Home » Entrepreneurship

Category Archives: Entrepreneurship

The Miracle of Bluffing (Succes Story of Bill Gates)

[Dari blog lamaku: http://fightforfreedom.multiply.com/video/item/22
Posted on Oct 23, ’10 10:16 AM]

Ini adalah cuplikan sebuah film, Pirates of Silicon Valley, dimana diceritakan bahwa Bill Gates (saat itu masih muda banget & culun) berani mendatangi kantor IBM, bertemu dengan para owner untuk menawarkan sebuah solusi bisnis.

Pembicaraan di meeting tersebut antara Bill Gates (BG), Direktur IBM (IBM)
BG: “Kami punya apa yang Anda butuhkan!!”
IBM: “Oke.. itu suatu permulaan”
BG: “Kami tahu IBM harus bangun tempat ini untuk bersaing dengan Apple, dan berpacu untuk membuat personal computer untuk kalahkan mereka. Jadi kami bisa memberimu sebuah sistem kerja”
IBM: “Seperti apa operating sistem yang anda tawarkan”
BG: “Kami memiliki DOS.. Disk Operating System”
(perhatikan adegan pada menit ke-02.59 dan selanjutnya bla..bla..bla.. Bill menjelaskan panjang lebar ttg DOS dan sistem kinerjanya)

Sebenarnya Bill nge-bluffing saat itu, krn kenyataannya ia ngga punya sebuah operating system !, ia bisa menjelaskan itu hanya berdasarkan sebuah imajinasi seakan-akan wujud DOS itu ada dan begitulah cara kerjanya. Maka ya jelas aja.. teman2 si Bill (Paul Allen & Steve Balmer) yg ikut meeting di situ kaget (dalam hati), karena perasaan si Bill ngga pernah ngomongin soal itu dengan timnya, apalagi memiliki sebuah operating system.

Kemudian Direktur IBM bilang: “Baiklah, kalau begitu… besok bawa DOS Anda kemari”

Nah lho… 🙂

Setelah diluar (selesai meeting), teman2nya protes, “Gila loe, Bill, kita khan ngga punya operating system. Kita ngga punya sesuatu untuk ditawarkan. Tamatlah kita”
Bill dg santainya ngejawab, “Ah, loe khan pernah bilang kalo punya teman yg punya OS, kamu beli aja OS-nya dari dia, ntar itulah yg kita tawarin ke IBM. Nah, kamu pergilah ke temanmu sekarang… tawar barangnya berapapun, … udah ngga ada waktu lagi nih, besok kita harus serahin ke IBM”

Berhasilkah?

Besoknya, Bill Gates dan teman-temannya mendatangi lagi kantor IBM mendemokan sistem kerja DOS (yang baru ia beli kemaren) sekaligus membicarakan skema bisnisnya dengan IBM.

Jadi, percaya atau tidak, sebenarnya DOS adalah merek dagang yang diciptakan oleh Bill Gates atas sebuah sistem operasi (OS) yang ia beli dari seorang programmer yang tak diketahui namanya. Kemudian oleh Bill Gates, OS tersebut dijual kembali per-lisensi kepada banyak perusahaan pembuat komputer. IBM adalah perusahaan pertama yang tertarik untuk menggunakan DOS pada produk mereka. Inilah bluffing terindah dalam sejarah Bill Gates yang mengubah sejarah hidupnya menjadi seorang milyuner bersama Microsoft.

Bill Gates terpaksa melakukan bluffing itu karena dalam kondisi kepepet untuk menyampaikan sebuah solusi kepada klien (atau calon klien-nya). Dan bluffing itu menuntun alam bawah sadarnya agar sesuatu yang masih dalam imajinasi itu harus menjadi sebuah kenyataan.

Inilah adegan menarik pada kisah di atas.

Membangun Anak dan Memprogram Masa Depan Keluarga

Dear sahabat bloggers,

Masih ingatkah Anda dengan Fahma Waluya dan Hania Pracika?
Ya, mereka anak dari pasangan Pak Yusep Rosmansyah dan Ibu Yusi Elsiano, adalah teknopreneur cilik yang perjalanannya ketika mengharumkan nama Indonesia pernah saya posting di Jurnal 1, Jurnal 2, dan Jurnal 3. Perjalanan yang kutulis di saat saya menjadi satu rombongan dengan mereka sebagai delegasi dari Indonesia di ajang APICTA (Asia Pacific ICT Alliance) 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sejalan dengan pertumbuhannya, ternyata prestasinya makin bertambah. Bayangkan, duet kakak beradik, Fahma (kelas 1 SMP), Hania (kelas 1 SD) di usia dini itu sudah mampu menorehkan banyak prestasi, seperti di bawah ini:
(more…)

[Amazing!] Penderita Lumpuh Otak itu berhasil menjadi Top Salesman !

Bismillah …

Lumpuh otak (cerebral palsy, CP) adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir.

Penyebab lumpuh otak sampai saat ini belum dapat dipastikan, banyak orang beranggapan bahwa CP disebabkan oleh karena:
– Bayi lahir prematur sehingga bagian otak belum berkembang dengan sempurna.
– Bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen saat dalam kandungan.
– Adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak.

Lantas, bila seseorang menderita penyakit kelumpuhan otak sehingga mengakibatkan syaraf-syaraf lainnya terganggu, apakah juga kemudian masa depan perjalanan hidupnya bisa dikatakan suram?
Tidak juga.
(more…)

Salesman, jangan pernah menyerah !

Ketika saya mengadakan biz-trip ke Bandung beberapa waktu lalu (dalam rangka pertemuan bisnis dengan PT. Telekomunikasi Indonesia), Alhamdulillah, malam sebelum pertemuan itu, saya bisa berkesempatan untuk kopdar dengan beberapa teman dari MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia) yang berada di Bandung. Kami kopdar di The Valley – Bistro Cafe, Komp. Dago Pakar (Dago Highland), sambil menikmati pemandangan malam dari puncak bukit.

Ketika berkumpul di sana, masing-masing dari kami saling sharing tentang success story dan kiat-kiat sukses menjalin kemitraan bisnis. Kebetulan ada diantara yang ikut kopdar itu telah bermitra dengan Telkom sebelumnya. Sehingga malam itu kujadikan ajang berguru pada senior 🙂

Terkait dengan peristiwa yang barusan saya alami di perusahaan, tiba-tiba ingatan saya langsung tertuju pada sebuah kisah yang pernah disampaikan oleh kawan saya, Indra Purnama. Beliau adalah owner dari sebuah perusahaan software developer di Bandung, beliau juga salah satu dari pemilik usaha rumahtawa (hotel, guesthouse, dan homestay). “rumahtawa” itu kependekan dari “rumah taman siswa” 🙂

Indra dalam kopdar tersebut menceritakan kisah yang menarik tentang (alm.) Cacuk Sudarijanto. Cacuk adalah mantan Menteri Restrukturisasi Ekonomi Nasional di era Presiden Gusdur, mantan kepala BPPN, dan sebelumnya pernah menjabat Dirut PT Telkom pada sekitar 1990-an, juga pernah menjabat sebagai Dirut Bank Mega.

Sepertinya Indra sudah terinspirasi ketika mobil kami melewati kampus ITB ketika dalam perjalanan menuju The Valley (Dago Highland), saat itu ia menyebutkan beberapa tokoh Indonesia yg jebolan ITB, salah satunya Cacuk. Indra sendiri alumni ITB.

********

Fokus kisahnya adalah sewaktu Cacuk masih menjadi tenaga sales-nya IBM.

Ceritanya begini, saat itu, Cacuk berusaha menjual sistem komputer keluaran terbaru kepada Garuda Indonesia Airways (GIA). Ia begitu bersemangat untuk bisa mendekati Dirut GIA saat itu, Wiweko Soepono, karena jelas pengambilan keputusan berada di tangannya. Namun fakta yang dihadapi adalah: Wiweko itu susah banget didekati, apalagi oleh orang-orang IBM. Mengapa? Karena Wiweko merasa antipati terhadap perusahaan IBM 🙂

Sebagai sales yang handal, Cacuk mati-matian menempuh berbagai cara untuk bisa bertemu langsung dengan Wiweko, agar bisa menawarkan produk IBM-nya. Ia paham bahwa untuk saat ini Wiweko sangat sulit untuk ditemui secara formal. Berbagai strategi ia analisa. Dan akhirnya ia menemukan cara yang jitu. Apakah itu?

