Home » Amazing People » Pola Pengasuhan Anak Difabel Yang Berprestasi Mendunia [1]

Pola Pengasuhan Anak Difabel Yang Berprestasi Mendunia [1]

Blog Stats

  • 2,277,235

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 6,408 other followers

Prinsip ke-7:
Memberikan kesempatan untuk membangun kemandirian melalui musik

Ade belajar musik atas keinginannya sendiri, termasuk menentukan alat musik dan jenis musik mana yang akan didalami untuk karier musiknya. Ade tidak pernah kursus musik secara khusus, tetapi harus diakui bahwa proses pembelajaran dan pendewasaan Ade dalam musik justru dari banyaknya jam sessions dengan musisi lokal (pada saat berada di Chicago dan kemudian tentunya akan banyak dilakukan di Los Angeles saat ini), dan musisi jazz setempat (pada saat berada di Chicago dan kemudian tentunya akan banyak dilakukan Ade di Los Angeles setelah kami lebih settled, tidak tinggal di hotel seperti saat ini). Selain itu, tidak dapat dipungkiri bagaimana Ade banyak mengambil manfaat dari kolaborasi/performance musisi jazz Indonesia yang mungkin seusia/lebih tua dari saya sewaktu di tanah air pada Januari tahun 2008 s.d. Mei tahun 2013.

Mendengarkan banyak CD/DVD jazz dari berbagai musisi dalam dan luar negeri bagi Ade bukanlah hanya sekedar mendengarkan, tetapi disitulah Ade mencoba “mencuri” ilmu permainan musik jazz nya atau untuk lebih memperkaya permainan musik jazz Ade. Oleh karena itu, Ade sangat piawai untuk mengkombinasikan gaya musik beberapa musisi jazz dalam permainan piano / keyboard-nya, misalnya dapat dilihat di berbagai penampilan Ade adalah kombinasi dari gaya musik Oscar Peterson, Miles Davis, Chick Corea, Ray Charles, Robert Irving II, Stevie Wonder dll dalam gaya musik Ade (his own style).

Berikut beberapa contoh links (youtube) permainan keyboard genre jazz Ade yang berbeda-beda di bawah ini untuk memberikan gambaran penguasaan Ade dalam musik jazz berdasarkan proses pembelajaran tersebut di atas.

Ade Irawan di ajang Java Jazz Festival 2012 (Jazz Standard):

ade irawan

Ade & Brother dalam Java Jazz Festival 2013 [Credit: Jazzuality.com]

Ade dan Agam Hamzah & The Playerz (Fusion):

Ade Irawan

Ade, Agam Hamzah & The Playerz [Credit: Youtube]

Duet Ade dan Agam Hamzah di ajang Ramadhan Jazz Festival 2012:

Ade Irawan

Ade dan Agam Hamzah [Credit: Youtube]

.
Prinsip ke-8:
Mendukung Anak dengan Menjadi Orangtua Pembelajar dan Berkomitmen Penuh Menemani Perjalanan Karir Anak

Saya dan suami tidak banyak mencampuri bagaimana Ade berkarya dalam musik, misalnya alat musik dan jenis / genre musik apa yang dipilih Ade untuk menjadi bagian hidupnya, karena kami berdua bukan musisi dan bahkan kami tidak dapat memainkan alat musik apapun. Diakui memang kami mengenalkan berbagai jenis musik, dan kemudian berbagai genre musik jazz kepada Ade, termasuk misalnya Ade banyak mengenal lagu jawa (pentatonis) dan irama keroncong dari eyangnya (nenek), dan bahkan pembantu kami sering mendengarkan musik dangdut sambil mengasuh Ade kecil pada saat kami berdua dikantor atau sedang di luar rumah.

Kami berikan kebebasan Ade untuk memilih jenis musik mana yang merasa nyaman dan lebih dapat mengekspresikan jiwa musisinya. Sebagai konsekuensinya, saya dan suami harus selalu ‘siap belajar’ setiap ada pertanyaan dan keingintahuan Ade dalam proses mencari warna musik yang sesuai dengan dirinya.

Sebenarnya bakat mengarang lagu sudah mulai tampak sejak Ade berusia 5 tahun, karena Ade sudah mulai mencoba membuat komposisi sederhana lagu dangdut pada waktu itu dan mulai sering mencoba meng-impovisasikan lagu-lagu yang didengarnya dengan dirubah ‘versi Ade’. Hanya sayangnya, pada saat itu tidak terpikir oleh saya untuk mendokumentasikan semua ‘proses Ade dalam melengkapi kemampuannya bermusik’.

Pada tahun 2003 (usia 9 tahun) Ade mulai menetapkan untuk mendalami musik jazz dengan lebih serius. Hal itu ketika Tante dan Oom-nya (Wiwik Mardeana Dewi & Iwan Kurniawan – adik saya) memberikan kaset Bubi Chen, walaupun sebenarnya dari usia 2 tahun s.d. 5 tahun Ade sering kami bawa ke café-café di New York yang banyak memperdengarkan lagu-lagu jazz.

Terus terang saya adalah yang selalu meyakini bahwa Ade tidak perlu sekolah musik (Insya Allah itulah petunjuk Tuhan yang saya peroleh setiap memohon petunjuk NYA dalam ibadah–ibadah saya). Logika sederhana saya adalah Ade yang seorang tunanetra, tidak cocok untuk berguru kepada guru musik yang nota bene mempunyai penglihatan dan berdasarkan teori musik orang awas/normal. Dengan demikian, saya selalu mendorong Ade, dan sering menemani untuk memberi semangat, untuk mempelajari sendiri lagu-lagu yang didengar dan mengembangkan musiknya sesuai dengan keinginan/kenyaman hatinya (dalam hal ini, saya percaya Tuhan memberikan guidance melalui hati kecilnya).

Saya dan suami secara total memberikan dukungan atas pilihan musik Ade, bahkan pernah terjadi saya harus ‘kerja keras’ mencari referensi di google/i-tunes/youtube dll agar Ade dapat penjelasan lebih baik tentang musik jazz, termasuk sejarahnya, ketika Ade menentukan jenis musik jazz dalam kehidupannya ke depan, dan pada saat Ade mulai masuk dunia professional jazz di Chicago sekitar tahun 2006.

Saya adalah penikmat musik klasik, dan tidak mengerti mendalam musik jazz sebelum tahun 2003. Untuk itu, saya, dan juga suami saya, berusaha ‘belajar’ secepat mungkin untuk menambah wawasan, agar dapat menjawab pertanyaan dan keingintahuan Ade atas jenis atau genre musik yang menarik baginya. Saya bahkan harus banyak bertanya kepada beberapa musisi yang anggap handal untuk membantu saya mengisi pengetahuan musik atau sebagai bahan diskusi dengan Ade.

Saya mencoba meluangkan waktu diantara kesibukan saya sebagai pegawai negeri (PNS) suatu kementerian pemerintah, dan saya memberikan komitmen penuh saya untuk ‘menemani’ perjalanan karier musik Ade, demikian pula suami saya. Saya bekerja dari pagi hingga sore/malam hari sebagai PNS dan sering baru tidur dini hari, karena harus menemani Ade di café-café / performance-nya, atau hanya sekedar berdiskusi tentang musik dengan Ade di rumah (di depan pianonya) pada saat dia membutuhkan teman diskusi. Secara umum di kalangan musisi jazz, Ade dikenal pendiam, tetapi tidak demikian di depan mama-papanya atau dengan adiknya. Bahkan ketika Ade sedang ‘good mood’, saya sering menemani Ade untuk berdiskusi musik dan bermain piano hingga larut malam/dini hari atau ketika Ade sendiri merasa lelah dan perlu istirahat. Sesuai yang saya yakini dan berdasarkan summary semua ‘pelajaran’ dari para guru Ade di Inggris dulu, dukungan penuh (full support) seorang ibu sangat berarti sekali bagi ABK[5]).

.
Prinsip ke-9:
Menanamkan Mental Tidak Sombong Agar Ade Selalu Bersyukur Kepada Allah

Untuk lebih memperjelaskan bagaimana hubungan saya dan Ade, saya share cerita berikut. Beberapa kali saya bisa menjadi satu-satunya orang yang memberikan kritik, walaupun penampilan Ade memperoleh banyak pujian dari para musisi / seniornya / media massa. Hal itu sering saya lakukan dengan keyakinan bahwa manusia tidak pernah sempurna, dan harus selalu bersyukur kepada Tuhan YME dan memohon kepada-NYA untuk lebih baik. Bagaimanapun menjadi sukses di usia muda, harus selalu dibekali kesadaran tersebut agar tidak menjadi takabur atas kemampuannya, yang sebenarya adalah anugerah dari Allah.

Dengan demikian, saya dan suami saya selalu menjaga Ade untuk tidak mudah puas diri, dan selalu mendorong Ade untuk terus belajar menjadi lebih baik, tanpa melupakan untuk memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan petunjuk-NYA. Di lain sisi, kami juga menjaga Ade untuk tidak percaya diri berlebihan dan merendahkan musisi lain (walaupun mungkin memang kemampuannya di bawah Ade). Oleh karena itu, apabila diperhatikan benar-benar, Ade dapat bermain dengan musisi siapa saja, baik yang seusia tidak jauh berbeda atau dengan yang seusia / lebih tua dari usia orang tuanya. Ade mempunyai kebiasaan baik untuk senantiasa menjaga ‘harmoni’ musik dalam satu group band, dan Ade bukan model musisi yang senang menonjolkan diri dalam penampilan group. Itu pula alasannya, apabila diperhatikan dalam CV Ade selama di Indonesia, mengapa tertulis banyak group yang pernah bermain bersama Ade (list di halaman akhir jurnal ini). Hal itu belum termasuk dalam penampilan private bersama group yang berbeda-beda, yang tidak terlihat dalam CV.

.
Prinsip ke-10:
Menanamkan Semangat Untuk “Menjadi Dirinya Sendiri”

Ade tidak pernah patah semangat dalam hidupnya. Hal itu merupakan anugerah Tuhan buat kami orang tuanya, karena kami dengan mudah dapat selalu memicu semangatnya setiap kali Ade merasa kesal dengan penampilannya sendiri yang dianggap tidak sesuai dengan harapannya, walaupun mungkin banyak pujian disampaikan kepada Ade atas penampilan / konsernya yang memukau).

Ade selalu disiplin pada diri sendiri untuk berlatih rutin, misalnya minimal 2 jam sehari pada saat awal-awal mendalami jazz dan tetap untuk selalu menjaga kontinuitas pembelajaran musiknya setiap hari. Hal itu tetap dilakukan hingga saat ini. Sering Ade melakukan analisa-analisa permainan piano musisi lain, termasuk pianis-pianis jazz dunia, untuk bisa menerapkan pada diri sendiri, dan berusaha menyesuaikanya dengan gaya musik sendiri (his own style). Ade lebih senang diterima dengan gaya permainan pianonya sendiri, daripada meniru sepenuhnya pada musisi/pianis tertentu yang ternama sekalipun. Hal itu menjadi prinsip hidupnya, dan mungkin dapat dikatakan cara berpikir Ade dari kecil.

======================================
Lanjut ke halaman 4: Prinsip ke-11 sampai ke-15
======================================

Pages: 1 2 3 4 5


24 Comments

  1. sy ibu yg puny anak difabel (hanya punya1 tangan) umr 3 th MasyaAlloh dia sangat lincah.tdk pnakut .bagaimana bsk di usia sekolahny biar dia tetap jd ank yg percaya diri

  2. Materi tambahan:

    Selintas Tentang Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus
    oleh Dr. Wiwin Hendriani, M.Si.
    Dept. Psikologi Pendidikan dan Perkembangan.
    Fak. Psikologi Unair Surabaya

  3. nurme says:

    Terharu bacanya, banyak ilmu disharing disini

  4. Subhanallah ya, ini pelajaran bermanfaat sekali pak. yang saya tangkap dari cerita ini kalau kitanya ikhlas menerima apapun ketentuan allah, seorang anak yang memiliki keterbatasan sekali pun bisa menghasilkan prestasi yang memukau dan pasti membuat orang tuanya bangga 🙂

  5. 'Ne says:

    Luar biasaa.. perlu dicontoh itu disiplin dirinya.. 🙂

  6. rusydi hikmawan says:

    sy nyimak dulu, pak. rugi gak dibaca tuntas. super sekali orang tua yg sukses mendidik dan merawat anaknya seperti itu

  7. Luar biasa Ibu Endang dengan 15 prinsipnya dalam membesrkan Ade…

    Ini bisa dijadiin buku loh Mas Iwan…

  8. Subhanamaakholaqta hadza bathila…
    Saatnya menghargai potensi anak tak hanya dari sisi akademis semata ya pak

  9. Endang Mardeyani says:

    Dear Pak Iwan,

    Terima kasih banyak atas kerjasama dan bantuannya untuk menyebarluaskan Kebesaran Tuhan melalui kehidupan Ade sbg pianis tunanetra. Semoga Tuhan yang membalas semua kebaikan2 dan niat baik Pak Iwan kepada sesama, dengan limpahan Rahmat NYA …. Amin YRA…

    Mohon ijin saya akan tag ke fb saya utk lebih luas lagi sharing bgmn Tuhan begitu adil, dan saya merasa lebih indah, serta lebih enak dibaca, setelah disusun ulang oleh ahlinya seperti tulisan parenting Pak Iwan.

    Best, Endang

    ________________________________

  10. araaminoe says:

    Subhanallah… Standing ovation buat Ibu Endang yang telah berhasil mendidik putranya dan untuk Mas Ade four tumbs up, dan untuk Bapak Iwan matur nuwun sudah memberikan informasi yang menginspirasi, dan juga linknya ke Ibu Endang… 🙂

    Seorang Ibu memang hebat….

    • Saya lagi mencoba terhubung dengan para ibu yang luar biasa sabar mengasuh putra/putrinya yang difabel dan mampu mencetak prestasi mendunia, list & contact sudah ada di tangan, makanya itu saya kasih jilid 1.
      Pastinya ada kesamaan prinsip di antara mereka.

      Keep stay tune ya… akan dirilis ibu luar biasa berikutnya. Ibu siapakah dia?

      *Duh, baru inget… saya lupa memasang foto sang ibu. Bentar nanti saya edit lagi.*

    • araaminoe says:

      Nggih insyaallah asmie akan tetap stay tune… 😀

      Matur nuwun…

  11. anis says:

    Ternyata anak difabel namun dengan pola pengasuhan yang benar akan menghasilkan anak yang penuh prestasi luar biasa.

    Saya punya teman, yang anaknya dengan gangguang tulang belakang meski masih satu tahun namun perkembangannya yang jauh dari anak pada umumnya menunjukkan kalau ada yang bermasalah pada diri sang anak, namun si orang tua malah tidak mau menerima kalau si anak harus ada pengasuhan khusus. sangat di sayangkan

    • Sayang sekali ya, mbak Anis.
      Semoga orang tuanya cepat sadar. Ayo dibantu menyadarkan temanmu, mbak. Biasanya menggunakan pendekatan orang ketiga lebih mendekati keberhasilan.

  12. Ryan says:

    makasih mas postingannya.

  13. Tuhan maha adil 🙂 . Mereka yang punya keterbatasan secara fisik malah bisa menorehkan prestasi yang memukau yang kadang tidak bisa dilakukan orang normal.

  14. tinsyam says:

    orangtua yang hebat menghasilkan anak yang hebat.. dimana ada kekurangan disitulah kelebihan..

    • Itulah prinsip keseimbangan yang terbukti nyata.
      Semoga apa yang disampaikan ibu Endang mampu menjadikan semangat bagi para orangtua yang berupaya menjadikan putra/putrinya berkepribadian unggul.

  15. jampang says:

    buah kasih sayang orang tua….

  16. Teguh Puja says:

    Tentunya pola pengasuhan yang dilakukan Bunda dari Mas Ade bisa jadi pelajaran yang bermanfaat. Semoga bisa jadi tambahan pengetahuan juga nantinya.

  17. Yudhi Hendro says:

    luar biasa talenta dan kemampuannya, pak

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Let me share my passion

””

My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

RSS Seruji | Kantor Berita Umat

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: