Home » Posts tagged 'bisexual'

Tag Archives: bisexual

Makar ‘Kaum Sodom’ Bertopeng HAM

LGBT

Bismillah …

Melanjutkan artikel sebelumnya, ketika “hak asasi manusia” LGBT untuk menikah dilegalkan oleh negara, yang terjadi justru memberangus hak-hak fundamental mayoritas warganya. Bagi yang ketinggalan mengikuti, silakan terlebih dahulu membacanya. Ada surat dari seorang anak dewasa yang dibesarkan oleh orang tuanya yang gay di negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Miris.

Di Indonesia, kelompok LGBT dan aktivis pendukungnya menuntut pemerintah melegalkan pernikahan sesama jenis dengan dalih untuk mengikuti perkembangan zaman, modernisasi, dan tuntutan hak asasi manusia. Namun karena telah mendapat penentangan keras dari berbagai pihak, tuntutan legalisasi same-sex marriage kini dibungkus dengan sangat halus. Isunya kemudian dikemas seolah-olah ada pelanggaran HAM. Itulah gay politics. Dengan tagline “Indonesia Tanpa Diskriminasi”, secara masif mereka bersuara di berbagai media sosial, ruang seminar, goes to campus, aksi simpatik, pawai keliling dengan membawa isu diskriminasi dan pelanggaran HAM terhadap kaum LGBT.

Sesungguhnya HAM yang mana yang dilanggar oleh negara terhadap kaum LGBT ini? (more…)

Pernikahan Sesama Jenis Mengikis Hak Fundamental

Same Sex Marriage

| Bagian Pertama

Bismillah …

Pelegalan pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat pada Juni 2015 yang lalu disambut euforia oleh para pelaku LGBT dan para aktivis pendukungnya di seluruh dunia. Mereka beranggapan pelarangan pernikahan sesama jenis merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) karena mencintai dan hidup bersama dalam bingkai pernikahan, meskipun sesama jenis, adalah hak.

Lantas bagaimana kondisi masyarakatnya kini yang negaranya melegalkan pernikahan sesama jenis?
Apakah menjadi lebih baik dan tidak ada lagi pelanggaran HAM?
Nyatanya, pelegalan ini justru mengikis hak-hak fundamental. Seperti halnya fenomena sebuah gunung es, begitu tampak indah gunung dan pelangi di atas permukaan laut, padahal sebenarnya banyak permasalahan yang tidak tampak di dalamnya.

Pada bagian pertama ini, mari melihat bagaimana kondisi nyata di Inggris dan Kanada.
(more…)

Jagalah Hati, Jangan Kau Nodai | #LGBT

only you

Bismillah …

Melanjutkan kembali pembahasan tentang pandangan pengunjung blog yang menjawab pandangan dari mereka (komentator) yang pro atau pelaku LGBT. Edisi sebelumnya: Menyikapi Pilihan Bebas.

Diantara ratusan komentar untuk jurnal Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’, ada pandangan yang menarik dan layak untuk dibagi di sini. Pandangan tersebut berasal dari ibu Onya, pegiat #IndonesiaTanpaJIL, yang menanggapi komentar Pak Marco yang pro / pelaku LGBT.

Sebelumnya, Pak Marco menulis komentar berikut ini: [jejak komentarnya]
(more…)

‘Salah Kaprah’ Pendidikan Gender

BIARKAN PEREMPUAN BERLARI SEPERTI PEREMPUAN
‘Salah Kaprah” Pendidikan Gender
Republika, 19 Juni 2015

Oleh: Dr. Erma Pawitasari, M.Ed
Dosen Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Di masa lalu, orang tua memotivasi anak laki-laki agar tegar, kuat, cekatan, dan terampil melebihi perempuan karena laki-laki adalah pemimpin dan pelindung perempuan. Perempuan diberi keleluasaan menjalani fitrah keperempuanannya: berdandan cantik, bergaun anggun, bersikap gemulai, berlindung di balik kejantanan laki-laki, melahirkan anak-anak, dan mengurus rumah tangga. Hari ini, perempuan justru dibuat malu berperilaku seperti perempuan.

Padahal, penelitian memang menunjukkan perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan: perempuan lebih memahami isyarat terselubung, cenderung enggan berbeda pendapat, lebih patuh aturan, lebih ekspresif, lebih ingin tahu urusan orang, dan lebih membutuhkan pujian. Laki-laki lebih fokus dalam menyelesaikan tugas, bertanggung jawab selaku pemimpin, lebih termotivasi secara internal [Eagly & Wood, 1991]. Perempuan memiliki angka lebih tinggi dalam dimensi Neuroticism yang meliputi kegelisahan, marah, depresi, rasa malu, dan faktor-faktor emosi lainnya. Dalam dimensi Interpersonal Traits, laki-laki lebih menunjukkan ketegasan dan dominasi sedangkan perempuan lebih menunjukkan kehangatan, kepatuhan dan kasih sayang [Costa Jr.,dkk, 2001]. Laki-laki cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Perempuan cenderung ekstrovert, mudah gelisah, mudah percaya, dan mengasihi [Feingold, 1994].
(more…)

Straight Pride!

Straight Pride

Bismillah …

Beberapa jam yang lalu pendiri Facebook, Mark Zuckerberg mengapresiasikan atas keberhasilan (kemunduran?) pemerintahnya, Amerika yang Jumat 26 Juni 2015 kemarin membuat keputusan atas sah-nya pernikahan sesama jenis.

Keputusan ini disahkan oleh Pengadilan Tinggi AS dan sudah resmi berlaku di 50 negara bagian Amerika Serikat. Sampai-sampai Gedung Putih (White House) eksekutif terlihat semarak dengan warna pelangi, yang merupakan simbol kebanggaan kaum gay.
(more…)

Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’

Gay

Bismillah…

Jurnal ini tambahan penjelasan tentang runtuhnya teori ‘Gen Gay’ pada jurnal sebelumnya: Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak.

Kaum homoseksual yang didukung aktivis liberal di negeri ini sudah mulai berani unjuk diri di berbagai media guna memperjuangkan cita-citanya, yaitu pernikahan sesama jenis diakui secara hukum. Dengan dalih HAM dan alasan genetis bahwa orientasi homoseksual adalah karena faktor keturunan berdasarkan penelitian yang melahirkan teori ‘gen gay’ atau ‘born gay’ (sifat bawaan yang ada pada kalangan yang kemudian menjadi pembentuk karakter gay pada seseorang). Dari sini lahir propaganda yang sering kita dengar misalnya: “Adalah keputusan Tuhan untuk menjadikan kami gay” atau “Gay adalah akibat kelainan genetika, kami tidak akan bisa mengubah itu”.

Sebenarnya, validkah teori ‘gen gay’ tersebut?
(more…)

Fenomena Anak Hobi Menyodomi Anak-Anak. Bagaimana Masa Depan Bangsa?

Bismillah …

Jurnal ini mengupas jawaban atas pertanyaan quiz: Mahalnya Kelalaian, yang dikemas dalam sebuah flash fiction. Terimakasih kepada para sahabat blogger yang telah mencoba menjawab quiz: “Apa saja kekuatiran bu Desi terhadap putranya?”. Bagi yang belum pernah membacanya, silakan buka jurnal tersebut agar bisa connect dengan pembahasan di bawah ini.

Flash fiction tersebut terinspirasi dari berbagai kisah nyata tragedi pelecehan seksual anak yang pelakunya juga masih anak-anak, dengan modus yang hampir sama. Silakan menyimak sebagian kasusnya di bawah ini: (more…)