Baiklah, simak baik – baik …

Keesokan harinya Cacuk mulai melaksanakan rencananya. Ia melakukan PDKT dengan sekretaris Wiweko. Lho kok? Ya.. karena sekretaris itu yang paling tahu soal jadwal orang nomor satu di Garuda tsb. PDKT dilakukan secara intens tiap hari dan profesional tentunya. Ya jelas dong… supaya gak kebablasan :))

Hingga suatu Hari, Cacuk berhasil mendapat informasi dari sekretaris itu bahwa Wiweko akan melakukan perjalanan ke Frankfurt, Jerman.

Mendengar informasi ini, Cacuk segera melaksanakan strategi berikutnya. Ia berusaha meyakinkan boss IBM untuk membiayai penerbangan ke Frankfurt p.p., demi bisa bertemu dengan Wiweko. Ia memaparkan confidence level keberhasilan upayanya plus manfaat yang luar biasa ke depannya kalo berhasil. Dan akhirnya sang boss menjawab:

“Cacuk, saya setuju kamu menemuinya, namun perusahaan hanya membiayai tiket pesawat p-p., tidak ada uang saku, dan selebihnya menjadi tanggungan kamu sendiri, karena inisiatifmu ini adalah diluar anggaran”

Singkat cerita… terbanglah Cacuk dengan pesawat yang sama ditumpangi Wiweko menuju Frankfurt. Dan ia berhasil mendapatkan tempat duduk kelas bisnis di dekat Wiweko. Karena Cacuk yakin hanya dengan cara inilah ia ingin ngobrol dengan Wiweko.

Berhasilkah ngobrolnya?

He he he… ternyata sepanjang perjalanan Wiweko tertidur. Cacuk sempat bingung dengan situasi seperti ini, karena kesempatan ngobrol yang ia miliki hanya ada di dalam pesawat. Ia tidak mempunyai rencana untuk stay di Frankfurt. Kemudian, ia terus memperhatikan targetnya itu dan menunggu saat yang tepat untuk ngomong.

1 jam berlalu, Wiweko masih tertidur.

2 jam berlalu, Wiweko juga masih tertidur pulas. Cacuk mulai gelisah.

4 jam belalu, Wiweko juga masih lelap tidurnya.

Cacuk semakin gelisah. Dan ia tetap siaga, sambil berdoa agar keberuntungan menghampiri situasi ini.

Hingga beberapa saat kemudian, Wiweko terbangun dan menuju ke toilet. Melihat hal ini, Cacuk mengangap inilah moment of truth. Sekeluarnya dari toilet, dicegatlah Wiweko sebelum kembali lagi ke tempat duduk.

”Pak Wiweko, perkenalkan saya Cacuk dari perusahaan komputer yang paling dibenci Bapak, senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, ini kartu nama saya” ujar Cacuk sambil memberikan kartu nama.

Cukup singkat apa yang Cacuk sampaikan, tidak ada kalimat lagi setelah itu, namun Cacuk puas bisa menyerahkan kartu namanya secara langsung kepada orang nomor satu di Garuda yang kemudian juga dikenal sebagai Bapak Perintis Penerbangan Nasional.

Begitu mendarat di Frankfurt, Cacuk langsung menuju tempat keberangkatan untuk balik kembali ke Jakarta saat itu juga.
Ingat, perusahaan hanya membiayai tiket pesawat p-p 🙂

Beberapa hari kemudian, Cacuk melancarkan strategi berikutnya. Ia menelepon sekretaris Wiweko, apakah Wiweko masih menyimpan kartu namanya. Setelah mendapat kepastian dari sekretaris Wiweko, bahwa bosnya masih menyimpan kartu namanya, maka Cacuk meminta sekretaris itu mau menjadwalkan pertemuannya dengan Wiweko. Dan Wiweko menjawab bersedia.

Agar tidak menyia-nyiakan momen yang sangat berharga ini, kemudian diajaklah orang-orang top dari IBM Asia Pasific. Ketika berada di ruang pertemuan, Wiweko yang tidak suka basa-basi itu membuka perbincangan dengan kalimat:

“Don’t talk about hobby, weather or family. Let’s talk about business!”

Cacuk yang cukup lama mempelajari karakter Wiweko tahu betul bahwa sebagai mantan pilot, Wiweko tergolong sebagai technology enthusiast. Maka, dijelaskannya spesifikasi produk IBM terbaru itu dengan detailnya. Cacuk mengatakan bahwa sistem komputer ini adalah sistem terbaru yang belum pernah digunakan oleh perusahaan lain di Indonesia. IBM memberi kesempatan pada Garuda untuk mengimplementasikan teknologi ini. Singkat cerita, Garuda kemudian membeli sistem komputer terbaru yang ditawarkan IBM.

Kepiawaian Cacuk di ruang meeting mengingatkan saya dengan Bill Gates yang mampu menaklukkan para petinggi IBM.
Kisahnya di sini: Bluffing (bohong)-nya Bill Gates merubah imajinasi menjadi kenyataan

Moral cerita:
(1)Sabar dalam membangun relationship adalah kunci sebuah bisnis.

Membangun relationship itu perlu kesabaran. Seperti yang dilakukan Cacuk ketika mulai mendekati sekretaris orang nomor satu di Garuda itu. Cacuk sabar melakukan follow up yang dilakukan hampir setiap hari yang tentu saja dengan cara yang kreatif dan berbeda, sehingga tidak menimbulkan kebosanan dari yang dituju. Atau istilahnya 4L: Lu Lagi Lu Lagi 🙂

(2). Tenaga penjual harus menguasai product dan customer knowledge.

Dalam memasarkan, pendekatan knowledge-based selling itu perlu. Bukan hanya meyakinkan manfaat produk, tetapi mengedukasi konsumen itu juga menjadi keharusan. Cacuk berani menemui orang nomor satu Garuda itu tentunya karena telah menguasai hal itu, sehingga tidak ada kesan keder atau nervous karena minim ilmu.

(3). Mengidentifikasi karakteristik pengambil keputusan.

Cacuk cukup lama mempelajari karakter Wiweko yang tergolong sebagai technology enthusiast. Maka, dalam memaparkan produknya, Cacuk menyampaikan keunggulan produknya dengan detail dan teknis banget.

(4). Mengidentifikasi karakteristik konsumen.

Mengetahui karakteristik konsumen juga penting, apakah yang satu memberikan tingkat keuntungan yang sama dengan lainnya. Karakteristik konsumen bisa dibedakan menjadi most valuable customer (MVC), most growable customer (MGC), below zero customer (BZC). Pemimpin IBM menyetujui ide gila Cacuk untuk bertemu pemimpin tertinggi Garuda di dalam pesawat, dan mendatangkan tim ahli nomor satu ketika diundang presentasi itu karena sudah mempertimbangkan bahwa pendekatan yang dilakukan itu cocok untuk most valuable customer (MVC).

(5) …. ada yang ingin menambahkan?

Bila ada pelajaran lainnya yang bisa ditambahkan dalam moral cerita di atas, silakan menuliskan di kolom komentar 🙂

Terimakasih.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
03.06.2011

Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?

Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?

Hari ini saya mengirim teguran tertulis kepada sebuah penerbit di Jakarta karena mereka menerbitkan sebuah buku. Lho, apa hak saya menegur penerbit? Benar, saya tidak berhak menegur mereka jika menjalankan bisnisnya dengan etika. Tetapi, penerbit itu jelas-jelas mengetahui jika buku yang diterbitkannya itu menjiplak sebagian dari isi buku saya yang sudah diterbitkan terlebih dahulu. Tanpa meminta ijin, tanpa menyebutkan sumbernya. Ada bukti kuat yang menunjukkan jika mereka memang melakukannya secara sadar.

Sedih saya dengan perilaku penulis di Indonesia. Bahkan untuk sekedar belajar beretika menulis saja mereka enggan melakukannya. Apa lagi diajak beretika untuk hal-hal yang lebih bernilai dari itu? Lebih sedih lagi saya, karena dalam kasus ini sang jago jiplak itu adalah seseorang yang juga berprofesi sebagai trainer, seperti halnya profesi saya. ‘Jeruk makan jeruk’ ini namanya. Beliau itu bukan trainer sembarangan alias kaliber kelas atas karena; beliau termasuk salah satu dari beberapa trainer yang disebut sebagai pemegang rekor MURI. Barangkali ini adalah salah satu contoh percaya diri seorang pribadi panutan yang kebablasan. Maaf, saya mengatakan demikian karena kita mesti belajar untuk bersikap tegas kepada perilaku tidak beretika. Siapa pun pelakunya.

Pun jika suatu saat nanti Anda menemukan saya yang melakukan penyimpangan. TOLONG. Jangan biarkan saya tersesat dalam jalan yang merendahkan martabat kita sendiri. Baik profesi sebagai Trainer, sebagai pendidik, sebagai penulis, maupun sebagai pribadi seperti halnya pribadi-pribadi lain. Saya juga sama manusianya dengan Anda semua, bisa kepeleset. Bahkan sudah sering kepeleset. Jadi jangan biarkan saya terseret arus sesat. Bantu saya untuk insyaf. Silakan.

Saya sempat berpikir untuk menegur langsung penulisnya. Wake up, man! Dunia penerbitan buku itu berbeda dengan budaya copy paste internet! Apakah sulit untuk sekedar ‘menyebut sebuah nama’ seandainya you tidak sanggup untuk ‘berpermisi’ ria? That’s the universal ethic.

Namun, akhirnya saya urungkan niat itu karena saya percaya penerbit buku yang mewakili saya bisa menjadi ‘representative body’ yang dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah ini.

Sebelum saya menegur penerbit itu, saya berulang kali membaca kalimat-kalimatnya. Hahaha, yakin; kalimat itu gue banget! Lalu saya cocokan dengan buku-buku saya. Bingo! Ternyata memang isi buku baru itu di halaman 8 sampai 17 sama persis dengan isi buku saya yang berjudul “Ternyata Semutnya Ada Di Sini”, kecuali satu atau dua kata yang diganti.

Anda yang pernah membaca buku saya yang berjudul “Ternyata Semutnya Ada Di Sini” atau yang mungkin suatu saat nanti akan membacanya jangan kaget kalau isi buku pada halaman 88-95 telah dijiplak oleh sang penulis buku baru itu. Sekedar Anda tahu saja, penulis buku itu tidak pernah menghubungi saya untuk mengambil bagian isi buku itu untuk buku yang diterbitkan atas namanya. Padahal, kalau saja beliau berbesar hati untuk menyebutkan nama penulis orisinilnya; memang tidak harus minta ijin kok. Kecuali kalau beliau berkenan melakukan yang lebih dari itu.

Mari Berbagi Semangat!

Dadang Kadarusman
Leadership & People Development Training

=======================================

Sabar ya Pak Dadang… budaya copy paste di negeri ini emang sedemikian parahnya. Bahkan seorang trainer papan atas pun ikut membudayakan menjiplak tanpa beretika.

Lanjut ke hal 2: Kaidah ’Fair Use’ Dalam Membuat Karya Tulis

Indigo Fellowship 2010, ajang cipta kreatifitas

Alhamdulillah… setelah berpacu dengan waktu + sport jantung, akhirnya berhasil mensubmit Proposal Karya Cipta pada tanggal 13 Nov 2010, pk 23.54. Padahal lomba ditutup secara otomatis pada pk 24.00. Yess…. emang kudu keep fight.. ’till drop :))

Ini adalah ajang lomba Indigo Fellowship 2010
Bagi yang merasa punya karya cipta digital kreatif, namun terlewatkan info ini, jangan berkecil hati, tetap persiapkan diri Anda untuk ikut tahun depan. Karena reward-nya lumayan, bukan sekedar uang, tapi bisnis yang berkesinambungan 🙂

================

Program Indigo Fellowship dipersembahkan oleh Telkom Group sebagai salah satu sumbangsih untuk menumbuhkan negeri dan bangsa Indonesia agar terus berkembang berbasiskan kreatifitas dan jalinan kerjasama komunitas.

Official Web: http://fellowship.plasaindigo.com/

Pemilihan pemenang Indigo Fellowship 2010 dilakukan berdasarkan kriteria penjurian sebagai berikut :

  1. Marketability, bahwa karya kreatif yang dipilih harus memiliki kelayakan bisnis untuk diimplementasikan, berpotensi menghasilkan revenue, menekan cost of product, serta menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
  2. Product Originality, bahwa karya kreatif harus kreatif, mengembangkan cara / metode baru untuk menghasilkan karya dan innovatif, menemukan karya / produk baru yang belum pernah dikembangkan orang lain serta tidak melanggar hak cipta.
  3. Positive Impact bahwa karya kreatif harus berdampak maksimal kepada masyarakat, sosial, seperti pengentasan kemiskinan, menekan pengangguran, memperbaiki issue deskriminasi gender, tidak mengandung SARA, dan pornografi, dll.
  4. Personality bahwa peserta yang mengikuti kompetisi memiliki kompetensi dibidang digitalpreneur, mampu mengelola sumber daya untuk membangun industri, dan mampu mengembangkan networking / kolaborasi yang kuat untuk mendorong suksesnya karya digital

Kategori Kompetisi Indigo Fellowship 2010:

  1. Ritel / Konsumer, adalah karya digital baik berupa content atau aplikasi yang ditujukan atau bermanfaat khususnya bagi masyarakat ritel / end consumer
  2. Small & Medium Company adalah karya digital dalam bentuk aplikasi atau content yang ditujukan atau bermanfaat khususnya bagi pelanggan Usaha Kecil Menengah ( UKM)
  3. Enterprise adalah karya digital dalam bentuk aplikasi atau content digital yang ditujukan / bermanfaat khususnya bagi pelanggan enterprise.
  4. Rural / Maritime adalah karya digital dalam bentuk aplikasi atau content yang ditujukan / bermanfaat buat pengembangan masyarakat pedesaan atau masyarakat pesisir pantai.

Peserta yang dinilai memiliki karya kreatif terbaik dalam program Indigo Fellowship 2010 ini berhak mendapatkan apresiasi berupa :

* Dukungan dana untuk inisiasi bisnis mencapai Rp 50 juta.
* Produk / layanan dari TELKOMGroup
* Mengikuti mentoring digitalpreneurship oleh para pakar di bidangnya.
* Karya pemenang berpeluang untuk dikembangkan bersama TELKOMGroup menjadi produk content dan aplikasi yang siap dipasarkan ke pelanggan TELKOMGroup.
* Sertifikat.

Akhirnya, Teknopreneur Cilik itu Juara Asia Pasific ICT Award 2010

Akhirnya sore ini selesai sudah perhelatan akbar “10th International APICTA 2010”, sebuah lomba kreativitas dan inovasi di bidang Teknologi Informasi & Komunikasi (ICT) tingkat Asia Pasific yg berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia sejak 12 Oktober 2010.

Ajang kali ini diikuti oleh delegasi dari berbagai negara di kawasan Asia Pasific, diantaranya: Australia, Brunei, China, Hong Kong, Indonesia, India, Macau, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Singapore, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Phillipines dan Korea.

Untuk kategori: Best Secondary Student Project, hasilnya sangat mengharukan, Fahma Waluya, 12th, yang tahun ini ditolak masuk ke sekolah negeri, hanya karena ortu-nya menolak memenuhi permintaan oknum kepsek di sekolah tsb (semacam uang bangku tambahan), kemudian memilih masuk secara jujur ke sekolah SMP Salman Al Farisi Bandung, akhirnya ia mampu membawa nama baik Indonesia dan sekolahnya, krn malam ini ia terpilih sebagai WINNER APICTA 2010.

Selamat buat Teknopreneur Cilik, Fahma, yang saat ini sudah menjadi programmer resmi Nokia, dan akan menyusul Google.
Go World Summit USA 2010 !!

Bagaimana hasil yang diraih oleh delegasi Indonesia lainnya?

Inilah daftar selengkapnya, Para Winner APICTA 2010 berdasarkan masing-masing kategori. (more…)