Home » Ghazwul Fikri » Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak

Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak

Perlindungan Hak Cipta

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 859 other followers

Bismillah …

Jurnal ini mengupas jawaban atas pertanyaan quiz: Kelalaian Yang Dibayar Mahal, yang dikemas dalam sebuah flash fiction. Terimakasih kepada para sahabat blogger yang telah mencoba menjawab quiz. Bagi yang belum pernah membacanya, silakan buka jurnal tersebut agar bisa connect dengan pembahasan di bawah ini. Flash fiction tersebut terinspirasi dari berbagai kisah nyata tragedi pelecehan seksual anak yang pelakunya juga masih anak-anak. Yang hampir setiap harinya muncul kisah baru di negeri ini dengan modus yang hampir sama, sila simak catatan sebagian contoh kejadian di bawah ini:

[Link berita aslinya lihat pada ruang komentar di bawah ini]

  • Aceh | Remaja putus sekolah sodomi 6 anak [Prohaba, 8/9/2013].
  • Pekanbaru | Pelajar SMP sodomi 7 anak SD [Antara News, 20/5/2012]; juga ada anak ABG sodomi tetangganya berkali-kali akibat pengaruh film porno [Okezone, 8/3/2013].
  • Palembang | Pelajar SMA sodomi bocah SD [Sindo, 17/10/2012].
  • Bekasi | Santri bersaudara (kelas 1 dan 2 SD) disodomi kakak kelasnya (6 SD) [MetroTV, 11/11/2013].
  • Karawang | Bocah SD sodomi 11 temannya [Detik, 10/9/2013].
  • Jakarta | Bocah 13 tahun sodomi 12 anak [Detik, 18/20/2007].
  • Bogor | Siswa kelas 3 SD disodomi 5 kakak kelasnya [Kompas]; juga ada kasus siswa kelas 1 SMP sodomi 9 bocah [Pikiran Rakyat, 8/11/2009].
  • Cileunyi | Anak yatim sodomi anak di bawah umur [Pikiran Rakyat, 17/2/2013].
  • Bandung | Anak 13 tahun sodomi 4 anak SD [Indosiar].
  • Sukabumi | Anak 11 tahun, sodomi 12 temannya [Indosiar]; juga ada anak SD sodomi 3 teman sebayanya [Pikiran Rakyat, 22/4/2012].
  • Pekalongan | Siswa SD sodomi 7 anak SD [Indosiar, 20/8/2008].
  • Magelang | Remaja 15 Tahun sodomi 20 anak [Okezone, 3/6/2010] | Pelaku memiliki perilaku menyimpang itu karena pernah disodomi tetangganya. Dan kemudian banyak korbannya juga memiliki perilaku menyimpang.
  • Yogyakarta | Dua ABG sodomi dua bocah [Koran Sindo]; juga ada remaja 17 tahun sodomi 10 anak belasan tahun [Tempo, 27/9/2003]; juga ada anak 12 tahun sodomi 3 teman sebayanya dan 1 anak perempuan [Harian Andalas].
  • Samarinda | Pelajar SMP sodomi 3 murid SD [Antara News, 23/11/2012].
  • Gowa | Gara-gara nonton bokep, Siswa SMP sodomi bocah [Okezone, 4/3/2011].
  • …..
  • ….. dan masih banyak lagi kasus sejenis yang tersebar merata dari Sabang sampai Merauke!

Miris sekali, pelakunya masih anak-anak!
Korbannya bukan 1 atau 2 anak untuk satu pelaku, tapi sampai belasan, dan sebagiannya ikut menyimpang!
Mengerikan sekali permainan / kegiatan anak-anak jaman sekarang.

Anak-anak bisa melakukan praktek sodomi itu salah satu faktor utamanya adalah perilaku orang dewasa yang pernah melecehkannya, sehingga sang anak menjadi pelaku sodomi berikutnya, yang kemudian makin kecanduan setelah dijejali dengan tontonan pornografi. Inilah Kekuatiran Pertama Ibu Desi dalam ilustrasi kisah pada quiz jurnal sebelumnya yaitu sangat kuatir kalau anaknya kelak juga tumbuh menjadi seorang gay. Beberapa contoh kasus yang menguatkan hal ini:

  • Jakarta | Babeh pembunuh berantai dan pelaku sodomi 14 anak [Okezone]. Babeh mengaku pernah disodomi saat umur 15 tahun.
  • Jakarta | Karena saat kecil pernah disodomi, Sartono balas dendam dengan menyodomi 96 anak dan menjadikannya pelacur bagi kaum gay [Detektif-Romantika].
  • Cirebon | Pria tukang servis menyodomi 10 bocah SD [Jakarta Press]. Pelaku pernah disodomi sejak kelas 5 SD.
  • Banjarmasin | Pelatih sepakbola yang juga guru ngaji sodomi 27 anak [Kompas]. Pelaku pernah disodomi tetangganya sejak usia 8 tahun.
  • ….. dan banyak contoh lainnya.

Apakah perilaku homoseksual itu bisa menular?

Jawabannya: YA. Silakan simak Detik Health: Bisakah Perilaku Gay menular?

Dalam penelitiannya, Dr Qazi Rahman, seorang ilmuwan orientasi seksual manusia terkemuka, menuturkan bahwa perilaku homoseksual bisa dipengaruhi oleh campuran faktor genetik dan lingkungan. Sementara riset Dr Niklas Langstrom dari Karolinska Institutet menemukan faktor lingkungan mempunyai pengaruh hingga 64 persen ketimbang gen.

Meskipun seseorang tidak memiliki gen gay, ia bisa saja mengembangkan perilaku seks sejenis jika faktor lingkungannya mendukung. Contohnya sering melihat perilaku sesama jenis yang diperlihatkan dimuka umum, pernah mengalami pelecehan seksual seperti kasus-kasus di atas. Jadi meskipun bukan penyakit, perilaku gay bisa menular.

Simak juga Detik Health: Kenapa Laki-laki Normal Bisa Jadi Homoseks?

Ada yang meng-klaim berdasarkan penelitian bahwa memang ada gen bernama kromosom Xq28 yang ditemukan oleh Dean Hamer pada tahun 1993. Tetapi belakangan penelitian itu dibantah dengan penelitian lainnya. Sila simak Avert.org: Being Gay. Baca juga jurnal saya: Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’.

Jadi, sebagai orangtua harus bersikap peka terhadap pola pergaulan anak-anak, karena orientasi seksual menyimpang ini bisa menular. Ajari anak-anak kita untuk berani berkata: TIDAK! (bila berada dalam situasi yang tidak lazim).

Anak-anak yang menjadi korban perilaku sodomi cenderung menjadi mudah terangsang. Fenomena ini secara psikologis biasa disebut mengalami sexualization of behavior. Mereka bisa menjadi agresif. [baca Kompas]. Sifat agresif tersebut justru akan membahayakan teman-teman sebayanya, sehingga berpotensi muncul kasus serupa dengan di atas. Inilah Kekuatiran Kedua Ibu Desi yaitu anaknya menjadi pemangsa teman-teman sebayanya atau anak-anak yang usianya di bawahnya seperti dalam kasus-kasus di atas. Bila ini terjadi maka jelas anaknya akan berhadapan dengan hukum yang akan menghancurkan masa depannya.

Oleh karena itu, sebagai orangtua lebih baik berempati kepada para orangtua lainnya yang anaknya telah menjadi korban teman anaknya yang gay. Jangan asal ngomong: “Ya, saya biarkan anak saya gay” atau “Yang penting khan mereka tidak mengganggu”, seperti ucapan seorang pegiat JIL. Perlu diingat bahwa manusia adalah makhluk sosial, segala indikasi disorientasi yang terjadi di masyarakat bisa saja mengancam siapapun.

Seperti halnya dengan orang berbuat zina, perilaku homoseksual kelihatannya memang tidak menggangu kita. TAPI yang namanya penyimpangan ataupun dosa ya tetap harus dikoreksi biar tidak terjadi efek domino bila sudah meluas.

Silakan renungkan kembali: mengapa kasus-kasus Anak Menyodomi Anak itu bisa terjadi? Bahkan jumlah kasusnya begitu banyak. Apa mungkin anak-anak itu tiba-tiba bisa dengan sendirinya melakukan praktek sodomi tanpa ada yang mengajari atau menginspirasinya? Jelas tidak mungkin.

.
Bagaimana sanksi secara hukum bagi orang dewasa yang menjadi penyebab seorang anak berperilaku gay melalui pelecehan seksual?

Pelaku bisa dijerat dengan pasal 292 KUHP dengan ancaman 5 tahun penjara serta Pasal 81 dan 82 UU no.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman paling lama 15 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 300 Juta.

Saya rasa hukuman itu belum setimpal, seharusnya mereka diberikan hukuman penjara seumur hidup, karena sejatinya mereka telah membunuh masa depan anak-anak, menghancurkan orientasinya yang lurus, tekanan luar biasa akan diterima korban, sehingga seumur hidup korban akan menanggungnya.

.
Apakah praktek sodomi itu perilaku normal?

Jelas, tidak normal. Lubang keluarnya kotoran manusia bukanlah tempat yang tepat bagi alat kemaluan laki-laki, sebab di dalam dubur itu bersarang beragam bakteri yang bersifat patogan yang berhasil dikeluarkan dari tubuh bersama feses. Tindakan sodomi itu justru akan berpotensi memasukkan kembali kuman-kuman itu ke dalam tubuh.

Allah sudah menciptakan organ manusia secara sempurna, begitu juga dengan fungsinya. Orang yang normal adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak salah kamar.

.
Apa bahayanya bila tetap melakukan kebiasaan sodomi?

Sebuah studi kedokteran modern menyatakan bahwa 38% pelaku sodomi menderita kanker anus. Penyebaran kanker anus hanya terjadi pada pelaku atau korban sodomi. Kanker anus merupakan peradangan yang disebabkan oleh virus HPV, virus ini umumnya menyerang kaum homoseksual. Penyakit ini sulit diharapkan kesembuhannya. Selain menyebabkan kanker anus, virus ini juga menyebabkan kanker penis. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa terhitung 55% pelaku sodomi yang selain mengeluh bahwa di sekitar anus terasa sakit, juga menderita kencing nanah (Gonnorhea). Selain itu terhitung 80% laki-laki pelaku sodomi menderita sipilis (Syphilis), dan sepertiga dari laki-laki pelaku sodomi terjangkit virus HSV (Herpes Simplex Virus). [baca Sodomy: A Public Health Risk]

Itulah Kekuatiran Ketiga Ibu Desi yaitu muncul bibit penyakit pada anaknya yang terbaring di rumah sakit itu.

Ada Kekuatiran Keempat Ibu Desi yaitu anaknya tertular virus HIV. Mungkinkah itu bisa terjadi? Mungkin saja. Bila yang menyodomi Doni anaknya ibu Desi tersebut memiliki bawaan virus HIV akibat perilaku seks bebas dan berisiko, besar kemungkinan itu bisa menular ke Doni.

Mari ambil contoh kasus situasi di sebuah kota kecil di Lamongan, Jawa Timur. Sejak ditemukan 2 orang penderita penyakit HIV AIDS di tahun 2002, saat ini jumlah penderita yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia di Lamongan sudah berkembang menjadi 400 orang penderita. Dari jumlah penderita itu yang meninggal dunia sudah sebanyak 187 orang. Bahkan, penderitanya sekarang sudah merambah ke kalangan anak-anak dan remaja. [Sosial News]. Itu baru kota kecil Lamongan, belum kota dan desa di seluruh Indonesia lainnya. Yang diprediksi kecenderungannya meningkat pada tahun 2014. Tidak percaya? Ayo gali faktanya, begitu banyak tersedia informasi, manfaatkan akses internet untuk membuka mata dan hati.

|—– Pembahasan Quiz Kasus Sodomi Anak Selesai Sampai Di Sini —–|

.

Bagaimana Islam memandang perilaku homoseksual?

Islam telah mengatur bagaimana seharusnya manusia berhubungan seksual. Sebagaimana Islam mengharamkan perbuatan zina dan seluruh jalan yang membawa kepada perbuatan tersebut, maka begitu juga Islam mengharamkan hubungan seks yang tidak normal seperti hubungan sejenis. Perilaku menyimpang ini bertentangan dengan fitrah manusia yaitu laki-laki pasangannya adalah wanita. Selanjutnya perilaku ini bertentangan dengan prinsip hifzh al-nasl (menjaga keturunan). Sesuai Sunatullah yang berlaku secara umum dan sampai kapanpun, hubungan sejenis tidak akan bisa menghasilkan keturunan. Anehnya, ada seorang pegiat JIL yang mengaku Islam, Guntur Romli, mengatakan:



Ini penyesatan pemikiran, karena “kepunahan” jangan sempit mengaitkan dengan seluruh manusia di muka bumi, tapi tidak ada penerus generasi keluarga itulah kepunahan, tidak ada penerus anak sholeh penyelamat orang tuanya di akherat kelak.

Kisah kaum Nabi Luth bisa menjadi pelajaran bagi kita. Mereka bergelimang dalam kemungkaran, meninggalkan isteri-isterinya yang baik dan halal itu untuk menuruti syahwat yang menyimpang. Untuk itulah Nabi Luth mengatakan kepada mereka:

“Apakah patut kamu datangi orang-orang laki-laki dan kamu tinggalkan isteri-isteri kamu yang justru dijadikan oleh Tuhanmu untuk kamu? Bahkan kamu adalah kaum melewati batas.” [QS.As-Syu’ara’: 165-166]

Al-Qur’an mengisahkan peristiwa penyimpangan mereka itu dalam QS Hud: 77-81. Allah menyebut perbuatan homoseks sebagai “al-fahisyah” (kumpulan perbuatan kekejian), sehingga perilaku ini dihukumi Haram. Allah berfirman:

“Ingatlah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya, kalian telah melakukan al-fahisyah, yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam ini.‘” [QS. Al-Ankabut: 28]

Jadi, alangkah aneh, jika ada seorang yang mengaku Muslim, malah gencar mempromosikan perilaku homoseksual. Dan lebih konyol lagi jika usaha itu muncul dari lembaga pendidikan Islam yang menerbitkan buku “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Lebih gila lagi, ada juga pegiat JIL lainnya yang mengaku Islam, Ulil Abshar Abdalla, seakan-akan menantang tuhannya dengan mengatakan:


Padahal tipikal ucapan seperti itu adalah mengulang ucapan para jahiliyah, lihat QS.An-Naml: 71.

.
Kalau perilaku homoseksual itu menyimpang dari fitrah, mungkinkah bisa disembuhkan?

Insya Allah, BISA, karena perilaku seks manusia sebenarnya bisa dikendalikan. Kuncinya mau atau tidak berusaha untuk mengelola nafsu dengan baik.

Menangani secara khusus terhadap kasus homoseksual adalah bagian dari dakwah Islam yang harus dijalankan karena ini adalah perintah ajaran Islam. Allah telah berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [QS. An-Nahl: 125]

Ayat inilah jawaban bagi mereka yang mudah sekali bilang:
“Jangan terlalu sibuk mengurusi moral orang lain, urus saja moralmu sendiri”

Hmm… mereka lupa atau memang malas meng-kaji Al-Qur’an yang terdapat seruan di atas. Yang namanya kejahatan akibat penyimpangan itu efeknya tidak bersifat personal, tapi mempunyai efek domino yang lebih luas, yang bisa saja korbannya adalah orang baik-baik seperti contoh kasus keluarga ibu Desi. Jangan menunggu keluargamu yang baik-baik perilakunya itu menjadi korban kejahatan orang lain untuk bisa memahami ayat di atas.

Kembali ke soal penyembuhan perilaku homoseksual… Berdasarkan faktor penyebab munculnya perilaku homoseksual, penanganan terhadap mereka dibedakan dari yang karena faktor genetik, psikologis maupun kultural.

Bagi yang disebabkan oleh faktor genetik, perlu ada usaha-usaha medis berupa terapi hormon yang kontinyu dan sistematis dari ahlinya, sebagaimana tertulis dalam qaidah ushul fiqh bahwa bahaya (penyakit) itu harus dihilangkan (diobati).

Sedangkan bagi yang disebabkan karena faktor psikologis (korban perilaku sodomi) maupun kultural dapat disembuhkan dengan terus-menerus melakukan pendampingan terhadap mereka. Diberikan treatment yang terfokus pada modifikasi kognisi-behavioral (pikiran dan perilaku). Perlu ditumbuhkan dalam diri mereka perasaan bahwa mereka dalam kondisi sakit (kesadaran sakit) sehingga kemudian muncul dalam diri mereka motivasi sembuh yang kuat. Bukan memanjakan keinginannya / nafsunya. Selanjutnya mereka harus didampingi oleh psikolog maupun rohaniawan untuk memantau dan terus memberi motivasi sembuh. Mereka dibimbing untuk sadar akan hakekat perilaku mereka, dan secara gradual dilatih agar mampu memutus mata rantai antara syahwat dan aksi. Hindarkan mereka dari kontak sesama mereka yang akan berakibat pada munculnya kembali keinginan untuk berperilaku homoseksual.

Keinginan para pelaku homoseksual untuk melampiaskan nafsunya perlu disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan positif, seperti kajian Islam, forum diskusi, kegiatan olahraga, entrepreneurship dan lain-lain. Tentu saja aktivitas ini mendapat kontrol yang sistemik dan terpogram dalam satu paket dengan penanganan komprehensif terhadap kaum homoseksual. Kalau mereka punya akun socmed, sebaiknya unfollow akun-akun yang tidak tahu malu yang mempertontonkan kelamin.

Kebanyakan mereka yang pesimis untuk sembuh adalah karena masih MEMANJAKAN pemenuhan nafsunya. Untuk itu saya rekomendasikan Anda membaca artikel: Jadi Gay Itu Pilihan, Bukan Takdir! Lihatlah betapa mereka berhasil sembuh dan kembali ke fitrahnya.

.
Kaum homoseksual bilang: “Mencintai itu adalah hak asasi. Saya juga tak mau seperti ini, tapi Tuhan menciptakan saya berbeda”

Alhamdulillah, Anda tidak mau seperti itu.
Apakah Anda ingin mencari kebenaran yang datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Apakah Anda hanya ingin mencari pembenaran yang datangnya dari manusia?
Ketahuilah bahwa mencari kebenaran adalah sikap yang benar. Sedangkan upaya mencari pembenaran adalah sikap yang salah.

Mari kita sepakati bahwa jalan yang kita cari adalah jalan kebenaran dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan dari makluk-Nya. Satu-satunya Jalan Kebenaran dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah melalui Firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an yang diperjelas lagi aplikasinya dalam Al-Hadist. Bukti kebenaran itu datang dari Allah adalah adanya berbagai petunjuk kerusakan yang ditimbulkan oleh perilaku menyimpang tersebut.

