Home » Amazing People » Pola Pengasuhan Anak Difabel Yang Berprestasi Mendunia [1]

Pola Pengasuhan Anak Difabel Yang Berprestasi Mendunia [1]

Blog Stats

  • 2,277,235

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 6,408 other followers

Prinsip ke-11:
Tidak memberikan target khusus pada Ade, tapi menguatkan diri dengan berdo’a dan tawakkal

Saya selaku ibunya tidak pernah mempunyai ekspektasi berlebihan dan mengarahkan secara khusus untuk keinginan/ambisi tertentu kepada anak-anak saya. Saya serahkan sepenuhnya karier dan masa depan anak-anak saya kepada Tuhan YME untuk diberikan yang terbaik dan agar dapat bermanfaat bagi banyak orang, serta Insya Allah membawa harum nama bangsa dan negaranya; Saya biarkan Ade mendalami musiknya dan saya tidak melarang Dewi mencoba menjadi seorang penulis (saat ini sudah 7 buku fiksi ditulis dalam bahas Inggris, tetapi belum mau untuk dipublikasikan).

Hanya saja untuk kasus seperti Ade, saya akan share sedikit cerita. Di Indonesia sering merupakan kebiasaan kita (tanpa sengaja mungkin) melihat disability sebagai ‘hukuman Tuhan’, sehingga pada saat itu saya banyak berdoa kepada Allah agar Ade tidak besar dengan hinaan orang karena ketuna-netraannya, dan mohon kepada NYA agar Ade dapat diberikan kemampuan dan kesempatan untuk dapat membawa nama bangsa dan negaranya di dunia internasional, sehingga di sisi lain Ade dapat pula menolong teman-temannya yang senasib dengan menjadi motivator bagi ABK di tanah air.

Saya terus terang memberikan perhatian khusus dan merasa prihatin bagaimana ‘lingkungan’ di Indonesia sering ‘begitu kejam’ kepada ibu-ibu yang melahirkan ABK, dan anak-anak difabel yang harus menanggung “konsekuensi negatif” padahal siapa yang mau dilahirkan dengan disability.

Doa-doa saya kepada Ade untuk diberikan bimbingan NYA untuk bisa ‘tampil beda’ merupakan upaya saya pribadi (termasuk suami saya) yang sering prihatin bagaimana anak-anak difabel (yang mungkin lebih kemampuannya dari Ade) tidak memperoleh kesempatan untuk bisa lebih maju dan bisa tampil di depan publik memperlihatkan kemampuannya. Saya percaya masih banyak Ade-Ade yang lain di Indonesia yang merupakan asset Bangsa Indonesia, yang belum bisa turut serta secara optimal mengharumkan nama bangsa dan negara di dunia luar.

.
Prinsip ke-12:
Menghargai sekecil apapun perbuatan baik sang anak dari kecil.

Sebagai orang tua, khusus ibunya, seharusnya memupuk kedekatan dengan anaknya sejak anak dilahirkan sampai dengan menutup mata, dan bukan mendadak dapat terjadi kedekatan itu setiap saat sewaktu anak sudah besar. Metode pendekatan yang dilakukan salah satunya adalah bagaimana menghargai anak dari kecil dan selalu memberikan pujian (nice words) atas prestasi anak sekecil apapun.

.
Prinsip ke-13:
Sangat pantang mencela anak

Saya dan suami sangat pantang mencela anak. Pada saat anak-anak melakukan kesalahan, saya memang tegas mengatakan perbuatan itu salah; namun, saya juga tetap cepat memberikan ruang kepada anak untuk merasa dimaafkan, sambil memberikan penjelasan mengapa perbuatan itu tidak boleh dilakukan dan meminta anak untuk tidak mengulangi perbuatannya. Hal itu merupakan ‘langkah penting’ pembentukan kejiwaan anak, yang sering tidak disadari oleh banyak orang tua[6]).

.
Prinsip ke-14:
Mendidik anak yang terpenting adalah “KUALITI” dan bukan hanya “KUANTITI”.

Prinsip mendidik anak yang terpenting adalah “kualiti” dan bukan hanya “kuantiti”. Hal itu saya buktikan dengan komitmen saya kepada Ade dan dapat membantu perjalanan musiknya hingga sekarang, walaupun secara teori / logika umum seharusnya ABK harus ditemani oleh ibu yang tidak sesibuk saya.

Dengan demikian, tidak alasan bagi seorang wanita karier yang sibuk, untuk tidak bisa dekat dengan anaknya atau tidak bisa mengenali anaknya dari kecil hingga dewasa. Kesibukan saya sebagai pegawai negeri di kementerian pemerintah, yang dimana dituntut bekerja lebih dari “office hours” sejak saya yunior hingga saat ini, bukan merupakan alasan bagi saya untuk tidak dekat dengan anak-anak saya, termasuk Ade yang mempunyai keterbatasan dan memerlukan pendekatan khusus dibandingkan anak normal.

Saya mencoba menjalani kehidupan dengan doa-doa baik kepada anak-anak saya, dan saya tidak mengeluh untuk memberikan energi lebih demi kebaikan anak-anak saya. Dalam hal ini, saya merasa apa yang saya lakukan selama ini, bukan sesuatu yang spesial, dan dapat dilakukan ibu-ibu lainnya (wanita karier sekalipun) demi kemajuan dan masa depan anak-naknya. Oleh karena itu, saya selalu memberikan banyak dorongan kepada para ibu yang wanita karier atau yang ‘terpaksa’ harus banyak di luar rumah untuk membatu mencari nafkah, untuk lebih memperhatikan kualitas bersama anak-anaknya, bukan hanya terpaku pada kuantitas kebersamaannya dengan anak-anak [7]).

.
Prinsip ke-15:
Mengikuti naluri keibuan untuk selalu tahu apa yang membebani pikiran anak

Seorang Ibu pasti mempunyai ‘hubungan bathin khusus’ dengan anaknya karena dia yang hamil dan melahirkan anaknya, mohon maaf bukan ayahnya. Untuk itu, seorang ibu harus mengikuti naluri keibuannya (dan hati kecilnya yang positif) untuk selalu tahu apa yang membebani pikiran anak-anaknya. Saya dekat dengan Ade dan Dewi, dan terkadang untuk menjaga kedekatan itu saya mencoba untuk belajar bahasa gaul dan pola pikir mereka sebagai remaja. Terkadang saya akui tidak mudah, namun saya percaya dengan doa dan doa kepada NYA, Tuhan akan memberikan kekuatan dan bimbingan NYA, serta memberikan Ridho NYA pada niat baik saya. Sebelum Ade seperti saat ini, saya bahkan berdoa kepada Allah untuk memohon petunjuk NYA karena saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya perbuat dengan talenta yang dimiliki Ade, walaupun ada keyakinan lain bahwa saya harus berbuat sesuatu untuk share kepada orang lain / anak difabel dan para orang tua ABK bagaimana Tuhan telah menunjukan Kebesaran NYA melalui permainan musik Ade.

Ade Irawan

Muhammad Ade Irawan [Photography by Herry Susanto, credit: fanpage]

Rencana Ade dan ibu Endang sekeluarga saat ini.

Saya dan suami tidak punya rencana khusus saat ini untuk ade; Kami serahkan sepenuhnya kepada “Jalan Tuhan”. Saya percaya Tuhan selalu mempunyai ‘rencana indah’ untuk semua umat NYA. Sesuai dengan keinginan Ade sendiri untuk menjadi pianis yang lebih baik, saya berdoa dan mendukung sepenuhnya hal itu. Dengan memanfaatkan keberadaan di Los Angeles sekarang, kami mohon kepada Tuhan untuk dapat diberikan jalan agar Ade dapat mewujudkan semua mimpi-mimpinya (Amin).

Bagaimana Ade ke depan dan dimana Ade harus tinggal, saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan YME. Kami menjalani kehidupan ini sebagai “tugas khusus Allah” untuk memotivasi teman-teman senasib, dengan menjadikan Ade sebagai salah satu putra bangsa yang dapat membawa nama baik bangsa dan negaranya, sekaligus menjadi motivator bagi anak difabel Indonesia untuk tidak pantang menyerah dengan nasib / keterbatasan yang dimilikinya.

Namun demikian, yang pasti seperti halnya yang dilakukan di New York (1995-1999) dan di Chicago (2004-2007), kami akan membawa Ade ke berbagai tempat jam sessions di Los Angeles dan sekitarnya, sehingga Ade dapat bermain bersama dengan musisi lokal dan menikmati (sekaligus belajar) dari performances musisi jazz dunia yang melakukan show-nya di Los Angeles. Dengan keterbatasan anggaran yang kami miliki, saya percaya Tuhan akan memberikan kesempatan pada Ade untuk ‘menimba ilmu’ secara optimal selama kami berada di negeri Paman Sam ini. Semoga Allah senantiasa mendengar doa-doa Ade dan membimbing NYA untuk mewujudkan mimpi-mimpi Ade dalam ‘rencana indah Tuhan’ … Aamiin.

CATATAN :

[1], [2], [3], [4], [5], [6], dan [7] ) merupakan sebagian materi yang sering saya share untuk memotivasi ibu-ibu yang mempunyai ABK dan memberikan semangat kepada para difabel selama keberadaan kami di tanah air pada tahun 2008 s.d. tahun 2013, sekaligus ‘mendidik lingkungan’ untuk tidak menganggap teman-teman difabel sebagai ‘tidak berguna’. Diharapkan di masa mendatang semakin banyak pihak yang memberikan kesempatan kepada ABK untuk bisa mengembangkan talentanya, dibalik keterbatasan/kekurangannya.

Los Angeles, Juli 2013
Endang Irawan
=======================================
Lanjut ke halaman 5: Biodata dan Daftar Prestasi
=======================================

Pages: 1 2 3 4 5


24 Comments

  1. sy ibu yg puny anak difabel (hanya punya1 tangan) umr 3 th MasyaAlloh dia sangat lincah.tdk pnakut .bagaimana bsk di usia sekolahny biar dia tetap jd ank yg percaya diri

  2. Materi tambahan:

    Selintas Tentang Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus
    oleh Dr. Wiwin Hendriani, M.Si.
    Dept. Psikologi Pendidikan dan Perkembangan.
    Fak. Psikologi Unair Surabaya

  3. nurme says:

    Terharu bacanya, banyak ilmu disharing disini

  4. Subhanallah ya, ini pelajaran bermanfaat sekali pak. yang saya tangkap dari cerita ini kalau kitanya ikhlas menerima apapun ketentuan allah, seorang anak yang memiliki keterbatasan sekali pun bisa menghasilkan prestasi yang memukau dan pasti membuat orang tuanya bangga 🙂

  5. 'Ne says:

    Luar biasaa.. perlu dicontoh itu disiplin dirinya.. 🙂

  6. rusydi hikmawan says:

    sy nyimak dulu, pak. rugi gak dibaca tuntas. super sekali orang tua yg sukses mendidik dan merawat anaknya seperti itu

  7. Luar biasa Ibu Endang dengan 15 prinsipnya dalam membesrkan Ade…

    Ini bisa dijadiin buku loh Mas Iwan…

  8. Subhanamaakholaqta hadza bathila…
    Saatnya menghargai potensi anak tak hanya dari sisi akademis semata ya pak

  9. Endang Mardeyani says:

    Dear Pak Iwan,

    Terima kasih banyak atas kerjasama dan bantuannya untuk menyebarluaskan Kebesaran Tuhan melalui kehidupan Ade sbg pianis tunanetra. Semoga Tuhan yang membalas semua kebaikan2 dan niat baik Pak Iwan kepada sesama, dengan limpahan Rahmat NYA …. Amin YRA…

    Mohon ijin saya akan tag ke fb saya utk lebih luas lagi sharing bgmn Tuhan begitu adil, dan saya merasa lebih indah, serta lebih enak dibaca, setelah disusun ulang oleh ahlinya seperti tulisan parenting Pak Iwan.

    Best, Endang

    ________________________________

  10. araaminoe says:

    Subhanallah… Standing ovation buat Ibu Endang yang telah berhasil mendidik putranya dan untuk Mas Ade four tumbs up, dan untuk Bapak Iwan matur nuwun sudah memberikan informasi yang menginspirasi, dan juga linknya ke Ibu Endang… 🙂

    Seorang Ibu memang hebat….

    • Saya lagi mencoba terhubung dengan para ibu yang luar biasa sabar mengasuh putra/putrinya yang difabel dan mampu mencetak prestasi mendunia, list & contact sudah ada di tangan, makanya itu saya kasih jilid 1.
      Pastinya ada kesamaan prinsip di antara mereka.

      Keep stay tune ya… akan dirilis ibu luar biasa berikutnya. Ibu siapakah dia?

      *Duh, baru inget… saya lupa memasang foto sang ibu. Bentar nanti saya edit lagi.*

    • araaminoe says:

      Nggih insyaallah asmie akan tetap stay tune… 😀

      Matur nuwun…

  11. anis says:

    Ternyata anak difabel namun dengan pola pengasuhan yang benar akan menghasilkan anak yang penuh prestasi luar biasa.

    Saya punya teman, yang anaknya dengan gangguang tulang belakang meski masih satu tahun namun perkembangannya yang jauh dari anak pada umumnya menunjukkan kalau ada yang bermasalah pada diri sang anak, namun si orang tua malah tidak mau menerima kalau si anak harus ada pengasuhan khusus. sangat di sayangkan

    • Sayang sekali ya, mbak Anis.
      Semoga orang tuanya cepat sadar. Ayo dibantu menyadarkan temanmu, mbak. Biasanya menggunakan pendekatan orang ketiga lebih mendekati keberhasilan.

  12. Ryan says:

    makasih mas postingannya.

  13. Tuhan maha adil 🙂 . Mereka yang punya keterbatasan secara fisik malah bisa menorehkan prestasi yang memukau yang kadang tidak bisa dilakukan orang normal.

  14. tinsyam says:

    orangtua yang hebat menghasilkan anak yang hebat.. dimana ada kekurangan disitulah kelebihan..

    • Itulah prinsip keseimbangan yang terbukti nyata.
      Semoga apa yang disampaikan ibu Endang mampu menjadikan semangat bagi para orangtua yang berupaya menjadikan putra/putrinya berkepribadian unggul.

  15. jampang says:

    buah kasih sayang orang tua….

  16. Teguh Puja says:

    Tentunya pola pengasuhan yang dilakukan Bunda dari Mas Ade bisa jadi pelajaran yang bermanfaat. Semoga bisa jadi tambahan pengetahuan juga nantinya.

  17. Yudhi Hendro says:

    luar biasa talenta dan kemampuannya, pak

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Let me share my passion

””

My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

RSS Seruji | Kantor Berita Umat

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: