Home » Ghazwul Fikri » Pandangan Sesat JIL tentang Kaum Sodomite

Pandangan Sesat JIL tentang Kaum Sodomite

Blog Stats

  • 2,282,619

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 6,409 other followers

Halaman 2:

Kalau perilaku homoseksual itu menyimpang dari fitrah, mungkinkah bisa disembuhkan?

Insya Allah, BISA, karena perilaku seks manusia sebenarnya bisa dikendalikan. Kuncinya mau atau tidak berusaha untuk mengelola nafsu dengan baik.

Menangani secara khusus terhadap kasus homoseksual adalah bagian dari dakwah Islam yang harus dijalankan karena ini adalah perintah ajaran Islam. Allah telah berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [QS. An-Nahl: 125]

Ayat inilah jawaban bagi mereka yang mudah sekali bilang:
“Jangan terlalu sibuk mengurusi moral orang lain, urus saja moralmu sendiri”

Hmm… mereka lupa atau memang malas meng-kaji Al-Qur’an yang terdapat seruan di atas. Yang namanya kejahatan akibat penyimpangan itu efeknya tidak bersifat personal, tapi mempunyai efek domino yang lebih luas, yang bisa saja korbannya adalah orang baik-baik seperti contoh kasus keluarga ibu Desi. Jangan menunggu keluargamu yang baik-baik perilakunya itu menjadi korban kejahatan orang lain untuk bisa memahami ayat di atas.

Kembali ke soal penyembuhan perilaku homoseksual… Berdasarkan faktor penyebab munculnya perilaku homoseksual, penanganan terhadap mereka dibedakan dari yang karena faktor genetik, psikologis maupun kultural.

Bagi yang disebabkan oleh faktor genetik, perlu ada usaha-usaha medis berupa terapi hormon yang kontinyu dan sistematis dari ahlinya, sebagaimana tertulis dalam qaidah ushul fiqh bahwa bahaya (penyakit) itu harus dihilangkan (diobati).

Sedangkan bagi yang disebabkan karena faktor psikologis (korban perilaku sodomi) maupun kultural dapat disembuhkan dengan terus-menerus melakukan pendampingan terhadap mereka. Diberikan treatment yang terfokus pada modifikasi kognisi-behavioral (pikiran dan perilaku). Perlu ditumbuhkan dalam diri mereka perasaan bahwa mereka dalam kondisi sakit (kesadaran sakit) sehingga kemudian muncul dalam diri mereka motivasi sembuh yang kuat. Bukan memanjakan keinginannya / nafsunya. Selanjutnya mereka harus didampingi oleh psikolog maupun rohaniawan untuk memantau dan terus memberi motivasi sembuh. Mereka dibimbing untuk sadar akan hakekat perilaku mereka, dan secara gradual dilatih agar mampu memutus mata rantai antara syahwat dan aksi. Hindarkan mereka dari kontak sesama mereka yang akan berakibat pada munculnya kembali keinginan untuk berperilaku homoseksual.

Keinginan para pelaku homoseksual untuk melampiaskan nafsunya perlu disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan positif, seperti kajian Islam, forum diskusi, kegiatan olahraga, entrepreneurship dan lain-lain. Tentu saja aktivitas ini mendapat kontrol yang sistemik dan terpogram dalam satu paket dengan penanganan komprehensif terhadap kaum homoseksual. Kalau mereka punya akun socmed, sebaiknya unfollow akun-akun yang tidak tahu malu yang mempertontonkan kelamin.

Kebanyakan mereka yang pesimis untuk sembuh adalah karena masih MEMANJAKAN pemenuhan nafsunya. Untuk itu saya rekomendasikan Anda membaca artikel: Jadi Gay Itu Pilihan, Bukan Takdir! Lihatlah betapa mereka berhasil sembuh dan kembali ke fitrahnya. Silakan hubungi dan mengunjungi Yayasan Peduli Sahabat yang sudah berhasil mengembalikan pasien-pasiennya ke fitrahnya sebagai manusia normal.

.
Kaum homoseksual bilang: “Mencintai itu adalah hak asasi. Saya juga tak mau seperti ini, tapi Tuhan menciptakan saya berbeda”

Alhamdulillah, Anda tidak mau seperti itu.
Apakah Anda ingin mencari kebenaran yang datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Apakah Anda hanya ingin mencari pembenaran yang datangnya dari manusia?
Ketahuilah bahwa mencari kebenaran adalah sikap yang benar. Sedangkan upaya mencari pembenaran adalah sikap yang salah.

Mari kita sepakati bahwa jalan yang kita cari adalah jalan kebenaran dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan dari makluk-Nya. Satu-satunya Jalan Kebenaran dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah melalui Firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an yang diperjelas lagi aplikasinya dalam Al-Hadist. Bukti kebenaran itu datang dari Allah adalah adanya berbagai petunjuk kerusakan yang ditimbulkan oleh perilaku menyimpang tersebut.

Mari membuka diri, hati, pikiran dan sanubari agar hidayah Allah bisa datang. Bertahanlah dalam menguatkan iman, dan jangan memendam masalah sendirian. Allah tidak mungkin meninggalkan hambanya yang tengah berikhtiar.

Evaluasi kembali lingkungan pergaulanmu, apakah selama ini melenakan dan menjerumuskanmu.

Mari datangi acara-acara pengajian yang bisa menyejukan dan menembus ke relung jiwa dan nur Illahi yang ada pada diri kita masing-masing.

Ingat, umur kita yang singkat ini kelak di akherat nanti akan diminta pertanggungjawaban amal dan perbuatan selama hidup di dunia.

Sebagai penutup …

Semoga contoh-contoh kasus di atas bisa membuka mata hati kalian, wahai para pegiat / aktivis yang menumbuh-suburkan perilaku homoseksual di negeri ini. Prof.Dr.KH Adian Husaini, MA pernah mengatakan: Dosa Pemikiran itu tidak ringan, karena menyebarkan pemikiran yang salah juga berat dosanya, apalagi jika kemudian diikuti oleh banyak orang.

Mari bersama-sama memberikan penyadaran kepada mereka, menunjukkan jalan yang lurus, jalan kembali pada fitrahnya sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai dengan seruan-Nya. Itulah bentuk kasih sayang yang sebenarnya kepada mereka. Bukan sekedar membela hak-haknya namun menjerumuskan ke masa depan yang gelap, itu jahat sekali.

Ayo berubah dan taubat.

Ya Allah, saksikanlah …!

Iwan Yuliyanto
02.09.2012

Pages: 1 2

Let me share my passion

””

My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat