Home » Ghazwul Fikri (Page 3)

Category Archives: Ghazwul Fikri

Toleransi Palsu, Buah Dari Racun Pluralisme

Bismillah …

Toleransi antar umat beragama merupakan slogan yang indah karena memuat pesan-pesan berharga yang diinginkan umat manusia yaitu saling memahami, saling menghargai dan menghormati, serta tidak memaksakan kehendak.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang toleran. Karena itu, Islam tidak memaksakan urusan memilih agama kepada umat manusia, sesuai dengan firman-Nya: “Tiada paksaan untuk masuk ke dalam agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” [QS. Al-Baqarah: 256]

Anehnya, ada kelompok yang mengaku muslim moderat dan terpelajar mempropagandakan konsep toleransi yang jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka kemas konsep tersebut dalam satu paket proyek pluralisme di Indonesia.

Prinsip toleransi yang ditawarkan Islam dan yang ditawarkan pengasong pluralisme sungguh sangat jauh berbeda. Mari cermati perbedaannya di bawah ini.
(more…)

[Dialog] Cinta Tapi Beda

nikah beda agama[ilustrasi: thisisgender.com]

Bismillah …

Dari dulu, UU Perkawinan selalu menjadi ajang tarik menarik antara umat Islam (yang menginginkan berlindung di bawah teduhnya aturan agama) versus pendukung sekularisme. Meski telah difatwa haram, pernikahan beda agama memiliki sejumlah pendukung yang terus bersuara, bahkan mereka menempatkannya dalam koridor demokrasi dan HAM. Di tahun ini kembali riuh, dimana ada sekelompok warga yang menggugat Pasal 2 ayat 1 UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang berbunyi: “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu” [1].

Menyikapi hal tersebut, Kyai Maksum (tokoh yang tidak asing lagi di blog ini) mengajak berdialog dengan Baran Yajida, mahasiswi, aktivis Cinta Tapi Beda (Cipida) yang mendukung legalisasi nikah beda agama (NBA).
(more…)

[Dialog] Legalisasi Aborsi Akibat Korban Perkosaan

aborsi[Ilustrasi: bigstockphoto.com]

Bismillah …

Penerapan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi memicu protes dari berbagai kelompok masyarakat yang tidak setuju dengan legalisasi praktik aborsi. Kendati begitu, tidak sedikit pula yang mendukung PP tersebut. Sebenarnya sudah sejak lama UU Legalisasi Aborsi diperjuangkan, terutama oleh kaum feminis yang disebut sebagai pro-choice. RUU-nya sudah diperbarui sejak tahun 2002. Argumentasi kaum feminis saat itu jauh lebih longgar daripada yang sekarang diloloskan dalam bentuk PP. Waktu itu, argumentasi dasar mereka adalah hak seorang wanita atas tubuhnya. Tubuh seorang wanita mempunyai hak untuk mau mengandung atau tidak, terutama untuk kehamilan yang tidak diinginkan. Akhirnya, argumentasi tersebut lolos yang dikenal sebagai PP Kesehatan Reproduksi.

…..
Menyikapi hal tersebut, Nadia mengajak teman kuliahnya, Santi, untuk bincang-bincang santai membedah PP tentang Kesehatan Reproduksi, mengevaluasi apakah PP tersebut masih lemah yang berpotensi menjadi pintu bagi legalisasi perbuatan asusila. Dilanjut brainstorming usulan solusi setelah PP tersebut disahkan dan siap diimplementasikan?
Mari simak dialog mereka dalam jurnal ini.
(more…)

Menjawab Surat Terbuka Komunitas CONQ #LGBT

Bismillah …

Di bulan Agustus ini, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan adanya 2 komik edukasi anak berjudul “Why? – Puberty” dan “My Wondering Body” terbitan Elex Media Komputindo, yang dinilai bisa merusak keyakinan beragama dan budaya bangsa kita, karena secara provokatif dan terang-terangan menyebarkan propaganda LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Visualisasinya secara vulgar menyampaikan pesan: [1] mengajarkan bahwa sesama jenis juga bisa saling mencintai; [2] ajakan untuk menjadi homoseksual; [3] visual lesbian berciuman; [4] visual ajakan melakukan maksiat (disertai ekspresi tubuh). *klik link tersebut untuk melihat visualisasinya*
(more…)

TIGA Pertanyaan Dasar Buat Penganut Anti Demokrasi

Bismillah …

Setiap menjelang pemilu, seruan anti demokrasi oleh para Andemis* (penganut paham anti demokrasi) lebih ramai dari biasanya. Anggapan umum yang dipahami oleh Andemis adalah sebagai berikut:

#1: “Demokrasi itu haram, sistem kufur, tidak sesuai syariat Islam, tidak diajarkan Rasulullah, saatnya kembali pada hukum Allah.”
.
#2: “Tinggalkan demokrasi, sistem ini terbukti gagal mengelola negara. Gagal mengakomodasi hak dan kewajiban ummat. Kembali pada syariah, tegakkan khilafah.”
.
#3: “Partai politik itu adalah barang najis dan parlemen sebagai septic tank-nya. Jadi tidak mungkin kita bisa menegakkan syariat Islam dengan kumpulan najis-najis di parlemen.”

Sebagai muslim memang harus menempatkan hukum Allah diatas segalanya. Namun demikian mari kita lihat kondisinya saat ini. Negara kita yang terdiri dari beragam agama dan kepercayaan, suku bangsa, budaya dan adat istiadat, sejak awal berdirinya itu dibangun dengan sebuah sistem demokrasi yang menurut Andemis dianggap sebagai sistem kufur / bathil.

Untuk menanggapi tiga anggapan umum di atas, di bawah ini ada TIGA pertanyaan dasar untuk Andemis.
(more…)

Aktivis #TolakPartaiPoligami Telah Memanipulasi Hadits

Bismillah …

Tadi malam saya di-mention oleh seorang sahabat yang tidak setuju dengan isi kuliah twitter (kultwit) pemilik akun twitter @penikhairunnisa. Kultwit dari @penikhairunnisa tersebut berjudul: “Sesungguhnya Rasulullah Juga Tidak Mendukung Poligami” dengan dihiasi tagar #TolakPartaiPoligami.

Memang dalam seminggu ini secara sporadis setiap hari di dunia twitter (twitter land) dibanjiri kampanye #TolakPartaiPoligami. Landasan dasar yang mereka sampaikan sebenarnya sangat lemah. Terlihat sekali kalau mereka memang tidak memahami hukum Islam dengan baik. Apalagi koordinator kampanye #TolakPartaiPoligami adalah akun anonim beragama anonim yang sering menyerang hukum Islam [Twit 1], lebih parah lagi mereka juga memanipulasi (mengedit) grafik Indeks Partai Korupsi, sehingga PKS yang aslinya berada pada urutan buncit menjadi 3 besar jawara korupsi [Twit 2]. Anda pasti tahu maksud dan tujuan kampanye tersebut menjelang Pemilu 2014 ini.

Dalam jurnal ini, saya tidak membahas kampanye #TolakPartaiPoligami yang sepertinya sudah kehilangan akal sehat, namun saya akan fokuskan untuk merespon isi kultwit dari @penikhairunnisa.
(more…)

[Dialog] Perlukah Menolak Hukum Poligami?

Dalam sejarah nasional Indonesia, ada seorang tokoh nasional yang sejak awal tidak menolak hukum poligami dalam Islam, faktanya selama hidup hingga akhir hayatnya justru ia bukan pelaku poligami. Namun sebaliknya, ada seorang tokoh nasional yang secara tegas menolak hukum poligami, namun faktanya, ia justru pelaku poligami. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi hukum poligami? Mari simak lanjutan dialog antara Nadia dan Jenny di bawah ini.
.
poligami

Ilustrasi: ©Shutterstock.com/kuleczka


Bismillah …

Setelah beberapa minggu yang lalu Nadia dan Jenny berdiskusi tentang Tuduhan di seputar Poligami Rasulullah [bagian pertama, dan kedua], kini mereka bertemu kembali untuk melanjutkan diskusinya.

“Nadia, mengapa dalam Al-Qur’an ada syariat seorang laki-laki muslim boleh berpoligami? Bukankah poligami itu bentuk penghinaan bagi kaum perempuan?”

“Dimana letak penghinaannya, Jen?”

“Seorang laki-laki khan seharusnya komitmen monogami. Yang realistis aja lah, istri mana sih yang rela dimadu?”

“Idealnya sih memang gitu, Jen. Perasaan wanita insya Allah tak jauh beda. Pada dasarnya, wanita menginginkan suami hanya untuknya seorang. Sangat jarang perempuan yang mau dimadu. Jikapun mau dimadu, ya mungkin masih ada sediiikit ketidakrelaan yang muncul dan berusaha disembunyikannya.”

“Lelaki poligami memang kaum male chauvinist yang egois dan menganggap diri superhuman. Poligami itu ruang bagi laki-laki yang punya kuasa dan gak bisa nahan libido. Lihat akibatnya … banyak kasus yang kudengar mereka membuat trauma berbuah kebencian bagi anak-anaknya yang berbeda ibu.”

“Ya kesimpulanmu gak bisa dipukul rata gitu dong, dalam hal pernikahan monogami, juga banyak ditemui kisah pilu. Artinya, semua itu tergantung bagaimana mengelola pernikahan. Banyak contoh kasus dimana pernikahan poligami yang berakhir bahagia. Jen, poligami itu sesungguhnya bagian dari solusi, bukan perintah. Poligami adalah bagian dari takdir.

“Solusi? Takdir? Apa maksudmu?

“Namanya episode kehidupan manusia, akan ada hal kompleks dalam sebuah rumah tangga sehingga solusi terakhir yang mereka ambil adalah ikhlas melakukan poligami. Karena mereka yakin bahwa poligami itu legal secara hukum negara maupun hukum agama.”

“Hal kompleks? Halaah itu sih karena maunya laki-laki aja, biar gak dianggap selingkuh. Lagian kamu ini belum nikah kok sok tahu soal rumah tangga.”

“Hahaha… ya belajar doong. Alhamdulillah, aku dapat ilmu-ilmunya dari ortu ku langsung kalo pas lagi family time, ngobrol ringan soal permasalahan rumah tangga. Kalo ilmu-ilmu itu semua baru didapat setelah menikah, apa kamu yakin bisa mengatasi riak-riak kecil selama mengarungi bahtera? Apalagi dapat solusi dari orang yang gak bener saat curhat. Masalah cinta itu bikin sensitif lho, hehehe, ayo belajar mulai sekarang mumpung masih ngejomblo.”

“Okey, okey… aku mau dengar… coba paparin apa saja hal yang menurutmu kompleks sehingga menjadi penyebab poligami.”
(more…)