Home » Posts tagged 'jil'

Tag Archives: jil

Ritual Kaum Liberal ‘Merayakan’ Idul Adha

Bismillah …

Setiap menjelang atau pas Hari Raya Idul Adha, selalu saja bermunculan para pembela HAB (hak asasi binatang). Mereka mengumbar kebencian di media sosial, seolah-olah bicara soal hati nurani, dengan menganggap Idul Adha adalah hari raya pembantaian. Namun ada juga yang menyampaikannya dengan halus mengusulkan memodifikasi bentuk qurban / mengubah syariat-Nya.

Itu semua sudah diprediksi sejak awal syiar Islam. Di antara lafaz takbiran berbunyi: “walau karihal kafiruun, walau karihal munafiquun, walau karihal musyriquun” (walau orang-orang kafir enggan, meski orang-orang munafiq sakit hati, kendati orang-orang musyrik keberatan). Jadi, ya tenang saja lah, .. lanjutkan berqurban, meski kaum liberal sibuk melakukan ritual makan sate sambil berkicau (tweet) menyerang syariat Islam.

Berikut ini sebagian contoh kicauan mereka yang hendak memadamkan cahaya Islam.
(more…)

Toleransi Palsu, Buah Dari Racun Pluralisme

Bismillah …

Toleransi antar umat beragama merupakan slogan yang indah karena memuat pesan-pesan berharga yang diinginkan umat manusia yaitu saling memahami, saling menghargai dan menghormati, serta tidak memaksakan kehendak.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang toleran. Karena itu, Islam tidak memaksakan urusan memilih agama kepada umat manusia, sesuai dengan firman-Nya: “Tiada paksaan untuk masuk ke dalam agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” [QS. Al-Baqarah: 256]

Anehnya, ada kelompok yang mengaku muslim moderat dan terpelajar mempropagandakan konsep toleransi yang jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka kemas konsep tersebut dalam satu paket proyek pluralisme di Indonesia.

Prinsip toleransi yang ditawarkan Islam dan yang ditawarkan pengasong pluralisme sungguh sangat jauh berbeda. Mari cermati perbedaannya di bawah ini.
(more…)

Pandangan Sesat JIL tentang Kaum Sodomite

Bismillah …

Islam telah mengatur bagaimana seharusnya manusia berhubungan seksual. Sebagaimana Islam mengharamkan perbuatan zina dan seluruh jalan yang membawa kepada perbuatan tersebut, maka begitu juga Islam mengharamkan hubungan seks yang tidak normal seperti hubungan sejenis. Perilaku menyimpang ini bertentangan dengan fitrah manusia dimana laki-laki pasangannya adalah wanita. Selanjutnya perilaku ini bertentangan dengan prinsip hifzh al-nasl (menjaga keturunan). Sesuai Sunatullah yang berlaku secara umum dan sampai kapanpun, hubungan sejenis tidak akan bisa menghasilkan keturunan. Anehnya, ada seorang pegiat JIL yang mengaku Islam, Guntur Romli, mengatakan:

guntur romli gay
Ini penyesatan pemikiran, karena “kepunahan” jangan sempit mengaitkan dengan seluruh manusia di muka bumi, tapi tidak adanya penerus generasi keluarga itulah kepunahan, tidak ada penerus anak sholeh penyelamat orang tuanya di akherat kelak.

Kisah kaum Nabi Luth bisa menjadi pelajaran bagi kita. Mereka bergelimang dalam kemungkaran, meninggalkan isteri-isterinya yang baik dan halal itu untuk menuruti syahwat yang menyimpang. Untuk itulah Nabi Luth mengatakan kepada mereka:

“Apakah patut kamu datangi orang-orang laki-laki dan kamu tinggalkan isteri-isteri kamu yang justru dijadikan oleh Tuhanmu untuk kamu? Bahkan kamu adalah kaum melewati batas.” [QS.As-Syu’ara’: 165-166]

Al-Qur’an mengisahkan peristiwa penyimpangan mereka itu dalam QS Hud: 77-81. Allah menyebut perbuatan homoseks sebagai “al-fahisyah” (kumpulan perbuatan kekejian), sehingga perilaku ini dihukumi Haram. Allah berfirman:

“Ingatlah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya, kalian telah melakukan al-fahisyah, yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam ini.‘” [QS. Al-Ankabut: 28]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَا حِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةَ فِي الثَّوْبِ الْوَحِدِ .
و في روية : وَلاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عُـرْيَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عُـرْيَةِ الْمَرْأَةِ .

“Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Tidak boleh seseorang pria melihat aurat pria lainnya, dan tidak boleh seorang wanita melihat aurat wanita lainnya” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 338), Abu Dawud (no. 3392 dan 4018), Tirmidzi (no. 2793), Ahmad (no. 11207) dan Ibnu Majah (no. 661), dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu]

Melihat aurat sesama wanita/pria saja tidak boleh… apalagi menjadi LGBT.

Allah menyindir keras moral mereka lewat firman-Nya:
“Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang pandai?”
Artinya, mereka bukanlah orang yang bertakwa kepada Allah dan tidak pandai.

Seorang cendekiawan liberal mengatakan, “Seorang lesbian yang bertakwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini” (Jurnal Perempuan, Maret 2008). Sungguh pendapat yang kontradiktif. Sebab esensi takwa adalah menaati semua perintahnya dan menjauhi / membenci semua larangan-Nya. Maka perbuatan homoseksual jelas bertentangan dengan sifat takwa kepada Allah. Allah sudah menegaskan, “Ketika saudara mereka Luth berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?'” [QS Asy-Syu’aaraa: 161]

Alangkah aneh, jika ada seorang yang mengaku Muslim, malah gencar mempromosikan perilaku homoseksual. Dan lebih konyol lagi jika usaha itu muncul dari lembaga pendidikan Islam yang menerbitkan buku “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Lebih gila lagi, ada juga pegiat Islam Liberal lainnya, Ulil Abshar Abdalla, seakan-akan menantang tuhannya dengan mengatakan:


Padahal tipikal ucapan seperti itu adalah mengulang ucapan para jahiliyah, lihat QS.An-Naml: 71.
Ust. Fahmi Salim, MA, melalui bukunya “Tafsir Sesat” hal.25, menjawab dengan sangat bagus, sebagai berikut:
Karena Allah SWT telah menetapkan misi kedatangan Nabi Muhammad adalah “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” [QS Al-Anbiyaa’: 107]. Bentuk rahmat Allah setelah diutusnya Nabi Muhammad adalah tidak dijatuhkannya lagi siksa Ammalh yang memusnahkan seperti yang menimpa umat-umat nabi terdahulu karena Allah menginginkan risalah Islam ini kekal dan diterima oleh umat manusia sampai hari Kiamat. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abbas r.a. menafsirkan ayat itu, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat ditetapkan untuknya rahmat di dunia dan akhirat dan siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia dibebaskan dari siksa memusnahkan yang telah menimpa umat-umat sebelumnya” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, vol.5/339).

Wallahu a’lam bish-showab

Iwan Yuliyanto
02.09.2012
—————–
Lanjut ke Halaman 2:
Bagaimana muslim seharusnya menyikapi pengidap homoseksual?