Mari membuka diri, hati, pikiran dan sanubari agar hidayah Allah bisa datang. Bertahanlah dalam menguatkan iman, dan jangan memendam masalah sendirian. Allah tidak mungkin meninggalkan hambanya yang tengah berikhtiar.

Evaluasi kembali lingkungan pergaulanmu, apakah selama ini melenakan dan menjerumuskanmu.

Mari datangi acara-acara pengajian yang bisa menyejukan dan menembus ke relung jiwa dan nur Illahi yang ada pada diri kita masing-masing.

Ingat, umur kita yang singkat ini kelak di akherat nanti akan diminta pertanggungjawaban amal dan perbuatan selama hidup di dunia.

Sebagai penutup …

Semoga contoh-contoh kasus di atas bisa membuka mata hati kalian, wahai para pegiat / aktivis yang menumbuh-suburkan perilaku homoseksual di negeri ini. Prof.Dr.KH Adian Husaini, MA pernah mengatakan: Dosa Pemikiran itu tidak ringan, karena menyebarkan pemikiran yang salah juga berat dosanya, apalagi jika kemudian diikuti oleh banyak orang.

Mari bersama-sama memberikan penyadaran kepada mereka, menunjukkan jalan yang lurus, jalan kembali pada fitrahnya sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai dengan seruan-Nya. Itulah bentuk kasih sayang yang sebenarnya kepada mereka. Bukan sekedar membela hak-haknya namun menjerumuskan ke masa depan yang gelap, itu jahat sekali.

Islam tidak mengajarkan untuk berperilaku diskriminasi dalam hubungan antar manusia, termasuk kepada mereka yang LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Jangan kuatir.

Seorang muslim yang hanya mengecam atau menghukum atas tindakan kaum LGBT adalah kurang bijaksana, yang malah justru akan menjauhkan mereka dari seruan agama. Semakin banyak yang mengecam mereka, hanya akan membuat solidaritas diantara mereka semakin kuat, dan akan semakin sulit mereka untuk dapat disembuhkan.

Salam hangat tetap semangat,
Ayo berubah dan taubat.

Ya Allah, saksikanlah …!

Iwan Yuliyanto
06.12.2013

About these ads

26 Comments

  1. Link sumber berita untuk daftar kejadian jurnal di atas:

  2. Maxgrosir says:

    waduhhh ngeri sekali kalo kasus seperti itu, gan,

  3. debapirez says:

    JIL emang keblinger. apa aja mau dibebasin. yg ga dibebasin cuma 1: beda pemikiran dengan mereka. aneh….

  4. Ilham says:

    ini sangat sedih sebenernya. karena anak-anak dan orang dewasa itu sangat mebutuhkan konseling dan bimbingan serta dukungan supaya bisa menghilangkan traumanya.

    sebagai orangtua yang memiliki anak gay ini bisa dipandang sebagai pengingat kepada orangtua lain supaya lebih menyadari betapa pentingnya parenting dan kedekatan emosional dengan anak.

    saya pribadi lebih suka dengan pendekatan psikologis untuk menganalisa perilaku homoseksual (note: saya bukan psikolog ataupun pelajar psikologi). ada banyak faktor yang bisa menyebabkan homoseksualitas, orang normal juga bisa menyukai sesama jenisnya dalam kadar yang berbeda. semua itu saya rasa berhubungan dengan nilai kelayakan diri dan kecenderungan mengidolakan kualitas orang lain yang tidak dimiliki diri sendiri. jika kebutuhan emosional itu begitu mendasar (seperti maskulinitas/feminimitas, energi hidup, bakat, dsb) sementara dia nggak mampu menumbuhkan semua itu sendiri dalam dirinya, bisa mudah “jatuh cinta” dengan sesama jenisnya yang lebih tercukupi secara emosional.

    kondisi ini yang saya rasa harus dibina. karena kalo terus dibiarkan, kebingungan seksual seperti ini bisa menyebabkan stres, depresi, mental breakdown dan sebagainya.

    situasinya harus dijaga supaya nggak memburuk, harus disikapi, bukan dibiarkan saja. kemungkinan menikah dengan sesama jenis itu adalah pilihan yang sebenernya bisa dijauhkan atau bahkan dihilangkan kalau dibimbing dan didukung secara intensif dan dengan kasih sayang. tanpa bimbingan, menikah dengan lawan atau sesama jenis pun nggak bakal bebas masalah karena isu sebenernya gak diatasi.

    ini hanya opini. mudah2an berkenan dan mohon pencerahan jika kata2 saya keliru.

  5. Iya Mas Iwan… serinkali orang menjawab ‘takdir’ sebagai alasan untuk pembenaran….

  6. thetrueideas says:

    itukah hak asasi manusia yang katanya diperjuangkan???

  7. MasyaAlloh,
    saya merinding membaca jurnal pak Iwan kali ini, begitu dahsyat efek domino akibat al-fahisyah. Tidak hanya untuk pelaku dan korban tapi juga ancaman nyata buat masyarakat dan negara.

    Lalu dimana peran pemerintah untuk mengikis habis para penggiat upaya pemakluman LGBT? upaya untuk mencegah menularnya prilaku LGBT ini? mungkin bisa di share juga pak ulasan nya.

    Secara, beberapa kebijakan pemerintah untuk memberantas penyakit masyarakat (terutama yang berkaitan dengan penyimpangan seksual) tidaklah tepat. termutakhir ada program gagal untuk mencagah HIV menular, PKN.

    • Ini bukti bahwa firman Allah terbukti kebenarannya setelah melihat berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh kaum homoseksual.

      Masalah LGBT ini seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah karena ini nyata-nyata penyakit sosial. Hanya karena informasi yang manipulatif dari JIL-ers lah yang mengaburkan fakta kerusakan yang ditimbulkannya. Oleh karena itu tugas kita adalah melakukan kritik terus menerus agar ideologi JIL hanya berkembang di lingkungan fauna saja.

      Kembali ke soal LGBT, kalo pemerintah tidak peduli, ya tugas kita sebagai masyarakat untuk membantu penyadarannya sesuai nafas QS. An-Nahl: 125

      Sekedar informasi, di India perilaku homoseksual dianggap sebagai bentuk kriminal sehingga harus dihukum pidana:
      India Court Homosexuality Ruling: Law Making Gay Sex Crime Will Remain In Effect [Huffington Post] Pemerintah India terpaksa mengambil kebijakan seperti itu karena perilaku mereka cukup meresahkan.
      Kita mungkin tidak perlu seperti itu, cukup awali dengan dakwah. Tapi kalau sudah benar-benar menjadi sampah masyarakat ya harus diproses secara hukum.

  8. Selingan:
    - Bila Sodomi Menular [Tempo]
    - Jakarta Darurat Gay [Republika]
    - Mengerikan Maho di mana-mana bahkan di komik anak-anak [un2kmu]
    - Proses Penularan Homoseks Bisa Hitungan Menit [Hidayatullah]
    - Dead Gay Porn Stars Memorial [Youtube] | Mereka semua gagah dan macho, tapi kebanyakan diantaranya kalah sama HIV.

  9. nurme says:

    Terimakasih Mas, penjelasannya sudah sangat membantu saya untuk kelak suatu saat menjelaskan kembali kenapa saya takut dan khawatir dengan Homoseksual atau Lesbian karena memang mengerikan.

    Semua memang kembali kepada agama dan penanaman sikap kepada anak sejak dini. Memberi pengetahuan mana yang baik dan mana yang salah bukan cara menggurui tapi diskusi.

    Sepertinya cara yang Mas Iwan lakukan untuk memberitahu pada anak akan saya lakukan pada keponakan-keponakan ataupun pada anak saya kelak. Insya Allah
    Thanks for sharing Mas. Jazakallah Khairan Katsiran

    • Perilaku homoseksual memang perlu dihindari, namun gak perlu jadi homophobic atau takut pada mereka yang berperilaku homoseksual.
      Berteman dengan mereka, dekati mereka dan ajak baik-baik untuk bisa kembali ke jalan yang lurus.
      Ajakan kembali ke jalan yang lurus ini agar mereka tidak getol memperbanyak “umat” nya dengan cara mempengaruhi orang normal.

    • nurme says:

      Alhamdulillah sudah dilakukan Mas. Ada teman yang mengaku pada saya bahwa dia seperti itu. Saya tidak menyuruh tapi yang saya lakukana adalah mengajak diskusi dan memberi contoh bahwa dengan ibadah hidup lebih tenang.

      Memang saya pun sempat ikut pusing karena musti tanya jawab. Nah yang saya dapat dari Mas ini untuk memperkuat diskusi saya dengan dia jika suatu saat kami ketemu.

  10. abi_gilang says:

    Ternyata mencari KEBENARAN tidak sama dengan mencari PEMBENARAN. Postingan yang kembali membuat saya merenung tentang masa depan generasi kita.

  11. RY says:

    dan memang pelakunya kadang adalah orang-orang terdekat ya Pak. Miris banget ….. lingkungan dimana kita tinggal ternyata tidak akan pernah nyaman, setidaknya kita harus waspada.

    Trims sharenya Pak :)

  12. kasamago says:

    Miris bgt, smg menjadi perhatian serius negara n masyarakat. jgn sampe sodom n gomorah jilid 2 terjadi di bumi pertiwi.

  13. Dzulfikar says:

    org JIL cuma asal jeplak. tp anehnya byk yg suka dgn gaya mereka. terutama anak muda yg masih labil.

  14. Jadi pengen nimpukin Ulil pake batu *maaf

  15. Ada teman kantor lain divisi seperti ini, sudah diajak bincang baik2, jawabannya selalu nyeleneh…Bahkan alasan yang paling sering dikemukakan, “aku juga shalat, apa perlu aku shalat pakai mukena?”
    Jadi akhirnya saya sedikit konflik dengan boss divisinya.

    • Saya turut sedih mendengarnya.
      Memang tantangan paling sulit adalah memisahkan yang bersangkutan dari lingkungannya (penyuka sesama jenis). Komunitas lingkungan mereka seperti itu saling menguatkan. Dan informasi-informasi yang menyesatkan itu membuat makin terjerumus, tidak bisa lepas / taubat.
      Perlu pendekatan psikologis untuk merubahnya dan bacaan-bacaan pertobatan gay/lesbian.

  16. jampang says:

    itu omongan JIL asal nyerocos aje… ngomong nggak pake logika…

    • Karena mereka kaum JIL-ers itu kalo ngomong gak pake akal / logika, oleh karena itu tugas kita adalah melakukan kritik terus menerus agar ideologi JIL hanya berkembang di lingkungan fauna saja.

  17. Dyah Sujiati says:

    Yang paling ironi adalah mereka yang mempromosikan justru orang yang -mengaku- islam

    • Saya tidak bisa membayangkan bagaimana pertanggung-jawabannya kelak di akherat nanti setelah melalui tulisannya yang jahil itu menjerumuskan jutaan orang, dan secara tidak langsung juga mengakibatkan jatuhnya korban-korban yang masih innocent. #Bahaya JIL!

      Solusi buat mereka yang ngaku pembela hak asasi ada di bagian paragraf-paragraf akhir.
      Semoga mereka taubat dan bersama-sama bahu-membahu memberikan penyadaran kepada para kaum homoseksual untuk kembali kepada fitrahnya, selain juga melindungi hak-haknya sebagai warga negara Indonesia.

    • iya, Pak.
      klo ada amal jariyah, yang ini mah dosa jariyah. -___-”

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 859 other followers

%d bloggers like this: