Home » Amazing People » Pola Pengasuhan Anak Difabel Yang Berprestasi Mendunia [1]

Pola Pengasuhan Anak Difabel Yang Berprestasi Mendunia [1]

Blog Stats

  • 2,284,942

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 6,408 other followers

Ade Irawan

Ade Irawan di Bentara Budaya. Jakarta [credit: fanpage]

15 Prinsip Parenting – Pola Pengasuhan Ade Irawan.
Catatan:
Penggunaan kata “saya” pada tulisan prinsip ke-1 sampai ke-15 yang dimaksud adalah ibu Endang Irawan.

.
Prinsip ke-1:
Mensyukuri pemberian Allah dan yakin rencana-Nya terbaik untuk keluarga.

Ade lahir di Inggris, tepatnya di kota Colchester (sekitar 1 jam dari kota London), pada tanggal 15 Januari 1994. Saat itu saya sedang menyelesaikan S2 di Universitas Essex (thesis: Internatioanl Economics). Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dikarenakan saya memperoleh Ade di negara maju yang sangat baik dalam mengantisipasi perkembangan bayi dan anak balita yang mempunyai kebutuhan khusus (ABK) seperti Ade. Walaupun status saya saat itu hanya sebagai foreign student, tetapi saya tetap mendapatkan fasilitas-fasilitas seperti warga negara (citizen) dan penduduk (residence) Inggris, dimana saya dan suami (Irawan Subagio – yang pada saat itu menemani saya sekolah) diberikan 5 (lima) guru khusus untuk membantu saya dalam memantau dan menjaga agar perkembangan bayi Ade tetap positif. Dalam hal ini, termasuk pula seorang psikiater yang menemani saya yang sedang dalam kondisi depresi berat (stadium paling berat), dikarenakan “membutuhkan waktu” untuk menerima kenyataan bahwa Ade sebagai anak pertama dilahirkan disable. (I believe in God –so much- that HE has given the best one for us; But, honestly at that time I did need time to really accept the reality, including what Allah has had “a special plan” for Ade and us).

.
Prinsip ke-2:
Yakin bahwa anak yang terlahir disable itu mempunyai talenta khusus

Dari salah satu guru tersebut, saya sudah dipersiapkan untuk mulai mengenali bakat Ade sedini mungkin. Dalam ilmu mereka, masing-masing anak yang mempunyai kekurangan (disable) biasanya mempunyai talenta khusus sendiri-sendiri, dimana hal itu sering tidak disadari oleh sebagian orang tua ABK.[1] Oleh karena itu, saya dan suami mulai memperlakukan Ade sebagai layaknya bayi di Inggris dengan memberikan banyak mainan dengan berbagai bunyi-bunyian untuk merangsang keingintahuan Ade. Sebagai catatan, di kota kami tinggal tersedia ‘Perpustakaan Mainan’ sehingga kami tidak perlu membeli mainan baru, tetapi cukup meminjam untuk periode tertentu dan mengembalikan setelah itu, sama seperti ‘Perpustakaan Buku’.

.
Prinsip ke-3:
Memperlakukan Ade seperti anak normal lainnya agar tumbuh menjadi pribadi yang menerima kenyataan

Saya ingin share satu pengalaman menarik yang pada awalnya membuat saya menangis haru (tidak tega), namun kemudian saya menyadari bahwa itu merupakan langkah positif bagi perkembangan jiwa Ade di masa mendatang. Sejak usia 3 bulan s.d. usia 9 bulan (pada saat saya harus pulang ke Indonesia setelah berhasil menyelesaikan S2 saya pada bulan September 1994), Ade diharuskan untuk setidaknya 3 jam per hari dititipkan ke day-care universitas. Alasan para guru tersebut adalah memberikan kesempatan Ade untuk diperlakukan normal dan harus ‘bergaul’ dengan bayi-bayi lain, sehingga Ade tidak merasa beda dan merasa seperti halnya bayi-bayi normal lainnya, walaupun pada saat itu sebenarnya bayi Ade selalu ada yang menjaga setiap hari di apartemen kampus (dimana kami tinggal), yakni suami bersama Ibu saya dan Ibu mertua saya (yang khusus datang kemudian dari tanah air untuk menemani kami selama 4 bulan di Colchester).

Pada awalnya saya selalu menangis di pintu day-care setiap kali saya harus meninggalkan Ade dalam pengawasan para petugas day-care kampus, karena perasaan tidak tega. Namun, para guru Ade terus meyakinkan saya bahwa itu akan baik untuk perkembangan jiwa Ade ke depan. Ternyata hal itu memang berbuah positif, karena Ade hingga saat ini tumbuh menjadi pribadi yang dapat menerima kenyataan, dan dengan keterbatasannya Ade selalu positif memacu dirinya untuk tidak kalah berprestasi dengan adik perempuan satu-satunya (Halimah Dewi Irawan – lahir di New York pada tanggal 2 Maret 1998).

.
Prinsip ke-4:
Bersemangat menerapkan berbagai metode menumbuhkan kepercayaan diri Ade

Tanda-tanda talenta Ade mulai terlihat sekitar umur 2,5 tahun dimana Ade lebih serius untuk memainkan nada-nada yang didengarnya dan dituangkan dalam dentingan piano mainannya. Nada-nada itu tidak pernah meleset, bahkan Ade sering ‘bercanda menipu’ saya dengan memainkan bunyi yang sama dengan suara dering HP apabila seseorang menelepon saya. Berdasarkan pengetahuan yang kami punya dari para guru di Inggris, saya dan suami mulai menerapkan berbagai metode untuk terus menumbuhkan kepercayaan diri Ade atas talentanya, yang melebihi kekurangannya, dan membantu untuk mengatasi problem kebanyakan ABK yang biasanya punya tendensi lebih temperamental dibandingkan anak-anak balita normal[2].
Sebagai catatan, pada tahun September 1995 s.d. September 1999 saya ditugaskan di Perwakilan RI di New York, sehingga kami sekeluarga berada di New York pada periode waktu termaksud.

.
Prinsip ke-5:
Bersikap “Tut Wuri Handayani” terhadap keinginan Ade dan membekalinya dengan pengetahuan agama

Melihat Ade lebih tertarik kepada musik, kami banyak membelikan Ade berbagai alat musik mainan, dan bahkan pada usia 4-5 tahun kami juga membelikan Ade alat musik perkusi dan drum lengkap (yang dapat di stel pendek untuk anak-anak). Selanjutnya, pada usia 5 tahun untuk pertama kali Ade mempunyai keyboard 5 oktaf (merk Casio), yang kami beli di New York sebelum kami kembali ke tanah air. Dari usia tersebut, Ade tampak lebih serius memainkan musiknya (nada-nada yang dihasilkan dari dentingan keyboard-nya).

Saya bersyukur kepada Allah karena Ade dilahirkan sebagai pribadi yang mempunyai disiplin diri sendiri yang mengagumkan, yang kami yakin tidak semua anak-anak mempunyai kelebihan itu. Ade selalu berlatih sendiri tanpa kami sebagai orang tua harus memaksa atau memberikan arahan berlebihan. Hal itu terus berlanjut, tanpa paksaan orang tua dan tanpa adanya keharusan untuk mendalami salah satu alat musik, Ade hingga akhirnya lebih serius dengan alat musik keyboard dan pianonya dibandingkan alat musik lainnya. (Saat ini kadang-kadang Ade masih bermain musik dengan pianika-nya).

Sesuai dengan pengetahuan dari para guru Ade di Inggris dulu[3], saya dan suami hanya bertindak “Tut Wuri Handayani” kepada keinginan Ade dalam bermusik, sepanjang hal itu positif perkembangannya. Namun, harus diakui, bahwa kami benar-benar memantau terus perkembangan jiwa Ade dan banyak memberikan penjelasan/nasehat secara langsung atau tidak langsung, sekaligus hal itu untuk mengisi dasar-dasar agama dalam hidupnya.

.
Prinsip ke-6:
Sabar dalam mengajarkan dan mencontohkan nilai-nilai moral pada sang anak

Kami juga memperlakukan Ade secara normal dari kecil, seperti layaknya seorang anak normal, misalnya tetap memarahi dan memberikan penjelasan panjang apabila Ade kecil melakukan kenakalan-kenakalan yang tidak perlu. Saya dan suami sangat serius untuk membentuk rasa percaya diri Ade, sehingga Ade bisa mengenali dan memanfaatkan kelebihan-kelebihannya, untuk mengatasi ketidak-mampuannya dalam melihat. Namun, kami tetap membekali nilai-nilai agama agar tetap dapat low profile walaupun pujian-pujian semakin sering diterima Ade kecil hingga saat ini.

Saya mempunyai ‘gaya marah’ yang agak beda dengan para ibu pada umumnya. Saya tidak pernah marah dengan menggunakan intonasi tinggi, tetapi saya akan menegur anak-anak saya (Ade dan Dewi) dalam penjelasan yang panjang mengapa mama/papanya tidak berkenan dan menerangkan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, dan mana yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan. Kesabaran itu sebenarnya salah satu ‘kunci sukses’ untuk mendidik anak-anak difabel, termasuk anak tunanetra seperti Ade[4].

=====================================
Lanjut ke halaman 3: Prinsip ke-7 sampai ke-10
=====================================

Pages: 1 2 3 4 5


24 Comments

  1. sy ibu yg puny anak difabel (hanya punya1 tangan) umr 3 th MasyaAlloh dia sangat lincah.tdk pnakut .bagaimana bsk di usia sekolahny biar dia tetap jd ank yg percaya diri

  2. Materi tambahan:

    Selintas Tentang Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus
    oleh Dr. Wiwin Hendriani, M.Si.
    Dept. Psikologi Pendidikan dan Perkembangan.
    Fak. Psikologi Unair Surabaya

  3. nurme says:

    Terharu bacanya, banyak ilmu disharing disini

  4. Subhanallah ya, ini pelajaran bermanfaat sekali pak. yang saya tangkap dari cerita ini kalau kitanya ikhlas menerima apapun ketentuan allah, seorang anak yang memiliki keterbatasan sekali pun bisa menghasilkan prestasi yang memukau dan pasti membuat orang tuanya bangga 🙂

  5. 'Ne says:

    Luar biasaa.. perlu dicontoh itu disiplin dirinya.. 🙂

  6. rusydi hikmawan says:

    sy nyimak dulu, pak. rugi gak dibaca tuntas. super sekali orang tua yg sukses mendidik dan merawat anaknya seperti itu

  7. Luar biasa Ibu Endang dengan 15 prinsipnya dalam membesrkan Ade…

    Ini bisa dijadiin buku loh Mas Iwan…

  8. Subhanamaakholaqta hadza bathila…
    Saatnya menghargai potensi anak tak hanya dari sisi akademis semata ya pak

  9. Endang Mardeyani says:

    Dear Pak Iwan,

    Terima kasih banyak atas kerjasama dan bantuannya untuk menyebarluaskan Kebesaran Tuhan melalui kehidupan Ade sbg pianis tunanetra. Semoga Tuhan yang membalas semua kebaikan2 dan niat baik Pak Iwan kepada sesama, dengan limpahan Rahmat NYA …. Amin YRA…

    Mohon ijin saya akan tag ke fb saya utk lebih luas lagi sharing bgmn Tuhan begitu adil, dan saya merasa lebih indah, serta lebih enak dibaca, setelah disusun ulang oleh ahlinya seperti tulisan parenting Pak Iwan.

    Best, Endang

    ________________________________

  10. araaminoe says:

    Subhanallah… Standing ovation buat Ibu Endang yang telah berhasil mendidik putranya dan untuk Mas Ade four tumbs up, dan untuk Bapak Iwan matur nuwun sudah memberikan informasi yang menginspirasi, dan juga linknya ke Ibu Endang… 🙂

    Seorang Ibu memang hebat….

    • Saya lagi mencoba terhubung dengan para ibu yang luar biasa sabar mengasuh putra/putrinya yang difabel dan mampu mencetak prestasi mendunia, list & contact sudah ada di tangan, makanya itu saya kasih jilid 1.
      Pastinya ada kesamaan prinsip di antara mereka.

      Keep stay tune ya… akan dirilis ibu luar biasa berikutnya. Ibu siapakah dia?

      *Duh, baru inget… saya lupa memasang foto sang ibu. Bentar nanti saya edit lagi.*

    • araaminoe says:

      Nggih insyaallah asmie akan tetap stay tune… 😀

      Matur nuwun…

  11. anis says:

    Ternyata anak difabel namun dengan pola pengasuhan yang benar akan menghasilkan anak yang penuh prestasi luar biasa.

    Saya punya teman, yang anaknya dengan gangguang tulang belakang meski masih satu tahun namun perkembangannya yang jauh dari anak pada umumnya menunjukkan kalau ada yang bermasalah pada diri sang anak, namun si orang tua malah tidak mau menerima kalau si anak harus ada pengasuhan khusus. sangat di sayangkan

    • Sayang sekali ya, mbak Anis.
      Semoga orang tuanya cepat sadar. Ayo dibantu menyadarkan temanmu, mbak. Biasanya menggunakan pendekatan orang ketiga lebih mendekati keberhasilan.

  12. Ryan says:

    makasih mas postingannya.

  13. Tuhan maha adil 🙂 . Mereka yang punya keterbatasan secara fisik malah bisa menorehkan prestasi yang memukau yang kadang tidak bisa dilakukan orang normal.

  14. tinsyam says:

    orangtua yang hebat menghasilkan anak yang hebat.. dimana ada kekurangan disitulah kelebihan..

    • Itulah prinsip keseimbangan yang terbukti nyata.
      Semoga apa yang disampaikan ibu Endang mampu menjadikan semangat bagi para orangtua yang berupaya menjadikan putra/putrinya berkepribadian unggul.

  15. jampang says:

    buah kasih sayang orang tua….

  16. Teguh Puja says:

    Tentunya pola pengasuhan yang dilakukan Bunda dari Mas Ade bisa jadi pelajaran yang bermanfaat. Semoga bisa jadi tambahan pengetahuan juga nantinya.

  17. Yudhi Hendro says:

    luar biasa talenta dan kemampuannya, pak

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Let me share my passion

””

My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: