Home » Ghazwul Fikri » Bedah Film Kontroversi “?” karya Hanung Bramantyo

Bedah Film Kontroversi “?” karya Hanung Bramantyo

Blog Stats

  • 2,301,118

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 6,365 other followers

Tanggapan atas Penyesatan Opini Hanung Bramantyo melalui Dapur Film Community

Tidak hanya dalam film “?”, Hanung juga telah semakin jauh menyesatkan masyarakat melalui tulisannya pada Dapur Film Community (15 April 2011) yang memuat Dialog Terbuka Hanung dengan wartawan Suara Islam (SI) melalui Facebook-nya, dengan menyelewengkan ayat-ayat Al-Qur’an serta menafsirkannya dengan penuh nafsu.
Link: http://dapurfilm.com/2011/04/dialog-terbuka-film-tanda-tanya/

Alhamdulillah, tanggapan Hanung terhadap wartawan Suara Islam tersebut telah ditanggapi kembali oleh wartawan SI, Abdul Halim Ayim pagi tadi 16 April 2011, pk 07.32 dan Sayful Fahmy MH.

Silakan menyimak bagaimana penyesatan opini yang dilakukan Hanung tersebut dan bagaimana tanggapan opini tersebut. Pada prinsipnya tetaplah berpegang teguh pada petunjuk yang telah tertulis dalam kitab suci:

“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepada kamu orang fasik membawa berita periksalah dgn teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat:6)

***********************

DIALOG TERBUKA FILM ‘TANDA TANYA’ | Dapur Film Community
Posted on April 15, 2011 by Vieta

Dialog ini saya kutip dari inbox massage di Facebook saya (Hanung Bramantyo) tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Kecuali jawaban atas pertanyaan tersebut saya edit dan sesuaikan.

Awalnya message ini tidak saya hiraukan, karena saya merasa orang tersebut salah dalam menafsir film saya. Tapi kemudian saya mempertimbangkan baik-buruknya karena menyangkut pandangan miring atas film saya dan pribadi saya terhadap Islam. Saya sengaja mencantumkan inisial BH kepada orang tersebut demi menghargai beliau. Semoga dialog ini bermanfaat.

.
1. BH: Film “?” yang anda sutradarai penuh dengan fitnah, kebencian dan merendahkan martabat Islam dan umat Islam. Film anda penuh dengan ajaran sesat pluralisme yang menjadi saudara kandung atheisme dan kemusyrikan.

HB: Terima kasih sudah menyaksikan film saya sekaligus melakukan kritik atas film tersebut. Saya sangat menghargai pandangan anda. Sebagai sebuah tafsir atas ‘teks’ saya anggap pendapat anda syah. Sayangnya, anda tidak memberikan kemerdekaan bagi tafsir yang berbeda. Anda sudah terlanjur melakukan judgment berdasarkan ‘teks’ yg anda baca dan tafsirkan.

.
2. BH: ketika pembukaan sudah menampilkan adegan penusukan terhadap pendeta, kemudian bagian akhir pengeboman terhadap Gereja. Jelas secara tersirat dan tersurat, anda menuduh pelakunya orang yang beragama Islam dan umat Islam identik dengan kekerasan dan teroris. Jelaskan!

HB: Tafsir anda mengatakan bahwa adegan kekerasan: penusukan pastur dan pengeboman dilakukan oleh orang Islam. Padahal sama sekali dalam dua adegan tersebut saya tidak menampilkan orang Islam (setidaknya orang berbaju putih-putih, bersorban atau berkopyah). Di adegan penusukan pastur, saya menampilkan seorang lelaki berjaket coklat memegang pisau dan seorang pengendara motor. Kalau itu ditafsir orang Islam, itu semata-mata tafsir anda.

Di awal Film saya justru menampilkan sekelompok remaja masjid (bukan orang tua) yang melakukan perawatan atas masjid. Bukankah dalam hadist dianjurkan seorang pemuda menghabiskan waktunya untuk mengelola dan merawat masjid? Jadi tidak ada pesan tersurat apapun yang manyatakan bahwa pelaku penusukan dan pengeboman adalah orang islam.

——————–
Jawaban Sayful Fahmy MH:

Saat ini SECARA FAKTA yang sedang hangat – hangatnya adalah PERSELISIHAN antara kaum Muslimin dgn kaum Kristiani. Jadi, seolah – olah (Ini tafsir saya dan kaum Muslimin yg masih Istiqomah di Jalan Alloh) anda memanfaatkan situasi YANG SEDANG MENEGANG. Jadi, siapakah orang yang berpakaian putih – putih lalu pakai kopyah / sorban jika bukan orang Islam? Apakai itu orang BUDHA? Apakah itu orang HINDHU? Apakah itu orang KRISTIAN sendiri? Orang yang melihat, siapapun dia, PASTI menganggap itu adalah sekumpulan orang Islam. Mungkin hanya anda sendiri yang ber-‘taqiyyah’ menganggap itu bukan orang Islam. Seandainya anda mau bikin adegan yang seperti itu, kenapa anda tidak membikin adegan seorang berkepala botak memakai kalung tasbih besar di leher yang menusuk itu pendeta? Kenapa anda tidak membikin, sekelompok orang yang berpakaian hitam2 dan berkalung salib yang menyerang? Kenapa harus orang yang berpakaian putih – putih dan berkopiah putih?

Peristiwa penusukan, mengingatkan kita dengan peristiwa CIKETING. Dan pengeboman gereja mengingatkan kita dengan kasus BOM NATAL. Apakah anda berani bersumpah atas nama Alloh 3x bahwa adegan itu tidak menginspirasi dari kejadian2 tersebut ?

Dalam kasus ini, anda telah membuat FITNAH terhadap ummat ini:

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah, kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka adzab jahanam dan bagi mereka adzab yang membakar.” (Al-Buruuj: 10)
——————–
KOMENTAR SAYA: Hanung memberikan jawaban menipu kepada pembaca tentang situasi sekumpulan orang yang melakukan penusukan dan pengeboman. Mari kita simak dialog selanjutnya…

.
3. BH: Anda mendukung seorang menjadi Murtad. Menjadi murtad yang dilakukan oleh Endhita (Rika) adalah suatu pilihan hidup. Kalau semula kedua orangtua dan anaknya menentangnya, akhirnya mereka setuju. Padahal dalam Islam murtad adalah suatu perkara yang besar dimana hukumannya adalah qishash (hukuman mati), sama dengan zina yang dirajam.

HB: Bahwa tafsir Rika murtad karena sakit hati dengan suaminya yang mengajak poligami saya benarkan. Tapi bukan berarti ‘teks’ tersebut mendukung pemurtadan. Sejak awal keputusan Rika sudah ditentang oleh Surya, anaknya dan orang tuanya. Bagian mana yang menyatakan dukungan? Saya akan menjelaskan berdasarkan shot-shot dalam filmnya:

PERTAMA, Coba perhatikan shotnya: Surya berdialog dengan Rika: “Kamu mengkhianati 2 hal sekaligus: perkawinan dan Allah!“. Kalau toh disitu Surya diam saja ketika Rika menyanggahnya, bukan berarti Surya mendukungnya. Tapi sikap menghargai pilihan Rika. Hal itu tertera dalam surat Al Hajj ayat 7 : ‘Sesungguhnya orang yang beriman, kaum Nasrani, Shaabi-iin, Majusi dan orang Musyrik, Allah akan memberikan keputusan diantara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu’

Sikap Surya juga merupakan cerminan dari firman Allah: ‘Engkau (Muhammad) tidak diutus dengan mandat memaksa mereka beragama, tapi mengutus engkau untuk MEMBERI KABAR GEMBIRA yang orang mengakui kebenaran Islam dan kabar buruk dan ancaman bagi yang mengingkarinya.’

KEDUA, Abi, anak Rika, juga tidak mendukung sikap Rika ‘yang Berubah’. Abi protes dengan ibunya dengan cara enggan bicara. Bahkan hanya sekedar minum susu dikala pagi saja Abi tidak mau menghabiskan di depan ibunya. Demikian halnya Abi juga tidak mau makan sarapan yang disajikan ibunya. Itu adalah sikap protes dia kepada sang Ibu yang murtad. Jika toh Abi kemudian bersikap seperti Surya, bukan berarti abi mendukungnya. Tapi sikap ,menghargai pilihan. Lihat dialog Abi saat bersama Rika: “… Kata Pak Ustadz, orang islam gak boleh marah lebih dari tiga hari…”. Apakah dialog tersebut diartikan mendukung kemurtadan? Bukankah makna dari dialog tersebut adalah mencerminkan sikap orang muslim yang murah hati: Pemaaf dan bijaksana (jika marah tidak boleh lebih dari tiga hari).

