'

Tag Archives: penyesatan opini

Melawan Propaganda 2+2=5

“Dalam dunia di mana dusta mendunia, berkata jujur adalah tindakan revolusioner” – George Orwell dari “1984”

Bismillah …

Di periode tahun kedua saya ngeblog di WordPress, asisten statistik WordPress.com telah menyajikan Laporan Tahunan 2014 untuk blog ini. Bahwa sepanjang periode tahun 2014, blog ini telah dilihat sebanyak 660,000 kali. Dan 4 dari 5 most viewed dalam periode tersebut adalah bicara tentang media dan jurnalisme.

Banyak tulisan dalam blog ini memang berupaya mengkritisi bagaimana media memberitakan. Salah satu most viewed adalah tulisan yang mengkritisi media TEMPO saat memberitakan praktek suap dalam pengurusan label halal. Saya mencoba memaparkan 7 kejanggalan dalam pemberitaannya yang secara tendensius mendiskreditkan MUI. Yang pada akhirnya TEMPO meralat tulisannya pada edisi berikutnya. Jurnal saya itupun oleh MUI diunggah dalam situsnya. Alhamdulillah, hal yang benar tersampaikan ke masyarakat luas.
(more…)

Teliti Kebenarannya Dulu Dong …!

makan di toilet


Dua hari yang lalu, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang menyesakkan dada di tengah-tengah menikmati bulan Ramadhan ini, yaitu berita dari Detik News (23-07-2013):
Siswa Non Muslim Disuruh Makan di Toilet Karena Ramadhan

Berita ini menukil dari BBCIndonesia.com, yang mengabarkan bahwa para siswa sebuah sekolah dasar di Malaysia diminta untuk tidak makan di kantin selama istirahat siang, memerintahkan siswa non-Muslim makan siang di toilet mandi karena Ramadhan.

Banyak bersliweran di ranah social media yang meneruskan berita ini dengan menertawakan sinis dan tak sedikit yang mencaci maki. Ada juga blogger yang memuat berita tersebut, (untuk menjaga nama baiknya, saya rahasiakan link tulisannya) dan saya telah memberikan komentar di postingannya:

23 Juli 2013 pada 21.31
“Tapi tetap saja perlu diperiksa validitas berita tersebut. Beberapa kali saya menjalani ibadah puasa di Malaysia (Syah Alam, Selangor) tidak pernah menemukan hal yang demikian.”

(more…)

Apakah akan menjadi “Di Balik Frekuensi Jilid II” ?

Edisi: Melawan Penyesatan Opini Media [Part #4]

Setelah dua pemilik media yang juga ketua umum partai politik ditelanjangi habis dalam film “Di Balik Frekuensi”, skandal manipulasi media di Indonesia masih akan terus berlanjut.

Apakah betul RCTI TV dan Indovision TV mulai dirancang untuk menyiarkan secara eksklusif kampanye Partai Hanura?

Silakan simak video “Media & Politik (part 1)” yang menampilkan suara disertai teks tentang arahan dari seorang pria yang diduga kader Hanura. Kader Hanura itu memberikan arahan tentang konten media RCTI dan Indovision, –keduanya milik bos MNC Grup Hary Tanoedoedibjo yang juga merupakan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Hanura–, agar RCTI TV & Indovision TV bisa digunakan sebagai media kampanye Partai Hanura.
(more…)

Film “Wag the Dog”: Ketika Politik & Media Berkolaborasi

Edisi “Melawan Penyesatan Opini Media [Part 3].

:::::
Bagaimana jika produser film handal dan spin doctor kepresidenan bertemu dan bekerja sama untuk meyakinkanmu?
Susah untuk tidak percaya bahwa hasilnya begitu luar biasa.
:::::

Bismillah …

"wag the dog"

Melanjutkan pembahasan tentang “Melawan Penyesatan Opini Media”, kali ini saya ingin berbagi tentang film layar lebar yang pas banget dengan situasi politik dan media saat ini, yang berjudul: WAG THE DOG. Film yang diproduksi tahun 1997 oleh New Line Cinema dan disutradarai Barry Levinson ini mengangkat tema seputar pemilihan presiden Amerika Serikat, dan berbicara tentang keberhasilan proyek rekayasa fakta-sosial yang dilakukan spin doctor kepresidenan AS yang berkolaborasi dengan seorang produser handal film Hollywood.
(more…)

Melawan Penyesatan Opini Media [Part #2]

Mari Belajar Menulis dan Membaca Media…

Dalam penyajian berita di media-media Indonesia, seringkali kita jumpai perbedaan penyampaian isi berita. Bahkan ada media yang terkesan tendensius dan melanggar etika jurnalisme itu menyerang pihak tertentu. Ketidakbenaran informasi yang disampaikan (demi kepentingan yang dibawanya) menjadikan media tersebut tidak lagi independen. Ada sebagian pembaca yang telah terbiasa dengan mudah menemukan kejanggalan – kejanggalan dalam sebuah berita. Namun sepertinya jumlah pembaca seperti itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang termakan opini media yang tidak memegang teguh prinsip-prinsip jurnalisme. Dampak oligopoli kepemilikan media oleh segelintir orang sangat rawan terjadi penggiringan opini secara masal.
(more…)

Melawan Penyesatan Opini Media [Part #1]

Masih melanjutkan pembahasan tentang media di Indonesia dari jurnal sebelumnya: Film “Di Balik Frekuensi” – Manipulasi Media di Indonesia. Pembahasan kali ini lebih menitik beratkan pada contoh kasus penyesatan opini oleh media dan bagaimana publik meresponnya untuk mendapatkan haknya berupa informasi yang valid.

Bagi umat Muslim sudah jelas petunjuknya, QS. Al-Hujuraat ayat 6 menjadi salah satu referensi penting dalam menghadapi ‘badai informasi’. Ayat tersebut menetapkan bahwa kita jangan menelan bulat-bulat informasi / berita yang masuk begitu saja, melainkan harus diperiksa terlebih dahulu. Tentu saja, prinsip ini didahului dengan asumsi bahwa berita tersebut dianggap cukup penting. Bukan berita ghibah (gosip) yang justru menjebak Anda dalam kebangkrutan di akherat, atau berita ramalan yang hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya.
(more…)

Film “Di Balik Frekuensi”: Manipulasi Media di Indonesia

"di balik frekuensi"

Setelah membahas “Indonesia Menuju Budaya Berbohong”, kali ini blog FightForFreedom masih membahas seputar media televisi, dengan me-review sebuah film dokumenter tentang media televisi di Indonesia yang telah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi pemilik media. Sehingga media televisi di Indonesia saat ini sudah menjadi “Tell Lie Vision”.

Tanah, air dan udara, –merupakan sumber daya yang terbatas dan memiliki nilai yang sangat berharga– harus dikuasai negara dan sebesar-besarnya digunakan untuk kepentingan rakyat. Namun sayangnya di Indonesia, frekuensi publik sebagai kekayaan udara dieksploitasi sedemikian rupa oleh para pemilik media (khususnya televisi), dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri tanpa memikirkan kepentingan publik. Benar-benar negara ini sudah terbeli! (more…)