Home » Posts tagged 'entrepreneurship'

Tag Archives: entrepreneurship

Punya Impian Tapi Jangan Lupa dengan Dua Hal

[Entrepreneurship] Mengelola Challenge Dalam Upaya Mewujudkan Impian

Salah satu acara televisi favorit keluarga saya adalah Chatting dengan YM (YM = Ust. Yusuf Mansur). Menjadi favorit keluarga artinya mendiskusikannya bersama istri setelah tayangan usai. Acara ini secara rutin ditayangkan di ANTV setiap hari Kamis dan Jumat, pk 21.30 ~ 22.30.

Dalam episode kemaren yang tayang pada tanggal 14 Desember 2012, mengambil tema: “Kesempatan dalam Kesempitan”, menghadirkan bintang tamu sekaligus teman seperjuangan saya di EU (Entrepreneur University) Batam, Mas Jaya Setiabudi, yang biasa dipanggil Mas J, seorang penulis buku best seller “The Power of Kepepet”, pemilik kampus YEA (Young Entrepreneur Academy) yang menghasilkan banyak entrepreneur muda. Kabarnya, bulan Januari 2013 nanti beliau akan menerbitkan buku yang berjudul “Kitab Anti Bangkrut”.

Berdasarkan kondisinya, kepepet itu ada 2 macam, yaitu: (more…)

The Miracle of Bluffing (Succes Story of Bill Gates)

[Dari blog lamaku: http://fightforfreedom.multiply.com/video/item/22
Posted on Oct 23, ’10 10:16 AM]

Ini adalah cuplikan sebuah film, Pirates of Silicon Valley, dimana diceritakan bahwa Bill Gates (saat itu masih muda banget & culun) berani mendatangi kantor IBM, bertemu dengan para owner untuk menawarkan sebuah solusi bisnis.

Pembicaraan di meeting tersebut antara Bill Gates (BG), Direktur IBM (IBM)
BG: “Kami punya apa yang Anda butuhkan!!”
IBM: “Oke.. itu suatu permulaan”
BG: “Kami tahu IBM harus bangun tempat ini untuk bersaing dengan Apple, dan berpacu untuk membuat personal computer untuk kalahkan mereka. Jadi kami bisa memberimu sebuah sistem kerja”
IBM: “Seperti apa operating sistem yang anda tawarkan”
BG: “Kami memiliki DOS.. Disk Operating System”
(perhatikan adegan pada menit ke-02.59 dan selanjutnya bla..bla..bla.. Bill menjelaskan panjang lebar ttg DOS dan sistem kinerjanya)

Sebenarnya Bill nge-bluffing saat itu, krn kenyataannya ia ngga punya sebuah operating system !, ia bisa menjelaskan itu hanya berdasarkan sebuah imajinasi seakan-akan wujud DOS itu ada dan begitulah cara kerjanya. Maka ya jelas aja.. teman2 si Bill (Paul Allen & Steve Balmer) yg ikut meeting di situ kaget (dalam hati), karena perasaan si Bill ngga pernah ngomongin soal itu dengan timnya, apalagi memiliki sebuah operating system.

Kemudian Direktur IBM bilang: “Baiklah, kalau begitu… besok bawa DOS Anda kemari”

Nah lho… 🙂

Setelah diluar (selesai meeting), teman2nya protes, “Gila loe, Bill, kita khan ngga punya operating system. Kita ngga punya sesuatu untuk ditawarkan. Tamatlah kita”
Bill dg santainya ngejawab, “Ah, loe khan pernah bilang kalo punya teman yg punya OS, kamu beli aja OS-nya dari dia, ntar itulah yg kita tawarin ke IBM. Nah, kamu pergilah ke temanmu sekarang… tawar barangnya berapapun, … udah ngga ada waktu lagi nih, besok kita harus serahin ke IBM”

Berhasilkah?

Besoknya, Bill Gates dan teman-temannya mendatangi lagi kantor IBM mendemokan sistem kerja DOS (yang baru ia beli kemaren) sekaligus membicarakan skema bisnisnya dengan IBM.

Jadi, percaya atau tidak, sebenarnya DOS adalah merek dagang yang diciptakan oleh Bill Gates atas sebuah sistem operasi (OS) yang ia beli dari seorang programmer yang tak diketahui namanya. Kemudian oleh Bill Gates, OS tersebut dijual kembali per-lisensi kepada banyak perusahaan pembuat komputer. IBM adalah perusahaan pertama yang tertarik untuk menggunakan DOS pada produk mereka. Inilah bluffing terindah dalam sejarah Bill Gates yang mengubah sejarah hidupnya menjadi seorang milyuner bersama Microsoft.

Bill Gates terpaksa melakukan bluffing itu karena dalam kondisi kepepet untuk menyampaikan sebuah solusi kepada klien (atau calon klien-nya). Dan bluffing itu menuntun alam bawah sadarnya agar sesuatu yang masih dalam imajinasi itu harus menjadi sebuah kenyataan.

Inilah adegan menarik pada kisah di atas.

Membangun Anak dan Memprogram Masa Depan Keluarga

Dear sahabat bloggers,

Masih ingatkah Anda dengan Fahma Waluya dan Hania Pracika?
Ya, mereka anak dari pasangan Pak Yusep Rosmansyah dan Ibu Yusi Elsiano, adalah teknopreneur cilik yang perjalanannya ketika mengharumkan nama Indonesia pernah saya posting di Jurnal 1, Jurnal 2, dan Jurnal 3. Perjalanan yang kutulis di saat saya menjadi satu rombongan dengan mereka sebagai delegasi dari Indonesia di ajang APICTA (Asia Pacific ICT Alliance) 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sejalan dengan pertumbuhannya, ternyata prestasinya makin bertambah. Bayangkan, duet kakak beradik, Fahma (kelas 1 SMP), Hania (kelas 1 SD) di usia dini itu sudah mampu menorehkan banyak prestasi, seperti di bawah ini:
(more…)

[Amazing!] Penderita Lumpuh Otak itu berhasil menjadi Top Salesman !

Bismillah …

Lumpuh otak (cerebral palsy, CP) adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir.

Penyebab lumpuh otak sampai saat ini belum dapat dipastikan, banyak orang beranggapan bahwa CP disebabkan oleh karena:
– Bayi lahir prematur sehingga bagian otak belum berkembang dengan sempurna.
– Bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen saat dalam kandungan.
– Adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak.

Lantas, bila seseorang menderita penyakit kelumpuhan otak sehingga mengakibatkan syaraf-syaraf lainnya terganggu, apakah juga kemudian masa depan perjalanan hidupnya bisa dikatakan suram?
Tidak juga.
(more…)

Salesman, jangan pernah menyerah !

Ketika saya mengadakan biz-trip ke Bandung beberapa waktu lalu (dalam rangka pertemuan bisnis dengan PT. Telekomunikasi Indonesia), Alhamdulillah, malam sebelum pertemuan itu, saya bisa berkesempatan untuk kopdar dengan beberapa teman dari MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia) yang berada di Bandung. Kami kopdar di The Valley – Bistro Cafe, Komp. Dago Pakar (Dago Highland), sambil menikmati pemandangan malam dari puncak bukit.

Ketika berkumpul di sana, masing-masing dari kami saling sharing tentang success story dan kiat-kiat sukses menjalin kemitraan bisnis. Kebetulan ada diantara yang ikut kopdar itu telah bermitra dengan Telkom sebelumnya. Sehingga malam itu kujadikan ajang berguru pada senior 🙂

Terkait dengan peristiwa yang barusan saya alami di perusahaan, tiba-tiba ingatan saya langsung tertuju pada sebuah kisah yang pernah disampaikan oleh kawan saya, Indra Purnama. Beliau adalah owner dari sebuah perusahaan software developer di Bandung, beliau juga salah satu dari pemilik usaha rumahtawa (hotel, guesthouse, dan homestay). “rumahtawa” itu kependekan dari “rumah taman siswa” 🙂

Indra dalam kopdar tersebut menceritakan kisah yang menarik tentang (alm.) Cacuk Sudarijanto. Cacuk adalah mantan Menteri Restrukturisasi Ekonomi Nasional di era Presiden Gusdur, mantan kepala BPPN, dan sebelumnya pernah menjabat Dirut PT Telkom pada sekitar 1990-an, juga pernah menjabat sebagai Dirut Bank Mega.

Sepertinya Indra sudah terinspirasi ketika mobil kami melewati kampus ITB ketika dalam perjalanan menuju The Valley (Dago Highland), saat itu ia menyebutkan beberapa tokoh Indonesia yg jebolan ITB, salah satunya Cacuk. Indra sendiri alumni ITB.

********

Fokus kisahnya adalah sewaktu Cacuk masih menjadi tenaga sales-nya IBM.

Ceritanya begini, saat itu, Cacuk berusaha menjual sistem komputer keluaran terbaru kepada Garuda Indonesia Airways (GIA). Ia begitu bersemangat untuk bisa mendekati Dirut GIA saat itu, Wiweko Soepono, karena jelas pengambilan keputusan berada di tangannya. Namun fakta yang dihadapi adalah: Wiweko itu susah banget didekati, apalagi oleh orang-orang IBM. Mengapa? Karena Wiweko merasa antipati terhadap perusahaan IBM 🙂

Sebagai sales yang handal, Cacuk mati-matian menempuh berbagai cara untuk bisa bertemu langsung dengan Wiweko, agar bisa menawarkan produk IBM-nya. Ia paham bahwa untuk saat ini Wiweko sangat sulit untuk ditemui secara formal. Berbagai strategi ia analisa. Dan akhirnya ia menemukan cara yang jitu. Apakah itu?

Baiklah, simak baik – baik …

Keesokan harinya Cacuk mulai melaksanakan rencananya. Ia melakukan PDKT dengan sekretaris Wiweko. Lho kok? Ya.. karena sekretaris itu yang paling tahu soal jadwal orang nomor satu di Garuda tsb. PDKT dilakukan secara intens tiap hari dan profesional tentunya. Ya jelas dong… supaya gak kebablasan :))

Hingga suatu Hari, Cacuk berhasil mendapat informasi dari sekretaris itu bahwa Wiweko akan melakukan perjalanan ke Frankfurt, Jerman.

Mendengar informasi ini, Cacuk segera melaksanakan strategi berikutnya. Ia berusaha meyakinkan boss IBM untuk membiayai penerbangan ke Frankfurt p.p., demi bisa bertemu dengan Wiweko. Ia memaparkan confidence level keberhasilan upayanya plus manfaat yang luar biasa ke depannya kalo berhasil. Dan akhirnya sang boss menjawab:

“Cacuk, saya setuju kamu menemuinya, namun perusahaan hanya membiayai tiket pesawat p-p., tidak ada uang saku, dan selebihnya menjadi tanggungan kamu sendiri, karena inisiatifmu ini adalah diluar anggaran”

Singkat cerita… terbanglah Cacuk dengan pesawat yang sama ditumpangi Wiweko menuju Frankfurt. Dan ia berhasil mendapatkan tempat duduk kelas bisnis di dekat Wiweko. Karena Cacuk yakin hanya dengan cara inilah ia ingin ngobrol dengan Wiweko.

Berhasilkah ngobrolnya?

He he he… ternyata sepanjang perjalanan Wiweko tertidur. Cacuk sempat bingung dengan situasi seperti ini, karena kesempatan ngobrol yang ia miliki hanya ada di dalam pesawat. Ia tidak mempunyai rencana untuk stay di Frankfurt. Kemudian, ia terus memperhatikan targetnya itu dan menunggu saat yang tepat untuk ngomong.

1 jam berlalu, Wiweko masih tertidur.

2 jam berlalu, Wiweko juga masih tertidur pulas. Cacuk mulai gelisah.

4 jam belalu, Wiweko juga masih lelap tidurnya.

Cacuk semakin gelisah. Dan ia tetap siaga, sambil berdoa agar keberuntungan menghampiri situasi ini.

Hingga beberapa saat kemudian, Wiweko terbangun dan menuju ke toilet. Melihat hal ini, Cacuk mengangap inilah moment of truth. Sekeluarnya dari toilet, dicegatlah Wiweko sebelum kembali lagi ke tempat duduk.

”Pak Wiweko, perkenalkan saya Cacuk dari perusahaan komputer yang paling dibenci Bapak, senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, ini kartu nama saya” ujar Cacuk sambil memberikan kartu nama.

Cukup singkat apa yang Cacuk sampaikan, tidak ada kalimat lagi setelah itu, namun Cacuk puas bisa menyerahkan kartu namanya secara langsung kepada orang nomor satu di Garuda yang kemudian juga dikenal sebagai Bapak Perintis Penerbangan Nasional.

Begitu mendarat di Frankfurt, Cacuk langsung menuju tempat keberangkatan untuk balik kembali ke Jakarta saat itu juga.
Ingat, perusahaan hanya membiayai tiket pesawat p-p 🙂

Beberapa hari kemudian, Cacuk melancarkan strategi berikutnya. Ia menelepon sekretaris Wiweko, apakah Wiweko masih menyimpan kartu namanya. Setelah mendapat kepastian dari sekretaris Wiweko, bahwa bosnya masih menyimpan kartu namanya, maka Cacuk meminta sekretaris itu mau menjadwalkan pertemuannya dengan Wiweko. Dan Wiweko menjawab bersedia.

Agar tidak menyia-nyiakan momen yang sangat berharga ini, kemudian diajaklah orang-orang top dari IBM Asia Pasific. Ketika berada di ruang pertemuan, Wiweko yang tidak suka basa-basi itu membuka perbincangan dengan kalimat:

“Don’t talk about hobby, weather or family. Let’s talk about business!”

Cacuk yang cukup lama mempelajari karakter Wiweko tahu betul bahwa sebagai mantan pilot, Wiweko tergolong sebagai technology enthusiast. Maka, dijelaskannya spesifikasi produk IBM terbaru itu dengan detailnya. Cacuk mengatakan bahwa sistem komputer ini adalah sistem terbaru yang belum pernah digunakan oleh perusahaan lain di Indonesia. IBM memberi kesempatan pada Garuda untuk mengimplementasikan teknologi ini. Singkat cerita, Garuda kemudian membeli sistem komputer terbaru yang ditawarkan IBM.

Kepiawaian Cacuk di ruang meeting mengingatkan saya dengan Bill Gates yang mampu menaklukkan para petinggi IBM.
Kisahnya di sini: Bluffing (bohong)-nya Bill Gates merubah imajinasi menjadi kenyataan

Moral cerita:
(1)Sabar dalam membangun relationship adalah kunci sebuah bisnis.

Membangun relationship itu perlu kesabaran. Seperti yang dilakukan Cacuk ketika mulai mendekati sekretaris orang nomor satu di Garuda itu. Cacuk sabar melakukan follow up yang dilakukan hampir setiap hari yang tentu saja dengan cara yang kreatif dan berbeda, sehingga tidak menimbulkan kebosanan dari yang dituju. Atau istilahnya 4L: Lu Lagi Lu Lagi 🙂

(2). Tenaga penjual harus menguasai product dan customer knowledge.

Dalam memasarkan, pendekatan knowledge-based selling itu perlu. Bukan hanya meyakinkan manfaat produk, tetapi mengedukasi konsumen itu juga menjadi keharusan. Cacuk berani menemui orang nomor satu Garuda itu tentunya karena telah menguasai hal itu, sehingga tidak ada kesan keder atau nervous karena minim ilmu.

(3). Mengidentifikasi karakteristik pengambil keputusan.

Cacuk cukup lama mempelajari karakter Wiweko yang tergolong sebagai technology enthusiast. Maka, dalam memaparkan produknya, Cacuk menyampaikan keunggulan produknya dengan detail dan teknis banget.

(4). Mengidentifikasi karakteristik konsumen.

Mengetahui karakteristik konsumen juga penting, apakah yang satu memberikan tingkat keuntungan yang sama dengan lainnya. Karakteristik konsumen bisa dibedakan menjadi most valuable customer (MVC), most growable customer (MGC), below zero customer (BZC). Pemimpin IBM menyetujui ide gila Cacuk untuk bertemu pemimpin tertinggi Garuda di dalam pesawat, dan mendatangkan tim ahli nomor satu ketika diundang presentasi itu karena sudah mempertimbangkan bahwa pendekatan yang dilakukan itu cocok untuk most valuable customer (MVC).

(5) …. ada yang ingin menambahkan?

Bila ada pelajaran lainnya yang bisa ditambahkan dalam moral cerita di atas, silakan menuliskan di kolom komentar 🙂

Terimakasih.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
03.06.2011

Apakah Motivasi Terbesar ?

KEPEPET -vs- IMING-IMING

Ada 2 sebab yg membuat orang tak tergerak untuk berubah. Yang pertama adalah impiannya kurang kuat, yang kedua tidak kepepet. Dua hal tersebut yang seringkali disebut orang sebagai motivasi. Kesalahan fatal yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun trainer motivasi lainnya adalah hanya menggunakan impian sebagai ‘iming-iming’ untuk menggerakkan audiens. “Apa Impian anda? Siapa yang impiannya punya mobil mewah? Rumah mewah? atau bahkan kapal pesiar?” Memang, saat di ruang seminar, mereka sangat terbawa dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi masalahnya, sepulang dari seminar, mereka dihantam kemalasan, mungkin juga halangan-halangan bahkan seringkali oleh orang-orang yang mereka sayangi. Apa jadinya? Mereka tetap diam ditempat.

Contoh yang kedua, ada seorang salesman yang bekerja di suatu perusahaan. Seperti perusahaan lainnya, mereka menerapkan sistem bonus. “Jika anda mencapai target yang telah ditentukan, maka anda akan mendapat bonus jalan-jalan keluar negeri!”, kata managernya. “Gimana, semangat?” lanjut manager berinteraksi. “Semagaat..ngat..ngat!” sambut salesman, sambil mengepalkan tangannya seolah siap tempur. Bulan demi bulan pun berlalu tanpa pencapaian target. Kemudian si manager bertanya,“Apa bonus yang aku tawarkan kurang besar?”. Jawab salesman, “Enggak kok, pak, cukup besar, mudah-mudahan bulan depan tercapai, pak”. Setelah 3 bulan masa ‘iming-iming’ tak berhasil, si manager mulai mengubah strategi. Dia berteriak agak menekan di dalam meetingnya, “Pokoknya, jika anda tidak bisa mencapai target penjualan yang sudah saya tetapkan, anda saya PECAT!”. Nah, keluarlah keringat dingin si salesman. Sekeluar dari ruangan dia langsung menyambangi calon-calon customernya, kerjanyapun semakin giat. Malas, malu, nggak pe-denya hilang seketika. Kok bisa? Karena KEPEPET ! Yang dia pikirkan, jika dia tidak dapat memenuhi target, dia akan dipecat. Jika dipecat, penghasilannya akan nol. “Trus anak istriku makan apa?” pikirnya. Anehnya, target penjualan yang selama ini tidak pernah tercapai, bisa juga terlampaui. Itulah yang disebut The Power of Kepepet.

97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena iming-iming. Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa “Kondisi Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia!”. Banyak perusahaan mengkampanyekan Visi besarnya kepada seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? “Emang gua pikirin!”. Bukannya salah karyawan yang tidak peduli terhadap visi perusahaan, tapi karena visi itu tak terlihat oleh karyawan. Mereka lebih termotivasi oleh sesuatu yang berupa ancaman, baik situasi dimasa mendatang ataupun berupa punishment. John P. Kotter (Harvard Business Review) mengemukakan “Establishing Sense of Urgentcy” adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam suatu organisasi. Dengan melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan krisis, membuat mereka tergerak, sebelum mengkomunikasikan visi. Fungsi Visi adalah memberikan arah, sedangkan The Power of Kepepet yang mendorong untuk bergerak.

MENCIPTAKAN KONDISI KEPEPET

Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka yang ‘kepepet’ sebelumnya. Seperti pegas, saat kita tekan, maka akan menimbulkan gaya tolak yang lebih besar. Trus, apa yang harus kita lakukan? Cara pertama untuk mengeluarkan ‘potensi kepepet’ kita, dengan cara menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi kepepet, maka kita akan memfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita, bekerja secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini Anda di-PHK, apa yang Anda rasakan?

Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara fisik. Misalnya dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan membuat kita termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga kita terima orderan langsung, meskipun usaha belum mulai. Ada juga yang memberanikan diri membayar DP (uang muka) sewa ruko/ kios, setelah itu terpaksa berpikir bagaimana melunasinya. Jika Anda masih single dan tidak punya tanggungan keluarga, mungkin Anda mau langsung mencoba keluar kerja dan mulai usaha?! Semua itu pilihan Anda lho, jangan salahkan saya untuk risikonya. Tergantung dari karakter masing-masing orang. Saya menempuh cara yang terakhir, cukup konyol, tapi berhasil. Namun jangan lupa, Integritas dan Kredibilitas tetap harus dijaga.

(sumber: buku “The Power of Kepepet by Jaya Setiabudi)

Ingin tahu lebih detail ilmu “The Power of kepepet” ?
Dalam rangkaian roadshow di 40 kota,
seminar the power of kepepet hadir di batam

Acara akan di adakan pada :

Hari / tanggal : Minggu, 06 Desember 2009.
Pukul : 16.00 ~ 20.00 WIB
Tempat : Novotel Hotel Batam
Pembicara : Mas Jaya Setiabudi
MC / Singer : Roni Waluya (ex. Kahitna)
Harga Ticket : Umum Rp 200.000,-

Mahasiswa Rp 75.000,- ( harus menunjukkan Kartu Mahasiswa).

Dari Warung Gerobak menjadi Rumah Makan beromzet ratusan juta


Foto di atas yang diambil sepuluh tahun lalu, tampak berbeda ketika saya bertemu dengannya di sebuah kelas EU (Enterpreneur University) beberapa minggu lalu di Batam. Sekarang ia tampak lebih muda dan energik, layaknya motivator, memang ia sekarang sudah jadi pembicara di mana-mana atas keberhasilannya.
Berbekal ijazah SMA, Agus Pramono (akrab dipanggil Mas Mono) mengawali perjuangannya dengan menjadi office boy dan jualan roti pisang keliling. Namun hanya berselang delapan tahun ia mampu menjadi juragan ayam bakar yang omsetnya ratusan juta perbulan. (more…)