KETIGA, Orang tua Rika juga menyatakan penolakan pada saat Rika menelphone Ibunya: “… Bu, Rika sudah dibaptis. Mulai hari ini nama depan Rika Tereshia.” Lalu si Ibu menutup telephonenya. Bagian mana yang menyatakan dukungan?

Di bagian akhir film, saya menampilkan orang tua Rika datang ke acara syukuran Khatam Quran cucunya. Kemudian Rika memeluk ibunya dengan haru. Tidak ada sedikitpun dialog yang menyatakan dukungan terhadap kemurtadan Rika. Adegan tersebut menampilkan hubungan emosional antara anak dengan ibunya, serta cucu dengan kakek-neneknya. Dimanakah pernyataan dukungan atas kemurtadan Rika?

Jadi jika anda membaca ‘teks’ dalam adegan tersebut sebagai sebuah dukungan terhadap kemurtadan, maka itu tafsir anda. Bukan saya …
——————–
Jawaban Sayful Fahmy MH:

Jika anda bertanya bagian mana yang menyatakan dukungan terhadap kemurtadan? Ya, bagian anda membuat film. Anda membuat film dengan berbagai macam syubhat sesat yang sebetulnya dilarang disantap oleh ummat. Jika anda mendukung Islam di dalam kemurtadan Rika.

Kenapa anda tidak mengemukakan hadits shohih:
“Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam (HR. BUKHARI, sanad shohih) bersabda: ‘siapa saja yang mengganti Agamanya maka, bunuhlah ia.’”

Dan sangat amat tidak cocok jika perkara murtad disandingkan dengan hadist tidak bolehnya seorang mukmin dengan mukmin berdiam2an selama lebih dari 3 hari. Anak TPA pun tahu hadist tersebut khusus untuk perselisihan kecil antara sesama Muslim, nah kalau perkara Muslim dengan Murtad itu sudah ta’zir dan memakai hadits Bukhori di atas. Gak pantas dan sangat sesat jika memakai hadits yang bukan pada tempatnya.

Dan mengapa anda MENYELEWENGKAN tarjamah ayat Al-Hajj: 7 ?

Anda menulis Al-Hajj:7 : ‘‘Sesungguhnya orang yang beriman, kaum Nasrani, Shaabi-iin, Majusi dan orang Musyrik, Allah akan memberikan keputusan diantara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu’”

Itu SALAH, seharusnya:

“dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Alloh membangkitkan semua orang di dalam kubur.”

Kenapa anda berani menyelewengkan arti sedemikian parah? Di ayat itu, Alloh justru mematahkan pendapat para atheis dan komunis, bahwa Alloh akan membangkitkan mereka semua setelah mereka mati. Sedang mereka tidak percaya hari Kiamat.
——————–
KOMENTAR SAYA: Hanung dengan secara kasar menipu pembaca dengan menyelewengkan arti ayat Al-Qur’an. Naudzubillahi min dzalik…. Mari kita simak dialog selanjutnya…

.
4. BH: Jelaskan gambaran muslimah berjilbab, Menuk (Revalina S Temat) yang merasa nyaman bekerja di restoran Cina milik Tan Kat Sun (Hengki Sulaiman) yang ada masakan babinya. Anda ingin menggambarkan seolah-olah babi itu halal. Terbukti pada bulan puasa sepi, berarti restoran itu para pelanggannya umat Islam.

HB: Menuk adalah perempuan muslimah. Dia nyaman bekerja di tempat pak Tan karena pak Tan adalah orang yang baik. Selalu mengingatkan karyawan muslimnya sholat. Bagian mana yang anda maksud bahwa babi itu halal?

Saya justru menggambarkan dengan tegas adegan yang membedakan Babi dan bukan babi lebih dari sekali adegan.

Pertama, pada saat Pembeli berjilbab bertanya soal menu makanan restoran pak Tan. Menuk mengatakan bahwa panci dan wajan yang dipakai buat memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. (di film terdapat shot wajan, dan shot Menuk yang dialog dengan ibu berjilbab. Dialog agak kepotong karena LSF memotongnya. Alasannya silakan tanyakan kepada LSF)

Kedua, pada saat Pak Tan mengajari Ping Hen (anaknya) mengelola restoran. Pak Tan dengan tegas menyatakan pembedaan antara babi dan bukan babi: “… Ini sodet dengan tanda merah buat babi, dan yang tidak ada tanda merah bukan babi …”

Jika saya menghalalkan Babi, tentunya saya tidak akan menggambarkan pemisahan yang tegas antara sodet, panci, pisau, dsb tersebut. Jadi tafsir anda yang mengatakan bahwa saya menghalalkan babi, semata-mata tafsir saya …

Dalam film ini, saya justru menggambarkan sikap Menuk sebagai Muslimah yang menolak pernikahan beda agama dengan cara lebih memilih menikah dengan soleh (yang muslim) meski jobless, dibanding hendra. Padahal cintanya kepada hendra: “… Saya tahu kita pernah punya kisah yang mungkin buat mas menyakitkan. Tapi buat saya adalah hal yang indah … karena Tuhan mengajarkan arti cinta dalam agama yang berbeda …” (Dialog Menuk kepada Hendra di malam Ramadhan)

Dalam film ini juga, saya menggambarkan sikap pak Tan yang menghargai Asmaul Husna dengan cara meminjam buku 99 Nama Allah milik Menuk. Sikap pak Tan tersebut dinyatakan dalam dialog Hendra: “… Sekarang Hen jadi mengerti kenapa papi bersikap baik dengan orang YANG BUKAN SEAGAMA dengan papi …”

Dialog tersebut merupakan manifestasi dari ajaran Asmaul Husna : Ar Rahman – Ar Rahim … Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Kemudian Pada akhir film, Pak Tan membisikkan sesuatu kepada dimana atas dasar bisikian tersebut Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya: menjadi Mualaf dan merobah restorannya menjadi Halal. Lihat kata-kata isteri pak Tan di akhir film: “… Pi, hari ini Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya SEPERTI YANG PAPI MINTA ….” (Dialog tersebut sebenarnya ungkapan tersirat buat hendra untuk berubah dari pak Tan melalui bisikannya. )

Jadi tafsir Hendra pindah agama hanya ingin menikahi menuk adalah Tafsir anda.

Lagipula, dalam film jelas-jelas tidak ada gambaran pernikahan antara Menuk dan Hendra. Ending Film saya justru menggambarkan Menuk menatap nama Soleh yang sudah menjadi nama Pasar … Darimana anda bisa menafsirkan bahwa Hendra pindah agama hanya karena ingin menikah sama menuk?
——————–
Jawaban Sayful Fahmy MH:

Bekerja di tempat yang menjual barang HARAM adalah HARAM hukumnya, ini IJMA ULAMA. Bukan tafsiran saya.

Dan kenapa anda memasukkan adegan wanita berjilbab bekerja di tempat yang menjual babi?
Padahal sudah jelas hukumnya, “Menjual sesuatu yang Haram, hukumnya HARAM !” Sebaiknya anda belajar lagi tentang mu’amalah !

“Kebanyakan ulama sepakat menyatakan bahwa semua bagian babi yang dapat dimakan haram, sehingga baik dagingnya, lemaknya, tulangnya, termasuk produk-produk yang mengandung bahan tersebut, termasuk semua bahan yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai salah satu bahan bakunya. Hal ini misalnya tersirat dalam Keputusan Fatwa MUI bulan September 1994 tentang keharaman memanfaatkan babi dan seluruh unsur-unsurnya” (Majelis Ulama Indonesia, 2000).

Para Jumhur Ulama berpendapat:
Mazhab Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah maupun Hambaliyah SEPAKAT bahwa daging babi, termasuk tulang-tulangnya, kulit, lemak serta bagian-bagian lainnya di haramkan untuk digunakan sebagai obat atau campuran obat – obatan DAN HARAM UNTUK DIJUAL oleh seorang Muslim, baik dia sebagai Penjual ataupun hanya karyawan. Jadi, mazhab siapa yang anda pakai dalam hal muamalah ?

Jika anda meninjau lewat pandangan kristian, dalam Injil ternyata juga mengharamkan babi, lihat: Yesaya 66 ayat 17, Ulangan 14 ayat 8, dan Imamat 11 ayat 7.

Dari Ibnu Abbas –Radhiyallohu Ta’Ala ‘Anhuma- ia berkata: Umar –Radhiyallohu Ta’Ala ‘Anhu-. mendengar berita bahwa Samurah menjual khamar (miras), maka ia berkata: Semoga Alloh membinasakan Samurah. Apakah ia tidak mengetahui bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Alloh melaknati orang Yahudi karena telah diharamkan lemak bangkai kepada mereka, kemudian mereka mencairkannya lalu menjualnya.”

Setelah mengetahui alur film ‘?’, maka saya ingin mengatakan persis apa yang dikatakan Umar. ‘Semoga Alloh membinasakan pembuatnya’ amiin.

Jika ditinjau dari sisi Ilmiyah (itupun jika anda seorang yang ilmiyah):
Para dokter Amerika berhasil mengeluarkan cacing yang berkembang di otak seorang perempuan, setelah beberapa waktu mengalami gangguan kesehatan yang ia rasakan setelah mengkonsumsi makanan khas meksiko yang terkenal berupa daging babi, hamburger (ham = babi, sebab aslinya, hamburger adalah dari daging babi, dan ketika dipasarkan di negara muslim diganti dengan daging sapi).

Sang perempuan menegaskan bahwa dirinya merasa capek-capek (letih) selama 3 pekan setelah makan daging babi. Dan para dokter di rumah sakit “May Clinics” di negara bagian “Arizona” telah melakukan pembedahan terhadapnya di rumah sakit tersebut setelah mereka berhasil mengetahui “adanya rasa sakit” di bagian otak karena adanya cacing yang tumbuh di dalamnya. Dan akhirnya para dokter memberitahukan bahwa mereka harus melakukan operasi secepatnya untuk bisa mengobati sang perempuan tersebut.

Para dokter menegaskan bahwa makanan daging babi yang terkenal itu telah dikonsumsi oleh sang perempuan AS di Meksiko, dan mengandung cacing yang dikenal dengan nama “taenia solium” yaitu cacing yang masuk ke dalam tubuh manusia dari jalan makanan yang tidak sempurna ketika dimasak.

Josef Seirphin, salah seorang dokter perempuan di rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa telur cacing menempel di dinding usus pada tubuh sang perempuan tersebut, kemudian bergerak bersamaan dengan peredaran darah sampai ke ujungnya, yaitu otak. Dan ketika cacing itu sampai di otak, maka ia menyebabkan sakit yang ringan pada awalnya, hingga akhirnya mati dan tidak bisa keluar darinya. Hal ini menyebabkan dis-fungsi yang sangat keras pada susunan organ di daerah yang mengelilingi cacing itu di otak.

Down Piesira mengatakan, “Sesungguhnya pendapat yang mengatakan adanya cacing di dalam otak terasa sangat asing ….sangat mengagetkan sekali ketika aku menemukan mereka merasakan sakit di bagian otaknya, dan keluarlah cacing dari otaknya. Kejadian ini adalah kejadian besar yang menyakitkan.”

Akhirnya, sang perempuan menerima untuk dioperasi –kejadian ini terjadi pada sepekan yang lalu (laporan ini ditulis pada tanggal 14 April 2001-pent)– dalam waktu 6 jam berturut-turut untuk mengeluarkan cacing yang ada di dalam otak kepalanya. Dan para dokter melakukan pembiusan lokal, dimana sang perempuan harus dalam keadaan sadar dan bisa berfikir ketika dioperasi, sebab hal itu dilakukan diorgan yang sangat vital, yaitu otak; dan harus diajak bicara selama operasi sehingga operasi itu tidak membawa efek samping sedikitpun terhadap otak perempuan itu. Pada akhirnya, para dokter menemukan satu ekor cacing yang sudah rusak dan mengeluarkannya tanpa ada satu dampak negatif pun.

Josef Seirphin, dokter perempuan yang mengetuai pengobatannya, mengatakan, “Ini adalah kejadian yang sangat beruntung, sebab kami belum pernah menemukan di otaknya selain satu cacing saja.

”Josef Seirphin pun kini bergegas mengobatinya. Dan para dokter menegaskan bahwa mereka butuh waktu untuk memonitor kesehatannya untuk mengembalikan kesehatannya selama 6 bulan. Dan hal itu sampai kini masih menyebabkan sang perempuan mengalami gejala aneh dan kesulitan lainnya.

Penyakit-penyakit Daging Babi.

Para dokter menegaskan bahwa penyakit-penyakit “cacing pita” merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang terjadi melalui konsumsi daging babi. Ia berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar 1000 ekor dengan panjang antara 4 – 10 meter, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar).

Ketika seseorang mengkonsumsi daging babi, maka larva yang ada di dalamnya akan menjadi cacing dalam perut manusia. Cacing ini akan menyebabkan seseorang merasa lemah, letih. Dan kekurangan vitamin B-12 yang menyebabkan terjadinya kekurangan darah, terkadang bisa menyebabkan munculnya penyakit pada syaraf otak, semisal dis-fungsi syaraf pusat. Larva-larva pada sebagian keadaan bisa mencapai otak dan menyebabkan terjadinya “sawan” atau naiknya tekanan dalam syaraf, pusing yang sangat, atau bahkan bisa menyebabkan lumpuh.

Dan mengkonsumsi daging babi yang tidak sempurna di masak juga menyebabkan adanya cacing rambut. Ketika cacing ini sampai di usus 12 jari, maka akan keluar larva yang sangat banyak setelah 4 atau 5 hari dan kemudian masuk ke dalam dinding lambung. Kemudian ia masuk ke dalam darah, kemudian masuk ke sebagian besar jaringan organ tubuh. Larva kemudian berjalan persendian dan menjadi besar Maka orang tersebut akan menderita sakit seperti nyeri otot yang sangat. Terkadang penyakit itu berkembang hingga terjadi dis-fungsi kerja otak, dis-fungsi otot jantung dan paru-paru, ginjal, syaraf pusat. Dan terkadang penyakit ini bisa menyebabkan kematian, dan ini kecil persentasenya.

Jika Anda memasukkan adegan wanita berjilbab melayani daging babi, maka dari sisi ilmiah Anda telah memasukkan image wanita muslimah tadi sebagai sumber penyakit, karena babi adalah penyakit. Jika tafsiran Anda lain. Maka Anda harus menilai, mana yang lebih rajih!
——————-
KOMENTAR SAYA: Hanung harus belajar lebih banyak lagi tentang ilmu muamallah. Mari kita simak lanjutan diskusinya…

.
5. BH: seorang takmir masjid yang diperankan Surya (Agus Kuncoro) setelah dibujuk si murtadin Menuk, akhirnya bersedia berperan sebagai Yesus di Gereja pada perayaan Paskah. Apalagi itu dijalaninya setelah dia berkonsultasi dengan ustad muda yang berfikiran sesat menyesatkan pluralisme seperti anda yang diperakan David Chalik. Namun anehnya, setelah berperan menjadi Yesus demi mengejar bayaran tinggi, langsung membaca Surat Al Ikhlas di Masjid. Padahal Surat Al Ikhlas dengan tegas menolak konsep Allah mempunyai anak dan mengajarkan Tauhid. Apa anda ini kurang waras wahai si Hanung. Semoga pembalasan dari Allah atas diri anda.

HB: dalam film saya menggambarkan Surya adalah seorang aktor figuran. Di awal Film dikatakan dengan tegas lewat dialog: “… 10 tahun saya menjadi aktor cuma jadi figuran doang!!”

Sebagai aktor yang hanya jadi figuran, dia frustasi. Hingga menganggap bahwa hidupnya cuma SEKEDAR NUMPANG LEWAT. Dia diusir dari kontrakan karena menunggak bayar. Rika membantunya dengan menawari pekerjaan sebagai Yesus dengan biaya Mahal (perhatikan dialognya di warung soto). Semula Surya menolak. Tapi dia menerima dengan alasan yang sangat manusiwai bagi orang yang berprofesi sebagai aktor (figuran) : SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH BERPERAN SEBAGAI JAGOAN. Namun alasan itu tidak begitu saja dia gunakan untuk melegitimasi pilihannya. Dia konsultasi dengan Ustadz Wahyu (David Khalik). Menurut Ustadz, Semua itu tergantung dari HATIMU, maka JAGALAH HATIMU. Dari perkataan Ustadz tersebut, adakah dia menyarankan atau mendorong Surya menjadi Yesus? Ustadz memberikan kebebasan buat Surya untuk melakukan pilihannya. Dan Surya sudah memilih. Ketika di Masjid, Ustadz mengulang bertanya: “…Gimana? Sudah mantap hatimu?”. Lalu dijawab oleh Surya: “Insya Allah saya tetap Istiqomah.” Dijawab oleh David Khalik: “Amin …”

Setelah dialog tersebut, Surya kembali memantapkan hatinya denga bertafakur dimasjid. Matanya menatap hiasan dinding bertuliskan ASMA ALLAH diatas Mighrab.

Dari adegan tersebut, adakah saya melecehkan Islam? Apakah dengan menghargai pilihan seseorang itu sama saja melecehkan Islam? Bukankah Ustdaz sudah melakukan tugasnya MENGINGATKAN surya di awal adegan?

Jadi, tidak ada sedikitpun adegan yang menyatakan pelecehan terhadap agama Islam. Surya melakukan tugasnya sebagai aktor karena dia harus hidup. Bahkan untuk beli soto untuk sarapan saja dia tidak sanggup. Lagipula drama Paskah bukan ibadah. Tapi sebuah pertunjukan drama biasa. Ibadah Misa Jumat Agung dilaksanakan setelah pertunjukan Drama. Dalam hal ini Surya tidak melakukan ibadah bersama jemaah Kristiani di gereja. Namun oleh karena pesan Ustadz untuk senantiasa menguatkan hati, maka setelah memerankan drama Jesus, Surya membaca Surat Al Ikhlas berulang-ulang sambil menangis.

Adakah dari adegan tersebut saya melecehkan Islam? Silakan di cek lagi

——————–
Jawaban Sayful Fahmy MH:

Berloyalitas kepada non-muslim untuk ikut serta dalam memeriahkan perayaan non-muslim adalah HARAM !!!

Seorang muslim tidak boleh berpartisipasi dalam hari-hari perayaan non-muslim dan turut menunjukkan kegembiraan dan keceriaan bersama mereka dalam memperingatinya. Diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai satu kaum berarti termasuk golongan mereka.”
(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Saudi Arabia, Dewan Tetap Arab Saudi untuk riset-riset Ilmiyah dan Fatwa, fatwa nomor 2540)

Inilah Ijma Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sedangkan ust. Pluralism di film memakai pendapat SYUBHAT dari SETAN. Seharusnya Surya menanyakan Hukum terkait masalah ini ke ulama yang BENAR bukan Ulama amburadul yang sudah anda setting sedemikian rupa.

Secara tidak langsung Surya telah IKUT SERTA dalam memeriahkan perayaan non-muslim dan anda yang menjadi ‘penyuruhnya’. Ini adalah suatu SYUBHAT yang nyata. Dan secara tidak langsung anda telah ikut serta menanamkan faham sesat pluralism dengan membolehkan seorang Muslim ikut serta dalam perayaan non-muslim. Ingat secara tidak langsung. Dan saya yakin, ulama istiqomah pun akan sependapat dengan saya.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam bukunya, Iqtidho’ Shirothol Mustaqiim, “Menyerupai atau meniru-niru mereka dalam hari raya mereka menyebabkan kesenangan dalam hati mereka terhadap kebatilan yang ada pada mereka bisa jadi hal itu sangat menguntungkan mereka guna memanfaatkan kesempatan untuk menghina / merendahkan orang-orang yang berfikiran lemah”.

Sebaiknya anda pelajari lagi tentang Wala’ wal Baro’ !!!
——————–
KOMENTAR SAYA: Bukan hanya Hanung, seharusnya Agus Kuncoro dan pemeran ustad gadungan serta seluruh orang-orang yang terlibat dalam film ini segeralah bertobat, karena kalian telah melakukan penipuan-penipuan terhadap masyarakat melalui syubhat yang berasal dari setan. Mari kita simak lanjutan diskusinya…

.
6. BH: Kelima, tampaknya anda memang sudah gila, masak pada hari raya Idul Fitri yang penuh dengan silaturahmi dan maaf memaafkan, umat Islam melakukan penyerbuan dengan tindakan anarkhis terhadap restoran Cina yang tetap buka sehari setelah Lebaran. Bahkan sebagai akibat dari penyerbuan itu, akhirnya si pemilik Tan Kat Sun meninggal dunia. Setelah itu anaknya Ping Hen (Rio Dewanto) sadar dan masuk Islam demi menikahi Menuk setelah menjadi janda karena ditinggal mati suaminya Soleh (Reza Rahadian), seorang Banser yang tewas terkena bom setelah menjaga Gereja pada hari Natal. Jadi orang menjadi muslim niatnya untuk menikahi gadis cantik. Sebagaimana anda menjadi sutradara berfaham Sepilis dengan kejam menceraikan istri yang telah melahirkan satu anak demi untuk menikahi gadis cantik yang jadi pesinetron. Film ini kok seperti kehidupan anda sendiri ya ?

HB: Saya benar-benar kagum dengan penafsiran anda soal adegan dalam film saya. Tidak heran anda menjadi seorang wartawan. Hehehe. Jika anda benar-benar mengamati adegan demi adegan, anda akan menemukan maksud dari penyerbuan tersebut.

Pertama, Penyerbuan itu didasari karena egositas dari hendra (ping Hend) yang hanya ingin mengejar keuntungan. Maka dari itu libur lebaran yang biasanya 5 hari, dipotong hanya sehari. Akibatnya, Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan liburan lebaran.

Kedua, Penyerbuan tersebut didasari oleh rasa dendam Soleh (yang di adegan sebelumnya berkelahi dengan Hendra) dan cemburu karena Menuk lebih memilih bekerja di hari lebaran daripada menemani soleh dan keluarganya jalan-jalan.

Dalam adegan tersebut jelas tergambar SIKAP CEMBURU, MEMBABI BUTA, BODOH dan TERGESA-GESA pada diri Soleh yang mengakibatkan Tan Kat Sun meninggal. Sikap tersebut membuat Soleh menjadi rendah di mata Menuk: Lihat adegan selanjutnya: Menuk bersikap diam kepada Soleh. Meski masih meladeni sarapan, Menuk tetap tidak HANGAT dengan SOLEH. Hingga Soleh meminta maaf kepada Menuk. Namun, lagi-lagi Menuk tidak menanggapi dengan serius (perhatikan dialognya) : “…. Mas, jangan disini ya minta maafnya. Dirumah saja …” Dijawab oleh Surya: “Kamu dirumah terlalu sibuk dengan Mutia …” Menuk menimpali: “… dimana saja ASAL TIDAK DISINI …”

Penolakan Menuk itu yang membuat Soleh akhirnya memutuskan untuk memeluk BOM dan menghancurkan dirinya. Tujuannya? …. Agar dia menjadi Berarti dimata ISTERINYA.

Apakah adegan di Film menggambarkan Menuk bahagia dengan kematian Soleh, sehingga dengan begitu dia bebas menikah dengan Hendra? Apakah adegan di Film menggambarkan hendra juga bahagia dengan kematian Soleh sehingga hendra bisa punya kesempatan menikah sama Menuk?

Sungguh, saya kagum dengan tafsir anda. Hingga andapun bisa bebas sekali menafsirkan hidup saya. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi lebih dekat sehingga anda bisa mengenal saya lebih baik, mas …

——————–
Jawaban Sayful Fahmy MH:

Anda mengatakan:
Lihat adegan selanjutnya: Menuk bersikap diam kepada Soleh. Meski masih meladeni sarapan, Menuk tetap tidak HANGAT dengan SOLEH. Hingga Soleh meminta maaf kepada Menuk. Namun, lagi-lagi Menuk tidak menanggapi dengan serius (perhatikan dialognya) : …. Mas, jangan disini ya minta maafnya. Dirumah saja …

Dijawab oleh Soleh: Kamu dirumah terlalu sibuk dengan Mutia … Menuk menimpali: … dimana saja ASAL TIDAK DISINI …

Penolakan Menuk itu yang membuat Soleh akhirnya memutuskan untuk memeluk BOM dan menghancurkan dirinya. Tujuannya, Agar dia menjadi BERARTI dimata isterinya ….

Jika anda memasukkan nilai – nilai agama di dalamnya, apakah PANTAS seorang isteri bersikap seperti itu dihadapan suaminya?
Sudah bekerja dengan pekerjaan HARAM, suaminya tidak ridho, Alloh pun tidak Ridho… Durhaka pula… MUROKKAB sudah..

Padahal Nabi SAW pernah bersabda : “Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah yang lain, aku akan memerintahkan (seorang) istri untuk menyembah suaminya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah pantas seorang Istri yang diakui sebagai muslimah di film tersebut berperilaku seperti itu kepada suaminya?
Justru sang suami sudah tidak berkarakter Dayyuts (tidak cemburu kepada istrinya), tapi istrinyalah yang durhaka kepada suaminya. Dan Islam telah menawarkan bagaimana caranya mendamaikan antara perselisihan antara suami dengan istri yang durhaka.

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Alloh memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (An-Nisa’ : 35)

Kenapa tidak ada hakim di film itu ?

Dan mengapa harus memeluk BOM ? (pertanyaan yang musti dijawab hanung) tidak menenggak racun atau terjun dari jurang.

Justru disinilah letak pelecehan dan penyimpangannya. Suami yang benar harus distigmatisasikan seburuk itu, sedangkan istri durhaka seolah harus mendapatkan perhatian… inilah Reserve Psichology (Psikologi Terbalik).

Dan mengapa meminta maaf terbatas dengan ruang dan waktu? Padahal bagi seorang Muslim, apalagi suami dan istri, meminta maaf adalah kapan saja waktunya.

Selanjutnya, kalimat penutup dari Syaful Fahmy MH untuk Hanung Bramatyo:

Jadi, bagi saya pribadi juga untuk kaum Muslimin, film ‘?’ (tanda Tanya) tidak ada faedahnya sama sekali. Karena justru sangat bertentangan dengan Syariat, kehidupan salafush sholeh dan Ijma Jumhur Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Jadi film ini lebih pantas disebut film ‘!’ (tanda seru) yang artinya HATI-HATI KARENA BANYAK SYUBHAT SESAT DI DALAMNYA !

Jika anda masih mau menyanggah, maka sanggahlah dengan pendapat yang lebih Rajih lagi dari ini ! Dan TANPA SYUBHAT !

“Jika Kamu kafir maka sesungguhnya Alloh TIDAK MEMERLUKANMU, dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi bagimu rasa syukurmu itu. dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (Az-Zumar: 7).

Jika masih akan terus seperti ini sikap anda, tidak menutup kemungkinan anda akan bernasib sama seperti Theo Van Gogh

Lanjut ke hal.3:
Lanjutan Tanggapan Wartawan SI Pada Facebook-nya Hanung Bramantyo.

Pages: 1 2 3


35 Comments

  1. Dyah Sujiati says:

    sepakat banget Pak!
    #meski telat baca

  2. Tidak ada yg salah dengan hukum dan ajaran Islam, yg salah orang2 yang mengaku pemeluknya; seringkali tidak menjalankan aktivitas kesehariannya sesuai dgn ajaran Islam yang sudah dicontohkan Nabi SAW.
    Yang merasa terlalu pintar bahkan sampai menuding Al Qur’an masih perlu direvisi karena sudah tak sesuai dgn masa kini. Astaghfirullah…
    Maka hadirlah JIL. Seperti mereka yg terlalu mengagung-agungkan HAM, sampai ketentuan Tuhan (Allah SWT) yang pastinya Mahatahu pun digugat, dilanggar; menjadi waria menjadi ‘halal’ jika memang hati nuraninya (hawa nafsu) menginginkan begitu, homoseksual menjadi ‘mubah’, pernikahan beda agama ‘monggo-monggo saja’.
    Padahal Allah SWT melarang sesuatu pasti karena memang Ia Mahatau kalau itu tidak baik untuk umatnya.
    Entah bagaimana orang yang berbeda agama bisa mengesahkan diri mereka untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Pasti keduanya (si suami istri berbeda agama tsb) bukan pemeluk agama yang baik aka gak memeluk agamanya secara penuh. Lah wong sesama Islam tapi kalo beda ideologi/pemahaman, ya…tetep aja susah untuk membangun kelurga yang sakinah.

    Hanung or whoever yang ogah sholat karena merasa agama itu cuma medium? Gak perlu sholat karena merasa bisa berkomunikasi dgn Tuhan scara batin?
    Hellow…, apa kabar kaki Rasullullah Muhammad SAW yang sampe bengkak2, lecet2, karena mendirikan sholat ya…??? Padahal beliau udah dijanjikan surga?!
    Ck!
    Hei kalian…, nanti di akhirat, jangan berharap minta syafaatnya Rasul ya?!

  3. Banser NU merasa dilecehkan oleh film Hanung:
    http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/06/216000/62/10/Film-Hanung-Bramantyo-Dikecam-Banser-NU-Surabaya
    Saya merasa film Hanung ini menyulut konflik horisontal. Masih ingatkah kejadian massa Banser NU yang menduduki Kantor Jawa Pos pada 6 Mei 2000, hingga media itu lumpuh selama beberapa hari ?Dan kabarnya mereka sudah mulai panas oleh film Hanung ini.Jadi apa yg ditawarkan rasa kedamaian dalam film “?” ini adalah BOHONG BESAR.

  4. avicena1986 said
    Eh Mas, tapi beneran Pak Taufik Ismail pernah memberikan statement bahwa hanung seperti itu adanya ?

    Mas sekalian request dong…bikinlah semacam review film2nya hanung yang Tanda Tanya atau yang lainnya dan nanti dikritisi kira-kira mana saja yang sudah termasuk dalam ‘pengkaburan’ islam…

    Pak Taufiq Ismail pernah menulis sbg endorser Novel KEMI (Cinta Kebebasan Yang Tersesat) karya DR Adian Husaini, tertulis di sampul depan novel tsb begini:

    Taufiq Ismail, sastrawan:
    “Setelah wajah pesantren dicoreng-moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, novel Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas, sekaligus gigih membendung gelombang liberalisme”

    Pak Taufiq Ismail juga pernah wawancara khusus dengan media Suara Islam, komentar beliau tentang Hanung:

    “Saya merasa dihina dan dilecehkan oleh film Perempuan Berkalung Sorban, disutradarai Hanung Bramantyo, yang menistakan lembaga pesantren dan tokoh Kyai, waratsatul anbiya, berlindung di balik topeng kebebasan kreasi dengan sejumlah improvisasi yang bodoh dalam semangat super-liberal. Para aktivis seni Marxis-Leninis-Stalinis-Maois saja di tahun 50-an 60-an tidak ada yang bisa membuat film pelecehan pesantren dan Kiyai seperti yang dilakukan Hanung di abad 21 ini. Kalau dia sudah beredar lima dasawarsa yang lalu, maka Hanung Bramantyo bagus diusulkan mendapat Bintang Joseph Stalin atau Anugerah Dipa Nusantara Aidit”

    SI : “Apakah di novel aslinya ada adegan rajam itu ?
    TI : “Mboten wonten, Mas. Tidak ada. Di sini terjadi improvisasi sutradara. Dan ini improvisasi yang kurang ajar. Maaf keras betul kalimat saya. Maaf. Di bagian ini Hanung tidak minta permisi pada novelis Abidah El Khaliqy, tidak amit-amit. Dia main terjang saja. Dia tidak kenal etik.”

    mbak Miftah silakan menyimak sajian wawancara selengkapnya:
    http://kabarnet.in/2010/06/28/hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau%C2%A0burukkan/
    [Link asli, tapi sudah tidak aktif: suara-islam.com/news/berita/wawancara/964-hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau-burukkan

    Untuk request-nya, sekalian aja saya coba geber film-film Indonesia yg mendangkalkan akidah dan penipuan informasi tentang dunia Islam. Hmm.. kapan ya, baiklah untuk sementara saya jadikan pe-er aja dulu ya, mbak Miftah 🙂

  5. avicena1986 [from Multiply] says:

    fightforfreedom said
    Namun, saya rasa kok bukan karena institusinya, mbak Miftah.
    Kalo ternyata institusinya tidak bisa mencegah serbuan pendangkalan iman, maka sudah semestinya menjadi sorotan publik.

    Menurut saya, bisa jadi karena Hanung salah memilih teman pergaulan atau salah memilih buku2 bacaan sehingga tergelincir pemikirannya.

    statement mas yang terakhir itu seperti yang paling tepat. ^____^v
    iya di SMA tersebut juga banyak kok yang ‘jadi’ (baik_red) dan lainnya yaa wallahua’lam ^_____^v

    Eh Mas, tapi beneran Pak Taufik Ismail pernah memberikan statement bahwa hanung seperti itu adanya ?

    Mas sekalian request dong…bikinlah semacam review film2nya hanung yang Tanda Tanya atau yang lainnya dan nanti dikritisi kira-kira mana saja yang sudah termasuk dalam ‘pengkaburan’ islam…

    Jadi kita bisa semakin selektif dalam memasukkan konten film dalam pemikiran kita sehingga tidak terpengaruh oleh image yg dibangun si sutradara. ^____^v Mau ya Mas.. hehehe

    Tfs.

  6. avicena1986 said
    Masya Allah, tetapi memang saya akui bahwa SMA yang dimaksud itu memang rada ‘aneh’ orang-orang nya…pun juga alumni yang dicetak, ya walau sebagian sih. Hiks ! Sedih !

    Namun, saya rasa kok bukan karena institusinya, mbak Miftah.
    Kalo ternyata institusinya tidak bisa mencegah serbuan pendangkalan iman, maka sudah semestinya menjadi sorotan publik.

    Menurut saya, bisa jadi karena Hanung salah memilih teman pergaulan atau salah memilih buku2 bacaan sehingga tergelincir pemikirannya.

  7. martoart said
    Sinkretisme biasa terjadi di dalam arsitektur, seni, budaya, keyakinan, dan tradisi. Misal pilar spanyolan yg di gabung dengan atap limasan, Saya tak begitu suka,tapi menentangnya juga buat apa, lha wong bukan rumah saya. Kecuali kalau atapnya menjorok ke halaman rumah saya dan membanjiri kamar tidur saya melalui jendela, itu baru kita lawan. Kira2 apakah Hanung sudah merangsek ke sana? Ataukah seberapa jauh ukuran perangsekan itu kiranya? dst..

    Serbuan pemikiran Hanung sudah jauh merangsek ke dalam, Bung Marto, membanjiri kemana-mana hingga ke ruang akidah. Serbuannya sangat vulgar + kasar, dan sangat melukai hati umat Islam yg menontonnya (tentu saja bagi yg memiliki akidah tauhid yg benar).

    Ia mungkin secara sengaja salah kaprah dalam menyalahartikan pluralisme. Pluralisme yg dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis, itulah yg kemudian dikenal dg pluralitas. Tentu, umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dg umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya. Jadi ada prinsip, kerukunan itu berjalan tapi keimanan terjamin. Karena itu, kerukunan & toleransi umat beragama itu tidak boleh bercampuraduk dgn keyakinan agama lain.

    Kenapa saya bilang Hanung “secara sengaja”? sbg sineas yg punya jam terbang tinggi dlm mempelajari realitas kehidupan di masyarakat, dan pernah mengenyam pendidikan secara Islami, saya yakin ia tahu itu.
    Namun, edukasi yg ia berikan bukannya menggunakan pendekatan pluralisme sosiologis yg seharusnya dipakai untuk menunjukkan kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia, tapi yg dipakai adalah pluralisme teologis yg sudah difatwakan oleh MUI sbg paham yg haram. Bila umat Islam mengikuti paham itu, maka menjadi murtad atau keluar dari Islam, dan statusnya menjadi kafir.

    Banyak banget adegan-adegan dlm film-nya yg secara kasar mengobok-obok akidah. Silakan Bung Marto menontonnya agar nyaman ngebahasnya 🙂

  8. blogsikathabis said
    Fiqh Masa Awal Islam: Mengikut tanpa Bertanya
    http://blog.sikathabis.com/?p=1185

    kl pemikirannya sudah banyak koq gini ya koq gitu ya lama2 jadi atheis 😀

    Artikelnya sangat bagus, mas Taufan, terimakasih pencerahannya.
    Poin pentingnya adalah persoalan pebedaan pendapat dan pemahaman, bahkan pengamalan fiqh di masa Nabi sangat minim terjadi. Hal ini disebabkan antara lain faktor sahabat yg sangat memahami bahasa Nabi dan bahasa al-Qur’an, celaan untuk banyak bertanya, serta sikap sahabat yang lebih banyak mengikuti sunnah tanpa membedakan rukun, syarat dan adab.

    Kondisi di luar garis dan berdiri pada posisi abu-abu (saat terlalu lama dalam pencarian) kemudian berteman dg orang yg bukan ahlinya dalam bidang agama… memang rentan terkena virus neo-atheis. Ya buktinya si Hanung itu.

  9. putrilan9it said
    Aku sudah baca NOVEL (PBS) dan AKU SANGAT SANGAT MENDUKUNG AJARAN YG ADA DIDALAMNYA!

    Hukum Al-Quran dan Hadis untuk membahagiakan umat manusia, bkn untuk mengekang.

    Maaf, telat reply-nya, mbak Liya, tadi malam sengaja re-fresh ulang nonton lagi PBS, maklum DVD-nya saya beli udah setahun yg lalu.

    Nah… beberapa hal yg membuat PBS itu lebay adalah sbb, mbak Liya:

    (1) Apa yg dialami tokoh Annisa di film tsb bukanlah kondisi umum yg dapat ditemui di lingkungan pesantren. Ini jelas mencoreng-moreng pesantren. Saya heran, kenapa ngambil background penindasan itu kok ya di pesantren?

    (2) Tokoh ayah Annisa dlm film tsb juga lebay, gak Islami banget, mbak Liya. Aneh aja sih, masak sbg ortu (kyai lagi) kok menjerumuskan anaknya untuk menikahi pemuda nge-drunk + bejat ahlaknya hanya demi kemajuan pesantrennya.

    (3) Masalah poligami yg diangkat, seolah-olah Islam menjustifikasi penindasan yg di alami Annisa dan kaum wanita secara umum. Bukankah masalah poligami ada aturan tegasnya dalam kitab suci? “Kamu Harus Adil! & Tidak ada yang dapat Adil!”
    Untuk memaknai poligami ini perlu dipelajari lebih jauh ttg Asbab Nuzul-nya. Di film itu salah kaprah memaknainya.

    (4) Nabi Muhammad SAW dg tegas menyatakan bhw mencari Ilmu adalah kewajiban setiap Muslim (pria & wanita). Namun… dlm film tsb seolah-olah Islam memberangus hak wanita dan kewajiban wanita untuk berpendidikan. Sudah banyak kok ditemui contoh dimana Nabi Muhammad (SAW) menyerukan umatnya untuk berpendidikan, wanita sekalipun. Kalo disebut, banyak contoh tokoh2 wanita di jaman Rasulullah, mbak Liya.

    (5) Islam juga menyerukan kpd Muslimin dan Muslimat untuk menyuruh ber-amar ma’ruf nahi mungkar. Namun.. film tsb malah menggambarkan wanita gak lebih dari kerbau dicucuk hidung, manut pd sang lelaki yg bejat itu.

    (6) Di film tsb digambarkan seolah-olah Islam membolehkan bagi suami Muslim untuk bertindak kejam terhadap istrinya. Padahal, hal tsb sangatlah bertentangan dgn ahlak yg diajarkan Nabi Muhammad SAW. Nah.. anehnya ada adegan dimana buku2 non Islami karya Pramodya Ananta Toer yg dibakar di film itu, seolah-olah buku2 itu sbg jawaban atas kesengsaraan kaum Muslimah yang tertindas oleh aturan Islam. Jangan2 Hanung gak pernah baca buku2 fiqih wanita.

    Hanung yg saat itu sudah murtad, jauh dari Islam, sengaja berusaha mendeskriditkan Islam melalui film. Lewat pemikiran Hanung, film PBS ini cenderung ngasih persepsi salah kaprah ttg lingkungan yg Islami dan ajaran Islam yg diangkat untuk memberi gambaran negatif betapa ajaran Islam tidak memihak kaum wanita. Ya.. kecewanya saya.. mengapa mengambil latar belakang lingkungan pesantren. Ini bagi saya sebuah penghinaan thd lembaga pendidikan Islami.

    Dan saya makin ternganga, setalah membaca sampul DVD-nya.. ternyata film PBS ini diproduksi oleh Starvision milik Chand Parwez ‘n Raam Punjabi yg dikenal sbg ‘mafia’ sinetron di negri ini yg kerjanya bikin film/sinetron sampah. Hufft… jelas orang dan crew-crew film yg gak sholat bikin film Islami, ya.. pasti begitu deh…

  10. subhanallahu [from Multiply] says:

    fightforfreedom said
    Saya sudah nonton film-nya, Bung Marto, sudah jelas misi yg dibawa lewat film-nya Hanung, pada awal narasi film-nya “?” disampaikan “…Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” Nyatanya banyak adegan di dalam film itu yg mengandung pesan mencampuradukkan keyakinan, dg senjata yg ampuh: “Tuhan yang sama”.

    Iya Pak. Hanung yang mulai duluan dari ketidakmengertiannya, dia tidak paham agama yang dianutnya, dan tidak mengerti itu apa pluralisme, eh, kok mencampurkan dengan sinkretis. Maka ini sesuai dengan MUI yang melarang plurasime teologis/ketuhanan yang sebenarnya bentuk sinkretisme itu sendiri, namun memperbolehkan pluralisme sosiologis (yang menjadi definisi sebenarnya dari pluralisme)

    Itulah susahnya berharap orang lain/agama lain akan bersimpati bila kita seolah-olah membela mereka, padahal akidah tergadai dengan gampangnya.

    Maka, kembalikanlah toleransi beragama itu secara benar. Pelajari agama kita masing-masing dengan sungguh-sungguh, maka kita akan lebih bersikap toleran dan tidak menjadi barbar. Yang ada sekarang kita bersikap sok tahu, mempelajari agama secara permukaan saja, sebagian saja, misal: bab jihad saja, akhirnya jihadnya salah arah, dsb..dsb-nya….

  11. martoart said
    Perdebatannya adalah; seperti apakah film Hanung tersebut, sebuah karya yg mengampanyekan keberagaman (pluralisme), ataukah lebih kepencampuradukan keyakinan (sinkretisme)?

    Itu dulu. jangan buru2 menentang istilah yg pada dasarnya bermakna positif.

    Saya sudah nonton film-nya, Bung Marto, sudah jelas misi yg dibawa lewat film-nya Hanung, pada awal narasi film-nya “?” disampaikan “…Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” Nyatanya banyak adegan di dalam film itu yg mengandung pesan mencampuradukkan keyakinan, dg senjata yg ampuh: “Tuhan yang sama”.

    Apakah Hanung lupa (atau sengaja menutup mata) bahwa jumlah agama plus sempalannya di dunia ini bisa dikatakan ada ribuan, ada Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, Konghucu, Jainisme, Sikhisme, Sintoisme, Bahaisme, Zoroaster, Ahmadiyyah, Yahudi, Saintologi, Raelianisme, Taoisme, Kaharingan, Konfusianisme, Mormonisme, Marapu, Parmalim, dll…dll… Konsep ketuhanan masing-masing agama jelas beda. Jadi, kalo Hanung memandang semua agama adalah menyembah Tuhan yg sama, maka Hanung dlm film ini (dan juga penonton yg meyakininya) mengambil posisi sbg seorang yg netral agama.

    Mengapa film ini dianggap meresahkan dan menyakiti umat Islam? Karena cara pandang seperti narasi yg disampaikan Hanung itu bukan cara pandang Islam. Karena Nabi Muhammad SAW sudah menegaskan, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.

    Pak Widodo telah memberikan clue lewat kutipan dari kitab suci:
    “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.(Q.S. Al-An’am 108)
    Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

    Saya bisa memahami, Bung Marto, mungkin Hanung ingin menyampaikan niat baik memperkenalkan solusi keberagaman. Namun, solusi yg ditawarkan dalam film “?” menurut saya sangat jauh dari sasaran. Hanung mengira kalau orang yakin dgn agamanya masing-masing akan terjadi konflik. Itu keliru. Selama ratusan tahun, kaum Muslim dan Yahudi hidup rukun di Andalusia dan Turki Utsmani tanpa harus menghilangkan keyakinan masing-masing. Mereka yang hidup rukun itu memegang teguh ayat itu sbg solusi.

    Kalo ingin mengangkat tema persatuan dalam keberagaman, semestinya Hanung menjadikan ayat QS Al-An’am: 108 sebagai dasar atau jiwa film yg dibikin. Karena ayat ini menjamin kerukunan hidup beragama… Bukannya malah mempromosikan kendaraan untuk menyatukan agama, sehingga pesan tindakan murtad yg disampaikan dalam film itu bukan masalah besar krn atas dasar bertuhan yang sama. Ini sama dengan penyesatan, bukan?

    Apakah Hanung tidak paham (atau sengaja menutup mata) bahwa penganut kuat agama manapun telah menolak ide-ide rapuh yg mencampuradukkan ajaran agama dan mengakui ber-tuhan yang sama. Seperti misalnya Paus Benediktus XVI pun sangat konservatif pendapatnya pd Konsili Vatikan II, silakan disimak pada: Pope: Other denominations not true churches atau ini Racun Pluralisme dalam Iman Kristen. Bahkan, Hindu pun juga menolak pluralisme, link: Hindu tolak pluralisme agama yang dibawa anand krishna.
    Intinya solusi yg ditawarkan Hanung bakal menambah daftar potensial konflik di Indonesia. Hati-hati dg gaya penipuan seperti ini, yg dikemas seakan-akan humanis.

    Saya akan tetap menghargai semangat keberagaman dg pemeluk agama lain, dg cara yg diajarkan oleh kitab suci: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

  12. wikan says:

    ya menurut saya sih, fenomena2 semacam ini justru memacu para sineas muslim untuk berkreasi. di sisi lain penonton juga harus apresiasi para sutradara dong. jangan kerjanya nonton bajakan melulu. Banyak film yang islami seperti emak ingin naik haji, alangkah lucunya negeri ini, tapi penontonnya sedikit. walhasil yang berjaya film2 yang gak bermutu. masih mending Hanung bikin film secara idealis. Gimanapun itu potret kenyataan Indonesia. Orang musti menerima bahwa Indonesia itu tidak hanya ditinggali oleh orang2 yang seragam pemikirannya semua.

  13. subhanallahu says:

    boleh kok murtad dan berbeda Tuhan, tidak ada itu istilah 1 Tuhan, banyak jalan (baca: agama). Namun etikanya adalah:

    “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

    Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat): Abdurrazzaq telah mengatakan, “Mu’ammar menceritakan kepada kami melalui Qatadah. Qatadah telah bercerita, bahwa dahulu orang-orang muslim sering memaki berhala-berhala orang-orang kafir, pada akhirnya orang-orang kafir balas memaki Allah, kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, ‘Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah…'” (Q.S. Al-An’am 108).

  14. daicymahia says:

    Begitulah manusia, terkadang menetapkan standar agama dan surga berdasarkan otaknya yang lemah. Manusia punya nafsu yang tinggal di pemikirannya. Ia seperti kuda liar yang menghentak. Bisa menyelamatkan, bahkan melukakan. Wahyu Allah jadi tali kekangnya, dan kendalinya adalah hati. Agamalah yang menjadi jalannya. Karena mengimani Tuhan tak cukup dengan mengimani firmanNya saja. Ada marka, ada norma yang selalu membuat kita menjadi beradab dalam berjalan menujunya. JalanNya terang, tak perlu dicari lagi. Tinggal kita yang harus selalu mengalah untuk membuka mata dan hati..

    Pluralisme ; Allah yang menciptakan hitam dan putih. Ada garis tegas yang harus kita pegang, dan bukan malah berdiri di wilayah abu-abu. Disanalah keyakinan dan pilihan memiliki fungsi.
    Terima kasih, mas Iwan. Semoga Allah melindungi kita semua.

  15. zenstrive [from Multiply] says:

    Ternyata dia sudah murtad,
    mudah2an istrinya (yang berjilbab dan pernah ketahuan merokok) bisa membelokkannya ke jalan benar.
    kalo gak, ya itungannya zina.

  16. arifah89 says:

    martoart said: Jadi silakan beramai2 nonton

    ngapain buang-buang uang n wkt hanya utk nonton film yg ga ada manfaat……yach promosi kemungkaran kok diikuti…

  17. maeea says:

    Mungkin lain cerita kalau HB berdalih hanya menampilkan potret kehidupan nyata ttg kehidupan. Krn setelah nonton, filmnya sangat humanis & faktuil. Tinggal bgmn kita menyikapinya aja. Ngikutin film, atau tetap berpegang pd ajaran agama yg kita percayai. IMHO.

  18. martoart says:

    Aku sih nyaranin agar sebaiknya nonton dulu, kalo mo komentar isi film. Aku gak komen dulu deh mengenai konsep sinematografi ataupun pesan yg ada. Artinya juga, untuk sementara yg namanya penghujatan film ini juga aku cuekin dulu. Kalo toh berdasar sinopsis, n resensi, ya nikmati aja sebagai pemicu. Toh juga tak asyik kalo lebay jadi spoiler. Jadi silakan beramai2 nonton. Bagi yg ogah merasa ketepu, ya tunggu bajakannya aja. Bukankah seru perdebatan yg ada? Dan biar bisa ikutan.

  19. luqmanhakim said: Tetep, kritik ke Hanung harus dilancarkan juga, dia perlu dapat kritikan buat bikin film-film yang bagus dan bermutu, nggak sekedar memancing kontroversi tanpa penjelasan yang mendamaikan semua pihak. Kalo katanya film “?” yang mempertanyakan tentang kedamaian justru malah memancing keributan, berarti film ini nggak berhasil buat ngarah ke pemikiran orang tentang arti damai itu sendiri.

    Saya sependapat dengan sampeyan, mas Luqman.Kang Abik penulis Ayat-Ayat Cinta (AAC) merasa kecewa dg Hanung, karena filmnya menyimpang dari novel-nya.Begitu juga Abidah El Khaliqy penulis Perempuan Berkalong Sorban (PBS) juga merasa kecewa berat, karena Hanung telah meng-improvisasi cerita dlm novelnya tanpa konfirmasi sehingga menyimpang jauh dari novelnya.Bahkan senior-nya, Bung Deddy Mizwar menolak karya Hanung (PBS) masuk dalam festival film nasional, alasannya sangat tegas: Hanung kurang pengetahuan yang mendalam tentang agama, namun bicara soal agama.Saya lebih banyak bahas detail tentang PBS malah di sini, di beberapa komen disitu ada ungkapan kekecewaan penulis novel aslinya.Belajar dari peristiwa ini, beberapa penulis novel yang akidahnya lurus menolak novelnya diangkat ke layar lebar bila di tangan Hanung.

  20. debapirez says:

    luqmanhakim said: Aku nulis komentarnya malah ke PM Mas Iwan…Cek aja deh PM-nya…

    menembak pelaku poligami ya….mm…dulu dia dah mulai pacaran sm Zaskia saat proses cerai masih berlangsung. secara etika kan ga boleh tuh…*pengamat infotainment hehe….

  21. debapirez says:

    wah…manteb neh diskusinya. tetep setia membaca.

  22. zenstrive says:

    luqmanhakim said: Sampe film “?” diluncurkan, aku langsung ngambil kesimpulan, Hanung itu ketika mengkritisi, dia tidak ngasih solusi. Bak kritikan warung kopi di pinggir jalan yang suka nesu-nesu tentang kebijakan pemerintah.

    Sutradara yang senang menjual barang kontroversial: komunis, murtad, Islam menafikan Al-Ikhlas, bom di gereja, penusukan pastor, lintas agama, pesantren para homo, perempuan pemuja birahi.Gara-gara ayat-ayat cinta, namanya melambung, menempatkan diri di mindset umat Islam, dan langsung setelah itu menjual ide-ide semacam di atas itu, merasa tanpa bersalah dan tanpa melukai perasaan umat Islam. Toh dia sudah diterima para ibu-ibu pengajian dan anak-anak muda penuh cinta, so what? Paling banyak yang nonton. Istrinya juga berjilbab.Sudahlah, intinya Hanung itu pemuja komunis yang mengaku murtad dan lebih senang membuat film dibanding puasa dan sholat di bulan romadhon.

  23. mellyheaven says:

    Iya tuh org agamanya apa sich ya? Dari dulu klo bikin film ngejelekin islam mulu -_____-“

  24. Menyimak, sambil berdoa semoga Allah memberikan kekuatan untuk tetap berjalan di jalan-Nya. Amin.

  25. postingbebas says:

    yang menjadi pertanyaan, siapa penyandang dana dan benarkah ini murni ide hanung atau titipan…??

  26. nama Hanung Bramantyo itu sudah menjual. saya pikir ini bukan sekedar membuat film kontroversial biar laku, lebih dari itu, bahkan bisa jadi film2 yg dia buat itu punya alur (sokteu.com). filmny Hanung itu film mikir, bukan sekedar film hiburan, membidik kelas pasar tertentu. Saya berharap kita punya program TV yang khusus mengupas film2 buatan Indonesia (bedah film/prolog sblm launching) kayak HBO. dulu pernah ada kyk cinemacinema, tp era itu film Indo belum berkelas. CMIIW

  27. hwwibntato says:

    hanya kepada Allah kami memohon pertolongan …

  28. jampang says:

    terimakasih infonya, pak.saya akan mengikuti saran Syaful Fahmy MH, gak akan nonton filmnya.

  29. luqmanhakim says:

    enkoos said: Sampeyan tau krungu Ayaan Hirsi Ali?

    Nama samarannya Ali Sina, mantan Muslim pendiri Faith for Freedom (http://www.faithfreedom.org/)Aku berpikirnya sederhana aja. Kuatin basic-nya dari kecil, krikil-krikil yang ngeganggu aqidah begini macam cobaan yang akan ngebawa ke efek dua mata pisau. Makin kuat aqidahnya, apa makin ancur?

  30. enkoos says:

    Aduhhhh, dowo men cak. Tas tangi turu golek bacaan ringan dadi mumet mocone. Tak skip aja. Nanti Insya Allah kalau ada waktu tak kunyah lagi.Intinya: berkeyakinan dengan apa yang telah dituliskan dalam Al Quran dan Hadis. Kalau hadisnya meragukan, merujuk kembali ke Al Quran. Orang orang seperti Hanung ini banyak bertebaran dan mengganggu sekali. Tapi Insya Allah orang orang yang imannya kuat, mungkin malah semakin kuat. Insya Allah. Sampeyan tau krungu Ayaan Hirsi Ali?Iku yo podo ae. Keluar dari Islam dan mengkritik Islam habis2an. Saat ini di Amerika khususnya, agama Islam adalah termasuk agama yang pertumbuhan jumlah pemeluknya sangat pesat semenjak 9/11 karena bermula dengan penasaran akan isi Al Quran.

  31. luqmanhakim says:

    PM-nya aku delete aja, aku copy-paste di sini:Hanung itu emang agak “parah” pola pikirnya… Saat dia ngangkat film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS) dari novelnya Abidah El Khalieqy, aku suka banget sama film itu, tentang kesetaraan gender yang diangkat dengan mengkritisi pola-pola didikan pesantren di Jawa Timur. Dalam pandanganku, dikritisi budayanya, budaya Islam Jawa Timur dan bukan tentang Islamnya itu sendiri. Aku juga nggak membela Hanung dalam konteks film PBS itu, cuma memang pengkritisiannya ini yang disoroti. Beberapa ulama marah, PKS berang, Tifatul ikutan ngamuk, dibilangnya film ini adalah rekayasa untuk menjelek-jelekkan Islam. Aku diem, nyoba mencerna, apa yang salah dari film bagus begitu? Film yang ngangkat perjuangan wanita muslim untuk sejajar dengan pria tanpa melupakan sisi-sisi kodrat kewanitaannya. Perempuan butuh dicintai, butuh disayangi, butuh dihargai, butuh hubungan yang setia secara monogami. Aku ngeliat, Hanung mencoba “nembak” para pelaku poligami di film itu. Wajar kalo para ulama pelaku poligami marah. Tapi sampe Taufik Ismail pun ikutan marah dan menuduh Hanung adalah antek-antek dari perpanjangan tangannya Lekra, aku jadi mikir, pasti ada apa-apanya dengan pola pikir Hanung ini. Sampe film “?” diluncurkan, aku langsung ngambil kesimpulan, Hanung itu ketika mengkritisi, dia tidak ngasih solusi. Bak kritikan warung kopi di pinggir jalan yang suka nesu-nesu tentang kebijakan pemerintah. Ngritik atau ngedumel yang tanpa ada penyelesaian. Akhir dari kritikan Hanung pun tak dijelaskan, yang ada ketika tokoh Rika murtad, nggak digamblangkan proses kemurtadannya pun dasar-dasar yang melandasi kemurtadan Rika pun sangat lemah. Ada sisi di mana Hanung emang seneng mancing emosi penonton, toh dalam dunia entertainmen sisi kontroversial itu paling menjual. Jadi lepas dari apapun, ini film yang memang lebih ke arah faktor jualan. Masalah film sampah atau film bermutu, orang cenderung memilih untuk menonton film yang sering diomongin orang. Hanung itu marketing yang baik. Ya… macam tayangan-tayangan sinetron sampah di televisi. Orang-orang yang nonton itu nggak sadar kalo mereka nonton sampah, memang nggak bikin pinter. Tetep, kritik ke Hanung harus dilancarkan juga, dia perlu dapat kritikan buat bikin film-film yang bagus dan bermutu, nggak sekedar memancing kontroversi tanpa penjelasan yang mendamaikan semua pihak. Kalo katanya film “?” yang mempertanyakan tentang kedamaian justru malah memancing keributan, berarti film ini nggak berhasil buat ngarah ke pemikiran orang tentang arti damai itu sendiri.

  32. kaklist says:

    – udah baca -aku koq khawatir sama media tv kita ya.. film perempuan berkalung sorban aja akhirnya masuk lho ke tv.. jangan2 film ini juga akan di tv kan..

  33. thetrueideas says:

    Memang kalau hati terhijab oleh bisikan seta, takkan mampu ia melihat cahaya kebenaran walau seterang matahari di siang hari…

  34. avicena1986 says:

    Innalillahi. Duh Gusti….ck..ck..ck..weslah ga usah nonton2 film saja. mending pengajian njuk tilawah njuk dakwah njuk sedekah dkk..*silakan yang berwenang ‘menarik’ film tsb dari peredaran. btw jangan banyak2 diekspos Mas heheh atau ekspos terbatas saja ntar malang tambah terkenal deh ni film hehehe seneng tuh si HB.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Let me share my passion

””

My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: