Home » Ghazwul Fikri » Sunnah Rasul di Malam Jumat = ML ?

Sunnah Rasul di Malam Jumat = ML ?

Perlindungan Hak Cipta

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 859 other followers

–: Edisi: Berdusta Atas Nama Rasulullah [#2]
–: Tema: Hadits Palsu Malam Jum’at Bagi Suami Istri

.
Bismillah…

Sudah menjadi kebiasaan kalau hari kamis malam (atau malam Jumat), banyak tersebar kicauan atau status di social media yang isinya berkisar pada perkataan “Sunnah Rasul”. Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari di dunia nyata, istilah tersebut juga sering terdengar. Menurut mereka, istilah “Sunnah Rasul” yang populer di malam Jum’at adalah penghalusan dari hubungan suami istri atau ML. Coba lihat sejenak hasil penelusuran super singkat malam ini, bagaimana ribuan kicauan serasa berlomba-lomba menyebut istilah “Sunnah Rasul”.

Sunnah Rasul

Bagi mereka yang muslim dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi karena ingin menutupi sesuatu yang dianggap vulgar / tabu baginya bila disampaikan dalam ruang publik. Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks belaka.

Sedangkan bagi mereka yang berhati fasiq dijangkiti penyakit islamophobia dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi hanya ingin mengolok-olok, karena baginya ajaran Islam identik dengan urusan sex atau selangkangan. Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kawin dan pedofilia. (Insya Allah, soal ini nanti akan saya bahas)

Dari mana asalnya muncul istilah “Sunnah Rasul” yang di-identikkan dengan aktivitas ML?

Semuanya berawal dari hadits ini:
“Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”

Dalam hadits yang lain ada disebutkan sama dengan membunuh 1000, ada juga yang menyebut 7000 Yahudi.

Sebenarnya bagaimana derajat hadits tersebut, apakah shahih, dhaif atau palsu?

Mari kita simak sejenak tayangan singkat “Hadits – Hadits Palsu” di RCTI berikut ini dengan nara sumber Prof.DR.KH. Ali Mustafa Yaqub, MA hafizhahullah.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa hadits di atas tidak akan ditemukan dalam kitab manapun, baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih. Kalimat tersebut tidak mempunyai sanad / bersambung ke sahabat, apalagi ke Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits “Sunnah Rasul” di atas adalah sama sekali bukan hadits, itu hadits PALSU yang telah dikarang oleh orang iseng, orang tidak jelas, dan tidak bertanggung-jawab yang mengatasnamakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan kita tidak akan menemukan satu-pun hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at.

Kemudian lanjutan penelusuran singkat malam ini di “timeline pencarian”, pandangan mata saya tertarik pada sebuah kicauan yang berbunyi:

sunnah rasul
Pertanyaan ini mungkin mewakili ke-awam-an dalam masyarakat kita.
Hukum pernikahan dalam Islam itu bisa Wajib, bisa Sunnah, bahkan bisa Haram, bisa Makruh, atau bisa Mubah; yang semuanya itu tergantung kondisi / latar belakang dalam pernikahan tersebut. (Insya Allah, akan saya bahas secara terpisah dalam jurnal berikutnya). Sedangkan dalam soal berhubungan badan (jima’), yang SALAH adalah pasangan suami istri tersebut meng-khusus-kan malam Juma’t untuk berhubungan badan dengan niat untuk mengamalkan hadits Palsu di atas dan “bersemangat membunuhi ribuan Yahudi” seperti dalam postingan yang menyesatkan di sini: [Kompasiana] Saatnya Membunuh Yahudi Malam Ini. Bagi yang punya akun Kompasiana, silakan menasehati pemilik jurnal tersebut.

Kalau mau berhubungan badan dengan pasangan sah-mu, jangan meng-khusus-kan hari-hari, kemudian lebih baik itu diniatkan sebagai ibadah sehingga diawali dan diakhiri dengan do’a. Berhubungan badan dengan pasangan sah adalah merupakan ibadah seperti sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” [HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah].

Seperti yang pernah saya jelaskan di edisi pertama dalam jurnal sebelumnya, di Indonesia sangat subur akan hadits-hadits palsu dan dhaif (lemah) yang beredar dan bermaksud untuk menyesatkan dan membodoh-bodohi umat. Oleh karena itu berhati-hatilah, kawan!

Mari STOP mengatakan “Sunnah Rasul” sebagai pengganti dari istilah berhubungan suami istri alias ML ! Karena itu dosa besar.
Bahkan meskipun itu ucapan dalam bentuk “kode”, karena itu sama dengan menyuburkan kedustaan. Dikatakan berdusta karena mengatakan sebuah hadits padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan apa-apa terhadap yang dikatakan itu.
“Kode” itu misalnya begini:
Papa: “Mah, ntar malam kita berburu dan membunuhi Yahudi yuk!”
Mama: “Maaf, pah, Yahudi nya sudah habis” *kode kalau si mama lagi datang bulan / pms*

Pasutri (pasangan suami istri) terpaksa menggunakan bahasa sandi tersebut agar komunikasinya sulit dipahami anaknya di dalam rumah. Bercanda seperti ini hanya akan menumbuh-suburkan kedustaan hadits tersebut. Itupun akan dituntut di akherat kelak. Maka silakan cari kode atau bahan candaan yang lebih bermutu.

Lantas, apa sih sebenarnya Sunnah Rasul itu?

Definisi yang benar tentang Sunnah Rasul dalam Islam mengacu kepada sikap, perilaku / tindakan, ucapan dan cara Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani hidupnya. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran. Narasi atau informasi yang disampaikan oleh para sahabat tentang sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah disebut sebagai hadits. Sedangkan Sunnah yang diperintahkan oleh Allah disebut Sunnatullah.

Keseharian dan perilaku Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang yang harus diikuti dan diteladani. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” [QS Al Ahzab: 21].

Bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah KEWAJIBAN yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an:
“Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah.” [Q.S. Al-Hasyr: 7]

Sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya; jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
“Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah.” [Q.S. An-Nisaa': 80]

Apakah ada Sunnah Rasul yang ada keterkaitannya dengan aktivitas pada hari Jumat (atau malam Jum’at)?

Ada. Hadits di bawah ini shahih.

  1. Memperbanyak membaca shalawat. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَىَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

    “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum’at dan malam Jum’at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al Baihaqi)

  2. Membaca Al-Qur’an khususnya surat Al Kahfi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
    مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi)

  3. Memperbanyak do’a setelah shalat Ashar.
    عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

    Dari Jabir bin Abdillah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari Jum’at adalah dua belas jam. Di dalamnya terdapat satu waktu di mana tidaklah seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu, melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah ia pada saat-saat terakhir setelah shalat Ashar.” [HR. An-Nasa’i nomor 1388]

  4. Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam Sholat Subuh. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at “Alam Tanzil …” (surat As Sajdah) pada raka’at pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro” (surat Al Insan) pada raka’at kedua.” (HR. Muslim)
    Dan dianjurkan ketika di rakaat pertama sampai pada bacaan ayat ke 15, imam sujud diikuti oleh makmum. Setelah sujud, imam berdiri kembali membaca ayat selanjutanya sampai selesai.
  5. Shalat Jum’at, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
    “Salat Jumat itu wajib atas tiap muslim dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR.Abu Daud dan Al Hakim)

Jadi, kalau bicara Sunnah Rasul di hari Jumat dan malam Jum’at, ya silakan kaitkan dengan LIMA aktivitas yang disebutkan di atas. Jangan dikaitkan dengan nge-seks atau ML. Bagi pasutri, kalau mau ML bisa kapan saja, tidak ada hari istimewa.

Mari menjaga, memelihara dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang selama ini menjadi hukum syariat kedua setelah Al-Qur’an.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
12.09.2013

About these ads

136 Comments

  1. Pak Iwan, nulis tentang masjid berisik dong, bagaimana sebaiknya supaya tidak terlalu mengganggu dan lebih sesuai ajaran Islam

    • Bitch, The says:

      Mas Teguh, kamu konsisten sekali. cium nih ya. cium nih!

    • Assalamulaiküm waroh matulloh hiwabaro khatuh
      Pak Ustaz saya maü taü tentang kisah pasangan suami istri
      Hak untuk para Lélaki
      Yg seharusnya lelaki tdk boléh Kasar dlam ucpan lisan
      Kbnykn léláki jaman sekarg kan klü ngomong kasar koar2 bgtu pak u as taz
      Taü sndri kilü cewek Kán maünya lémbut dlm ucpán

  2. Hadist ini memang sangat populer di kaum awam

  3. KHOIR says:

    Izin mas,,,,,
    Lau bisa Ayat tau hadist yang bersangkutan di tampilakan mas,,,,
    jadi pembaca dapat lebih percaya dan bisa langsung melihat buktinya a,,,
    karena sekarang sudah terlalu banyak orang yang pintar dan memahami agama, tetapi yang dilakukannya malah pintar2 an dan merasa pendapatnya paling benar,,,,
    terutama didunia maya,,,,,

    thank’s

  4. Malam ini Malam Jum’at, minggu lalu pas ada yang nyeletuk tentang Sunnah di Malam Jumat, aku kan ga paham, terus nanya, malah dibilang “Anak kecil ga perlu tau”.. Dan Malam Jum’at ini aku menemukan Sunnah apa itu. Ya ngaji, ya sholawatan, ya berdoa . Ijin copas ya Pak :)

  5. slamet says:

    distorsi terhadap ajaran agama ini akan, telah dan terus berusaha dilakukan oleh kaum kafir sekuler untuk membelokkan serta menghancurkan Islam….
    Waspadalah…. waspadalah….

  6. Gubs says:

    Dengan menyuruh anak2 untuk diam itu disebut pendidikan? Pendidikan itu lebih kepada dapat membuat anak2 memahami tindakannya sendiri dan tanpa perlu disuruh apalagi dibentak.

    • Mungkin komentar mas Gubs ini untuk mas Aditia Putra Kurniawan, karena tidak ada hubungannya dengan jurnal di atas. Biar kelihatan runut, silakan klik Reply pada lingkungan komentar yang terkait. Silakan diulangi lagi, mas Gubs :)

  7. anggit says:

    brarti menggunakan teknologi untuk berdakwah… pake laptop, internet, ruang belajar, pake meja, kursi pulpen, tab, liat facebook kajian islam… itu bidah…. karna ga ada dasarnya….

    • Perkataanmu persis sekali dengan orang-orang sekuler yang asbun bicara soal akidah. Sarana dan prasarana dalam berdakwah gak ada hubungannya dengan bid’ah. Jagalah hati sebelum berkomentar ya, bro :)

  8. mas roy says:

    Ati2 dengan komen nya bung aditia p.k.
    Klo pendapat Anda yg mengatakan perbuatan tersebut (klo bukan disebut ibadah) bukan bid’ah, tolong tunjukkan 1 saja dasar hukumnya. Jgn ngomong koar2 tp tidak berdasar n hy opini Anda saja krn Anda mengamalkannya.
    #sepakat dg ust. Iwan

  9. SyamsQ says:

    Terima Kasih. Izin Copy biar semua orang tahu.

  10. agung murdianto says:

    Terima Kasih atas penjelasan tentang agama mohon maaf atas segala ketidak tahuan……………….. Allohuakbar.

  11. Ardyaningsih says:

    terima kasih untuk infonya, menambah keilmuan saya tentang agama.

  12. regata_ says:

    Kang mau tanya perihal bid’ah tadi
    Membaca ayat Al Quran bersama-sama itu boleh gk sih? Setahuku yasinan pada mlm jum’at itu bkn pemgkhususan tapi penjadwalan, makasih kang.

  13. arislan says:

    Afwan, apakah semua bid’ah itu sesat? Tidak adakah bid’ah hasanah? Bukankah arti bid’ah secara bahasa bukan hanya sesat? Tapi juga bs diartikan menyimpang? Sedangkan kalau menyimpang tinggal diluruskan saja, yg baiknya diteruskan, yg salahnya dibenarkan… :)

    • heri says:

      tambahan gan Apa pun yang terjadi di antara mereka berdua, apalagi urusan jima’ (senggama) misalnya, dilarang untuk diceritakan kepada orang lain. Menceritakan rahasia semacam itu mencerminkan miskinnya kehormatan diri dan tidak adanya rasa malu, selain memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, ajaran Islam melarangnya dengan keras.

  14. Antoni Rusdy says:

    Alhamdulillah…..
    Sebuah pencerahan Hati dan Fikiran.
    Ijin Coppas Ust Iwan…..Semoga menjadikan Syiar..
    Amiiiiiiiinnn..

  15. Sohib says:

    Astaghfiruloh…
    Subhanalloh hatur nuhun atas penjelsannya.

  16. Ryan says:

    wah… salah kaprah ya mas.
    dulu pernah belanja di salah satu mini market, dia memang menyediakan kondom. Dan pas kebetulan saat itu malam Jum’at, banyak yang membeli karena malam itu malam Sunnah Rasul. Sayang sekali memang mendengarnya bahwa malam itu juga dimanfaatkan oleh para remaja untuk melakukan. membaca tulisan mas, saya jadi lebih terbuka lagi mas. moga semua bisa mulai memahami makna sebenarnya.

  17. lukman maulana says:

    Pa,apakah benar melaksanakan maulid nabi (muludan),sholawat nariyah,dan tahlilan itu termasuk bid’ah yg tidak boleh kita lakukan..?

    • Sebelumnya pahami dulu apa yg dimaksud dg bid’ah, sehingga ketika ada sahabatmu yang memberikan masukan atau mengingatkan tentang amalan bid’ah, mas Lukman Maulana gak gampang marah-marah.

      Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127)

      Juga ada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      “Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)

      Kemudian ada kaidah ushul fiqh yang berbunyi:
      “Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”

      Menjawab pertanyaanmu, jumhur ulama berpendapat bahwa perayaan maulid nabi, sholawat nariyah, dan tahlilan adalah bid’ah. Coba carilah dalil yang memerintahkan adanya kegiatan ibadah-ibadah tersebut, sehingga dihukumi tidak bid’ah.

    • lukman maulana says:

      Berarti ibadah-ibadah itu masih boleh di laksanakan atau harus di tinggalkan ??

      Masalahnya di kampung saya para ustad dan kiyai masih melaksanakan ibadah-ibadah tersebut…

    • Kalau peringatan maulid sekedar refleksi dan tausiyah ya gak papa. Butuh kelenturan sikap dalam berdakwah di tengah masyarakat. Namun kalau berlebihan seperti sekaten, atau memperingatinya dengan menghambur-hamburkan uang ya gak boleh.

      Begitu juga dengan tahlilan, yasinan, dan shalawatan nariyah. Kelenturan sikap itu seperti apa?

      Contohnya begini:
      Tradisi tahlilan (yasinan) hingga hari ini masih berlaku di masyarakat kita, padahal Rasulullah tidak pernah mencontohkan yasinan tiap malam jum’at. Lantas jika diundang apakah menolak?
      Ya jangan doong, silakan meniatkan datang untuk silaturahim. Karena di sinilah pentingnya peran kita menjadi insan yg memiliki pengaruh di lingkungan masyarakat, memiliki kemampuan komunikasi dan bahasa yg baik, tidak ujug-ujug bilang “Ini bid’ah, dholalah, bubar!”
      Walaupun hal itu memang bid’ah karena tak pernah dicontohkan Rasulullah.
      Lantas bagaimana mengubah kebiasaan yg keliru dgn cara yg bijak?
      Pakai strategi … sebelum acara tahlilan (yasinan) tersebut dimulai, kita duluan yg ambil alih, membuka acara, dan secara bertahap ‘membuat acara di dalam acara’. Supaya masyarakat tidak shock dan jadi ilfil sama kita, kitanya mesti bersabar menuntun masyarakat agar bisa lepas dari bid’ah dan kembali ke jalur yang sesuai dengan syari’at. Misalnya dimulai dari Pekan Pertama, sampaikan: “Hari ini, sebelum yasinan, kita mulai dengan taujih/tausiyah”.
      Pekan Kedua: “Supaya pengajian kita lebih variatif dan tidak monoton, hari ini, baca yasinnya bergantian, tidak berjama’ah ya ibu-ibu”.
      Pekan Ketiga: “Bagaimana kalau hari ini kita baca surah al-Kahfi? Sesuai dgn sabda Rasulullah … dan seterusnya sampai dgn kebiasaan yg keliru tsb benar2 hilang dari masyarakat dan berganti dgn kebiasaan yg sesuai tuntunan syari’at.
      Sekali lagi kuncinya: kelenturan sikap.

    • selama itu ibadah diluar syahadat, sholat, puasa, zakat, haji, dll itu boleh2 aja kok.. yasinan, skaten, maulidan, itu bukan bid’ah… yang bid’ah itu kalo sholat wajib sujudnya 3x dalam 1 roka’at (bukan sujud sahwi). karena itu adalah budaya, yang dimasukkan ajaran2 islam didalamnya. skaten itu serapan bahasa dari syahadat tain (2 kalimat syahadat) itu termasuk salah satu cara dalam menyebarkan agama islam di nusantara ini. kalo ga dengan begitu, islam di nusantara ini ga bakalan bisa seberkembangnya seperti sekarang ini… tahilan itu juga boleh2 aja kok… mendoakan orang yang dah meninggal juga gpp kok… malah selain mendo’akan, kita juga dapet kebaikan dari bergaul… yasinan itu juga gpp kok, ga bid’ah… sholawatan bersama itu juga gpp ga bid’ah… selama itu hubungannya dengan manusia sekitar, itu ga bid’ah… kalo yang langsung kepda Allah, itu baru bid’ah… karena tahlilan, yasinan, kendurenan, skaten, sholawatan itu bukan ibadah… yang dimaksud ibadah itu seperti syahadat, sholat, puasa, zakat, haji,…

  18. ijin copas bung Iwan…nice inpoh

  19. Abdul Basith says:

    mas Iwan kalau hukum dari kegiatan sholat jum’at di area sekolahan. dan jamaahnya pun dari anak2 sekolah. lah anak2 sekolah kan biasanya suka rame mskipun sdah di tegur berulang kali. nah apa hukum sholat jum’at itu tadi ya mas? Mohon pencerahannya

    • Mas Abdul Basith, ya namanya juga anak-anak kalo bertemu dengan komunitas / sebayanya, biasanya mereka tidak bisa menahan diri untuk heboh, dan ini sepertinya ada berlaku di mana-mana, termasuk di tempat saya.
      Namun yang perlu diingat adalah ada sebuah hadits:
      “Dari Abu Hurairah, bahwasannya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika engkau berkata kepada kawanmu “diamlah!”, pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah mengatakan perkataan sia-sia.” [HR Bukhari, no. 934; Muslim, no. 851].

      Maksud ‘sia-sia’ dalam hadits tersebut adalah tidak mendapatkan keutamaan dan keberkahan Jum’at pada hari itu.

      Bila semua orang mengerti dan faham dengan petunjuk ini, saya yakin dan percaya bahwa menjaga agar anak-anak tidak berisik adalah tanggung jawab bersama agar ketenangan, kenyamanan dan kekhusyukan Jum’at bisa terjaga. Oleh karena itu, mereka harus diberi pengertian oleh orang tuanya dari rumah, oleh gurunya saat pelajaran akhlak dan budi pekerti. Orang tua yang bijak tentu tidak akan membiarkan orang tua lainnya hilang pahalanya gara-gara menegur anak-anak saat khatib naik mimbar atau sholat Jum’at.

    • untuk pendidikan anak, gpp deh sia2 tapi sang anak jadi ga rame lagi waktu jum’atan… dari pada ga sia2, tapi sang anak terus2an rame ketika jum’atan…^_^

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 859 other followers

%d bloggers like this: