Home » Media & Journalism (Page 2)

Category Archives: Media & Journalism

Advertisements

Netizen Dudul

Bismillah …

Bila Anda mempunyai akun Twitter atau Facebook, pernahkah pengen mengetahui sebenarnya berapa sih pembaca dari follower Anda yang meng-klik link berita yang Anda sertakan dalam status / twitmu?
Kalau di Twiiter ada fitur analisanya, entah ya kalau di Facebook, ada yang tahu?

Nah, kalau di Twitter, Anda bisa memanfaatkan fitur “Analytic”, dan hasil analisa dari fitur tersebut bisa di-ekspor ke dalam bentuk Excel. Contoh tampilan analisa untuk sebuah twit adalah sebagai berikut:

link twitter analytic
(more…)

Advertisements

Framing : Cara Media Memanipulasi Informasi

Bismillah …

Dalam jurnal terdahulu, saya sajikan tentang Sepuluh Elemen Jurnalisme, dimana kita bisa belajar bagaimana suatu media massa seharusnya menerapkan Kode Etik dan Prinsip Jurnalistik. Meski media secara disiplin menerapkannya, bukan berarti berita yang disajikan bisa dipercayai begitu saja. Sebab ada strategi media untuk menggiring opini pembaca, pendengar, atau pemirsa. Salah satu strategi tersebut adalah framing berita.

(more…)

One Hundredth of a Second | Etika Dalam Foto Jurnalisme

Bismillah …

Film pendek: “One Hundredth of a Second” yang berdurasi 6 menit karya Susan Jacobson dan Alex Boden ini telah memperoleh penghargaan di Eropa sepanjang tahun 2006 – 2007.

Berkisah tentang Kate, seorang jurnalis foto yang mempunyai talenta dan ambisius.

Suatu ketika ia berada dalam situasi yang menegangkan di dalam zona perang Eropa Timur. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada gadis kecil yang berlari di tengah-tengah kekacauan perang. Bagi seorang jurnalis foto, fotografer atau siapapun, adanya anak atau gadis kecil yang berada di area peperangan adalah momen yang tidak boleh terlewatkan untuk diabadikan. Begitu juga dengan Kate yang baru meniti karir sebagai jurnalis foto, ia pun kemudian lebih banyak fokus memotret gadis kecil tersebut, dan mengikuti kemanapun perginya. Kate berharap bidikannya bakal menjadi karya yang spektakuler sekelas Pulitzer Award.

Dan tiba saatnya Kate pun berada dalam situasi dimana ia melihat gadis kecil tersebut diinterogasi orang bersenjata dengan senapan AK-47 ditodongkan pada kepalanya. Maka Kate yang telah mengikuti gadis kecil itupun dihadapkan pada dua pilihan:
(more…)

Melawan Propaganda 2+2=5

“Dalam dunia di mana dusta mendunia, berkata jujur adalah tindakan revolusioner” – George Orwell dari “1984”

Bismillah …

Di periode tahun kedua saya ngeblog di WordPress, asisten statistik WordPress.com telah menyajikan Laporan Tahunan 2014 untuk blog ini. Bahwa sepanjang periode tahun 2014, blog ini telah dilihat sebanyak 660,000 kali. Dan 4 dari 5 most viewed dalam periode tersebut adalah bicara tentang media dan jurnalisme.

Banyak tulisan dalam blog ini memang berupaya mengkritisi bagaimana media memberitakan. Salah satu most viewed adalah tulisan yang mengkritisi media TEMPO saat memberitakan praktek suap dalam pengurusan label halal. Saya mencoba memaparkan 7 kejanggalan dalam pemberitaannya yang secara tendensius mendiskreditkan MUI. Yang pada akhirnya TEMPO meralat tulisannya pada edisi berikutnya. Jurnal saya itupun oleh MUI diunggah dalam situsnya. Alhamdulillah, hal yang benar tersampaikan ke masyarakat luas.
(more…)

Menguji Sumber Anonim Dalam Berita Tempo

–: Mari kembali belajar membaca media, agar tidak tergiring jurnalisme prasangka.

Bismillah …

Pada jurnal sebelumnya yang “Mengkritisi Berita TEMPO soal Label Halal MUI”, ada dua pengunjung yang mengajak diskusi soal sumber anonim terkait dengan uraian kejanggalan yang saya sampaikan dalam jurnal tersebut. Karena terbatasnya ruang komentar, saya perjelas lagi dalam jurnal terpisah di sini.

Seorang tokoh pers nasional yang juga mantan wartawan majalah Tempo, mas Farid Gaban, setahun yang lalu (13 Feb 2013) pernah menyampaikan kuliah twitter (kultwit) tentang “Sumber Anonim Dalam Jurnalisme” . Dalam kultwitnya, beliau mengatakan bahwa kaidah dasar jurnalistik menuntut jurnalis bersikap transparan kepada pembaca dan narasumbernya. Transparan kepada narasumber artinya jelas memperkenalkan diri sebagai jurnalis, media tempatnya bekerja, dan tujuan wawancara. Transparan kepada pembaca artinya menyebut identitas narasumber secara jelas (nama, jabatan, posisinya dalam suatu masalah). Transparansi berkaitan dengan sikap rendah hati jurnalis, yakni memungkinkan orang lain atau media lain menguji beritanya. Tanpa identitas jelas narasumber, orang / media lain takkan bisa mengujinya. Cuma si jurnalis yang tahu, artinya tidak transparan.
(more…)

Mengkritisi Berita Tempo Soal Label Halal MUI

–: Mari kembali belajar membaca media, agar tidak tergiring jurnalisme prasangka.

Bismillah …

Islam memerintahkan umatnya untuk mengkonsumsi makanan / minuman yang halal, dan menghindari yang haram. Halal-haram bagi Islam menyangkut akherat. Pangan yang halal baik dari segi bahan baku, bahan tambahan, cara produksinya sampai bisa dikonsumsi orang Islam harus jelas agar tidak menimbulkan dosa. Karena rumitnya pengelolaan ini, maka perlu ada sebuah lembaga khusus untuk mengaudit dan memberikan sertifikasi halal. Dengan lahirnya Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) sejak 6 Januari 1989, setidaknya memberi harapan besar pada umat Islam di Indonesia.

Entah apakah karena ingin menggagalkan RUU Jaminan Produk Halal yang kini sedang digodok di DPR, Majalah Tempo edisi 24 Februari – 2 Maret 2014 telah mendiskreditkan LPPOM-MUI. Tempo berupaya mencari titik lemah lembaga ini lewat salah satu Ketua MUI ‘yang diduga bermain uang’ untuk pelabelan halal ini.

tempo mui

Cover Tempo Edisi Cetak

Cover majalah berupa ilustrasi kaleng dengan gambar babi dengan tulisan dibawahnya “DIJAMIN HALAL” dengan logo MUI. Di samping kaleng itu ada tulisan: “ASTAGA! LABEL HALAL. Petinggi Majelis MUI ditengarai memperdagangkan label halal. Tempo melacak hingga Australia dan Belgia.”
(more…)

Gadis Suriah Dirajam Hingga Tewas gara-gara FB. Percaya?

Bismillah …

Beberapa hari ini beredar berita dan foto di internet yang menggambarkan seorang gadis Suriah dilempari batu atau dirajam hingga tewas oleh sekelompok orang hanya gara-gara memiliki akun Facebook.
Kedengarannya aneh, bukan?
Janggal, bukan?
Konyol, bukan?
Ya… karena aneh, janggal, bin konyol itulah saya mencoba mencari tahu kebenaran informasinya.

Saya coba googling dengan keyword: Syrian+girl+stoned+death+facebook guna mencari tahu kebenaran berita tersebut. Hasilnya ditemukan sekitar 15 jutaan tautan yang berhubungan dengan kata kunci tersebut. Banyak situs-situs berita yang memuatnya seperti iCNN, The Daily Mail, Tabloids, Examiner, India Today, Global Times, Israel Hayom, Daily Bashkar, FrontPageMag dan lain-lain, begitu juga yang terkategorikan blog yang meng-copas atau mengambil sumber dari situs-situs berita.

Ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu ada beberapa situs yang judul beritanya muncul di index google, namun begitu di-klik.. isinya sudah dihapus, contohnya iCNN, hanya meninggalkan keterangan:

This iReport is not available.
CNN PRODUCER NOTE This iReport has been pulled as it is in violation of the site’s Community Guidelines. The images included in this iReport were from the 2008 film ‘The Stoning of Soraya M.’

Dhuengggg….

Penelusuran saya berlanjut, ternyata CNN iReport telah mendapatkan banyak komplain dari pembacanya karena menampilkan foto kejadian yang dianggap asli namun itu palsu, dengan mengambil capture dari film “The Stoning of Soraya M”.
(more…)