Home » Posts tagged 'joko widodo'

Tag Archives: joko widodo

Politik Balas Budi Yang Membahayakan Negara

Bismillah …

Membaca kolom opini di koran Jawa Pos edisi 19/8/2015, tentang sejumlah relawan yang bakal menjadi duta besar (dubes) RI sungguh bikin saya (dan mungkin juga Anda) mengelus dada.

Imbalan jasa dan hutang budi memang sesuatu yang lumrah dalam politik. Tapi, apa yang dilakukan di masa pemerintahan Jokowi-JK ini sudah sangat berlebihan (bisa dibilang overdosis) dalam menempatkan para relawannya di segala bidang jabatan. Ini menjadi rentan berbahaya dalam konteks kenegaraan, khususnya dalam hubungan internasional. Juga dalam konteks tradisi dalam mengisi jabatan publik menjadi sangat membahayakan.
(more…)

Khilaf Itu Cukup Sekali Saja, Mr President

I don't read what i signKoran The Jakarta Globe, 7 April 2015, halaman 6. [baca e-paper]

Bismillah …

Selamat siang, Pak Jokowi,
sebagai rakyat Indonesia, saya malu membaca berita di koran The Jakarta Globe, edisi 7 April 2015, di halaman 6. Koran berbahasa asing ini tentu mayoritas pembacanya adalah orang-orang asing. Tidak bisa dibayangkan bagaimana mereka bakal memandang harkat dan martabat bangsa kita?

Seumur hidup saya, baru sekali ini mendengar Presiden Republik Indonesia tidak tahu apa yang ditanda-tanganinya. Astaghfirullaah, pak …
(more…)

Film CASUS BELLI dan Pemicu Krisis di Indonesia

Bismillah …

Ada film pendek dari Yunani yang bagus dalam menggambarkan Casus Belli (insiden yang memicu peperangan atau kekacauan), berjudul: CASUS BELLI, karya Yorgos Zois. Film ini pertama kali diputar secara resmi pada “The 67th Venice Film Festival 2010” di Italia, dan telah memenangi berbagai penghargaan dalam festival film internasional. Info lengkapnya bisa disimak di: http://casusbellifilm.com/

Pesan yang disampaikan dalam film ini divisualisasikan secara unik sepanjang durasi 11 menit. Sinopsisnya sebagai berikut:
(more…)

Semantic Game dari Sang Presiden

–: Edisi Pengalihan Subsidi BBM [bagian kedua]

Bismillah …

Ada pernyataan Jokowi yang mengejutkan saya tentang kenaikan harga BBM yang dimuat di koran Merdeka. Saya kutip isinya di bawah ini:

Jokowi: Saya tidak pernah menaikkan BBM
Merdeka | 9/12/2014
.
Merdeka.com – Presiden Jokowi membantah jika dia menaikkan harga BBM. Menurut dia yang dilakukannya itu mengalihkan subsidi dari BBM ke sektor lain. Sehingga sebenarnya tidak ada kenaikan harga BBM. Hal tersebut diungkapkan Jokowi saat memberikan kuliah umum di Balai Senat UGM, Selasa (9/12). Dia pun menuding mahasiswa salah sasaran jika mendemo diri karena menaikkan harga BBM.
.
“Saya itu tidak pernah menaikkan harga BBM. Saya mengalihkan subsidi. Itu jelas sekali beda, jadi mahasiswa itu salah sasaran demo saya karena menaikkan harga BBM,” katanya.
.
Pernyataan Jokowi tersebut sontak mendapat tepukan tangan dari para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa dan akademisi UGM. Alasannya mengalihkan subsidi tersebut pun di klaim mampu memberikan sumbangsih besar dalam pembangunan infrastruktur. Dia mencontohkan pembangunan jalur kereta api.
.
“Subsidi BBM itu Rp 433 triliun, sementara APBN kita 2.039 triliun. Kalau saya menjabat 5 tahun, dan terus subsidi BBM, maka jadinya 1300 triliun dalam lima tahun. Uang sebanyak itu bisa membuat jalur kereta api di Kalimantan, Papua dan Sumatra yang biayanya cuma 360 triliun,” ujarnya.
.
Dia pun menyindir peserta kuliah umum yang banyak menggunakan motor dan mobil. Menurut dia Subsidi BBM selama ini dinikmati kelas menengah seperti peserta kuliah umum.
.
“Lho bener, kalian ini yang naik mobil, naik motor, 70 persen subsidi BBM dinikmati kalian, enak saja,” ujarnya menyindir. Peserta kuliah umum pun tertawa disindir Jokowi.

Ada dua hal yang ingin saya tanggapi dalam berita tersebut, terutama pada kalimat yang saya tebalkan.
(more…)

Pengalihan Subsidi BBM?

Bismillah …

Belum genap sebulan dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden, Jokowi-JK sudah memutuskan kebijakan yang dinilai tidak populis, yaitu menaikkan harga BBM. Berarti apa yang sebelumnya dikatakan Jusuf Kalla benar dan terjadi, bahwa BBM bersubsidi pasti dinaikkan bulan November 2014. Ini berarti Pemerintah kukuh dengan sikap dan pilihan kebijakannya, meskipun ada saran dan kritik yang lebih berwarna ideologis berupa pertanyaan: “Kemana ideologi Trisakti?”

Adalah benar bahwa siapapun yang menjadi presiden RI, opsi pengurangan subsidi BBM akan diambil, karena subsidi dirasa membebani APBN. Bahkan capres Prabowo Subianto pun pernah mengatakan subsidi BBM sama dengan membakar uang. Maka yang utama adalah bagaimana teknik mengelola pengurangan subsidi BBM agar tidak menimbulkan efek domino yang dahsyat yang membebani rakyat banyak, terutama rakyat kecil yang tidak menikmati subsidi BBM. Disinilah seni mengelola negara itu diuji.
(more…)

Menjelang Babak Akhir Sengketa Pilpres 2014

Bismillah …

Besok Kamis, 21/8/2014, akan ada dua putusan penting yang menyangkut pemilihan presiden dan wakil presiden. Di hari itu, Mahkamah Konstitusi (MK) akan memberikan putusan terkait gugatan pemilihan presiden (pilpres) yang diajukan oleh pasangan Prabowo-Hatta. Tidak hanya MK, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) pun akan membacakan putusan terkait dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu yang dilaporkan pula oleh pasangan Prabowo-Hatta.

Pasca perhitungan suara oleh KPU pada bulan lalu, banyak pihak yang meminta pasangan Prabowo-Hatta untuk legowo terhadap hasil perhitungan suara yang dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
(more…)

Pembohongan Publik dalam Alasan Penjualan Indosat

–| Bincang TV-One bersama Kwik Kian Gie dan Marwan Batubara tentang Penjualan Indosat |–

.

Bismillah …

Seperti kita ketahui, pada tahun 2002 aset penting negara, PT Indosat dijual oleh Presiden Megawati dengan harga USD 627 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun (kurs pada saat itu USD 1 = Rp 8.940).

Dalam debat calon presiden (capres) ketiga pada tanggal 22 Juni 2014, capres Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa penjualan Indosat pada periode presiden Megawati itu dilakukan untuk kepentingan ekonomi Indonesia yang saat itu kondisinya masih belum membaik akibat dampak krisis 1998. Jawaban Jokowi tersebut atas pertanyaan yang dilontarkan capres Prabowo Subianto dalam debat bertema “Politik Internasional dan Ketahanan Nasional”. Awalnya, Prabowo merasa ‘terusik’ dengan pernyataan Jokowi yang terus bicara masalah drone sebagai salah satu alat pertahanan, padahal di sisi lain drone tersebut harus dikendalikan oleh satelit, faktanya penjualan satelit (Indosat) sebagai salah satu alat pertahanan di angkasa justru dilakukan di era Megawati yang notabene adalah ketua umum partai pengusung Jokowi.

Pada tanggal 30 Maret 2014, Megawati pernah menjelaskan melalui akun twitter @MegawatiSSP tentang keputusannya penjualan aset Indosat, sebagai berikut:

“Indosat diswastakan untuk menutupi kekurangan APBN, agar investor terpancing kembali ke Indonesia. Krisis sudah terlalu lama, sejak ’98 membebani ekonomi setiap keluarga. Tekad kabinet agar hutang LN tidak bertambah lagi. …
Keputusan yang sulit disaat yang sulit, tapi pemimpin harus berani ambil keputusan. Meski menuai kecaman dan hujatan dari dalam negeri. Ibarat seorang ibu yang merelakan perhiasan kesayangannya demi membeli beras untuk keluarga karena suami sudah lama menganggur. Ibarat seorang ibu, jual perhiasannya demi bayar uang sekolah atau menebus ijazah anaknya. …
Para ahli ekonomi tidak punya solusi yang lebih baik atau hanya bisa teriak dijalanan tanpa solusi. Semua hanya bisa bicara pesimis. Indosat, dll.. saat itu adalah solusi yang bagi negara yang sedang sakit parah. Karena saya yakin dalam 10 tahun harusnya kita dapat membeli kembali.”

(more…)